Senin, April 12, 2021

Makna Black Lives Matter: Sulitnya Menumpas Systemic Racism

Pasang Surut Kerja Sama IJEPA

Suatu negara harus mempunyai penghasilan dan tabungan yang besar untuk menunjang perekonomian negaranya. Sebuah investasi suatu negara bergantung pada besarnya tabungan negara itu sendiri,...

RUU Omnibus Law: Paradigma Kuno dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Pemerintah Republik Indonesia sedang berupaya meningkatkan iklim investasi melalui konsep Omnibus Law yang terdiri dari Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja, Pemberdayaan UMKM, serta Perpajakan. RUU tersebut...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Perilaku dan Kebijakan Publik

Era dilematis bahkan trilematis seperti saat ini pemerintah akan selalu dihadapkan dengan kompleksitas tinggi dan perubahan masyarakat yang sangat cepat, sayangnya produk kebijakan publik...
Lula Lasminingrat
Asisten Peneliti di Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dan Mahasiswa Hubungan Internasional di UPN "Veteran" Jakarta

Kematian George Floyd pada 25 Mei 2020 lalu dilihat hanya sebagai tip of the iceberg permasalahan rasisme sistemik yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-harinya. Penulis menilai kasus rasisme yang terjadi tidak hanya di AS sangat sulit dihilangkan karena bersifat sistemik atau mengakar (systemic racism).

Systemic Racism dan Cultural Appropriation

Dikutip dari usatoday.com, Presiden NAACP, Derrick Johnson mendefinisikan systemic racism sebagai struktur dan sistem yang memiliki prosedur merugikan bagi African-American. Sedangkan Glenn Harris (Presiden dari Race Forward) mendefinisikannya sebagai proses white supremacy yang menyebabkan disparitas atau kesenjangan di sektor kesejahteraan, sistem peradilan, pekerjaan, perumahan, layanan kesehatan, politik, serta pendidikan.

Komunitas kulit hitam (black community) selama ini telah mendapatkan sejumlah perlakuan rasis dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan rasisme ini juga melibatkan sisi budaya atau kultur dari black community tersebut.

Kultur ini seringkali disalahgunakan oleh orang non-black untuk alasan estetika semata sehingga kerap kali menimbulkan kontroversi cultural appropriation. Dilansir dari medium.com, cultural appropriation adalah kegiatan mengambil kekayaan intelektual, pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, atau artefak dari budaya orang lain tanpa izin.

Cultural appropriation ini dapat dilihat ketika orang non-black menggunakan gaya rambut Bantu knots, afro, atau cornrow untuk mendapatkan estetika yang mereka inginkan. Sikap lainnya adalah penggunaan istilah nigger/nigga (n-word) oleh orang non-black kepada orang-orang kulit hitam.

Kata n-word merupakan kata sensitif yang memiliki sisi historis dari penindasan orang kulit hitam sejak masa perbudakan. Kata n-word hanya boleh digunakan antar sesama orang kulit hitam sehingga jika ada orang non-black yang menggunakannya, maka hal tersebut termasuk sikap rasisme dan cultural appropriation.

Ironinya adalah ketika orang kulit hitam menggunakan rambut naturalnya, mereka mendapat cemooh dari masyarakat karena dianggap aneh bahkan tidak professional dalam penampilan di lingkungan pekerjaan. Hal inilah yang membuat mereka seringkali menggunakan rambut palsu/wig untuk menutupi rambut asli mereka. Sedangkan jika influencer yang memakai gaya dari budaya tradisional mereka akan dianggap modern, edgy, serta trendi.

Beberapa hal lainnya yang menjadi sorotan penulis adalah sikap anti-rasis yang performatif. Sikap anti-rasis yang performatif ini diartikan ketika sejumlah pihak mengakui anti terhadap rasisme namun hanya melakukannya disaat yang tepat atau ketika mendapat tekanan. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku menyentuh rambut orang kulit hitam dengan atau tanpa seizinnya karena alasan keindahan, keingintahuan ataupun apresiasi semata.

Black Lives Matter dan Kekerasan Polisi

Black Lives Matter atau BLM sudah ada jauh sebelum kasus kematian George Floyd akibat kekerasan polisi (police brutality). Dilansir dari blacklivesmatter.com, Black Lives Matter hadir sebagai respon atas pembunuhan Trayvon Martin di tahun 2013 yang bertujuan untuk menghapuskan supremasi kulit putih serta membangun kekuatan lokal untuk menumpas kekerasan kepada black community yang dilakukan oleh negara atau oknum lainnya.

Penulis berpendapat bahwa gerakan BLM merupakan suatu gebrakan besar yang didasari atas kekecewaan komunitas kulit hitam akan ketidakadilan sikap yang diterimanya selama bertahun-tahun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa adanya kekerasan polisi terhadap komunitas kulit hitam di AS.

Memang, fakta kekerasan oleh institusi kepolisian tidak bisa digeneralisasikan secara garis besar namun terkotak pada ‘oknum’. Namun, penulis menyoroti penumpasan kekerasan kepolisian ini erat kaitannya dengan suburnya rasisme di AS itu sendiri. Hal ini disebabkan karena sikap rasisme itu sudah mengakar kuat atau tertancap dalam sistem sosial masyarakat sehingga sulit dihilangkan. Bahkan, rasisme sudah menyebar ke aspek kehidupan lainnya dalam masyarakat seperti standar kecantikan ataupun pilihan politik seseorang.

Fakta lainnya yang disoroti penulis adalah sikap performatif beberapa oknum akan anti-rasisme. Sikap performatif ini dapat dilihat dalam kasus George Floyd, yaitu ketika brand-brand ternama memposting sejumlah dukungan kepada para demonstran atau black community, namun dalam kegiatan sehari-harinya tidak mencerminkan sikap anti-rasis atau keberagaman (diversity). Hal ini umumnya dilakukan karena tekanan dari publik ataupun demi keuntungan semata agar brandingnya tidak tercoreng.

Menumpas Rasisme

Menumpas rasisme sistemik tidak dapat terjadi dalam satu malam. Menumpas sikap rasis membutuhkan waktu lama dan langkah yang konsisten. Hal ini disebabkan karena sikap rasisme sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat hingga merambat ke lembaga vital milik pemerintah. Oleh karena itu, peran aktif menumpas rasisme harus dimulai dari tiap individu.

Ketika berbicara tentang penumpasan rasisme, poin pentingnya terletak pada edukasi dan tekanan kepada pemerintah. Pertama, adanya self-edukasi, edukasi terhadap diri sendiri tentang sejarah penindasan yang diterima oleh komunitas kulit hitam sangat penting untuk memahami sensitivitas permasalahan rasisme.

Edukasi terhadap diri sendiri dapat berupa pemahaman dari sisi historis, budaya, hingga sisi kehidupan sosial dari komunitas kulit hitam itu sendiri agar dapat menentukan kebijaksanaan sikap yang harus diambil.

Kedua, tekanan kepada pemerintah dan lembaga terkait. Masyarakat memegang peran penting dalam menekan pemerintah mengeluarkan regulasi terkait dalam menumpas rasisme, terutama kepada lembaga yang terlibat terutama kepolisian.

Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan donasi ke sejumlah organisasi atau LSM terkait serta penandatanganan petisi yang tepat sasaran turut membantu menekan pemerintah untuk terlibat dalam penyelesaian permasalahan ini.

Pada akhirnya, penumpasan rasisme membutuhkan proses yang melibatkan sinergi semua pihak. Selama proses itu berlangsung tentunya perubahan mendasar harus dilakukan pada diri sendiri melalui edukasi

Lula Lasminingrat
Asisten Peneliti di Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dan Mahasiswa Hubungan Internasional di UPN "Veteran" Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.