Jumat, Februari 26, 2021

Makna Black Lives Matter: Sulitnya Menumpas Systemic Racism

MONOPOLI DAN ETIKA PASAR BEBAS

Pengertian pasar Monopoli Pasar monopoli merupakan suatu bentuk pasar dimana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar, memiliki produk barang atau jasa yang dibutuhkan oleh...

Kebangkitan Nasional, Momen Healing Process

Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati pada tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Tanggal tersebut menjadi Hari Kebangkitan Nasional ditandai dengan berdirinya organisasi “Boedi Oetomo”, tepatnya...

Setelah Lombok Diguncang Gempa, Lalu Apa?

Setelah diguncang gempa 6,5 Skala Richter pada Minggu (29/7/2018) dan gempa utama berkekuatan 7 SR sepekan berikutnya (6/8/2018), saudara-saudara kita di Lombok tampaknya harus...

Politisasi Bencana

Sungguh, tak ada rasa empati pada korban bencana yang menimpa saudara kita di Nusa Tenggara Barat (NTB). Rival politik Jokowi menuding bencana itu akibat...
Lula Lasminingrat
Asisten Peneliti di Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dan Mahasiswa Hubungan Internasional di UPN "Veteran" Jakarta

Kematian George Floyd pada 25 Mei 2020 lalu dilihat hanya sebagai tip of the iceberg permasalahan rasisme sistemik yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-harinya. Penulis menilai kasus rasisme yang terjadi tidak hanya di AS sangat sulit dihilangkan karena bersifat sistemik atau mengakar (systemic racism).

Systemic Racism dan Cultural Appropriation

Dikutip dari usatoday.com, Presiden NAACP, Derrick Johnson mendefinisikan systemic racism sebagai struktur dan sistem yang memiliki prosedur merugikan bagi African-American. Sedangkan Glenn Harris (Presiden dari Race Forward) mendefinisikannya sebagai proses white supremacy yang menyebabkan disparitas atau kesenjangan di sektor kesejahteraan, sistem peradilan, pekerjaan, perumahan, layanan kesehatan, politik, serta pendidikan.

Komunitas kulit hitam (black community) selama ini telah mendapatkan sejumlah perlakuan rasis dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan rasisme ini juga melibatkan sisi budaya atau kultur dari black community tersebut.

Kultur ini seringkali disalahgunakan oleh orang non-black untuk alasan estetika semata sehingga kerap kali menimbulkan kontroversi cultural appropriation. Dilansir dari medium.com, cultural appropriation adalah kegiatan mengambil kekayaan intelektual, pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, atau artefak dari budaya orang lain tanpa izin.

Cultural appropriation ini dapat dilihat ketika orang non-black menggunakan gaya rambut Bantu knots, afro, atau cornrow untuk mendapatkan estetika yang mereka inginkan. Sikap lainnya adalah penggunaan istilah nigger/nigga (n-word) oleh orang non-black kepada orang-orang kulit hitam.

Kata n-word merupakan kata sensitif yang memiliki sisi historis dari penindasan orang kulit hitam sejak masa perbudakan. Kata n-word hanya boleh digunakan antar sesama orang kulit hitam sehingga jika ada orang non-black yang menggunakannya, maka hal tersebut termasuk sikap rasisme dan cultural appropriation.

Ironinya adalah ketika orang kulit hitam menggunakan rambut naturalnya, mereka mendapat cemooh dari masyarakat karena dianggap aneh bahkan tidak professional dalam penampilan di lingkungan pekerjaan. Hal inilah yang membuat mereka seringkali menggunakan rambut palsu/wig untuk menutupi rambut asli mereka. Sedangkan jika influencer yang memakai gaya dari budaya tradisional mereka akan dianggap modern, edgy, serta trendi.

Beberapa hal lainnya yang menjadi sorotan penulis adalah sikap anti-rasis yang performatif. Sikap anti-rasis yang performatif ini diartikan ketika sejumlah pihak mengakui anti terhadap rasisme namun hanya melakukannya disaat yang tepat atau ketika mendapat tekanan. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku menyentuh rambut orang kulit hitam dengan atau tanpa seizinnya karena alasan keindahan, keingintahuan ataupun apresiasi semata.

Black Lives Matter dan Kekerasan Polisi

Black Lives Matter atau BLM sudah ada jauh sebelum kasus kematian George Floyd akibat kekerasan polisi (police brutality). Dilansir dari blacklivesmatter.com, Black Lives Matter hadir sebagai respon atas pembunuhan Trayvon Martin di tahun 2013 yang bertujuan untuk menghapuskan supremasi kulit putih serta membangun kekuatan lokal untuk menumpas kekerasan kepada black community yang dilakukan oleh negara atau oknum lainnya.

Penulis berpendapat bahwa gerakan BLM merupakan suatu gebrakan besar yang didasari atas kekecewaan komunitas kulit hitam akan ketidakadilan sikap yang diterimanya selama bertahun-tahun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa adanya kekerasan polisi terhadap komunitas kulit hitam di AS.

Memang, fakta kekerasan oleh institusi kepolisian tidak bisa digeneralisasikan secara garis besar namun terkotak pada ‘oknum’. Namun, penulis menyoroti penumpasan kekerasan kepolisian ini erat kaitannya dengan suburnya rasisme di AS itu sendiri. Hal ini disebabkan karena sikap rasisme itu sudah mengakar kuat atau tertancap dalam sistem sosial masyarakat sehingga sulit dihilangkan. Bahkan, rasisme sudah menyebar ke aspek kehidupan lainnya dalam masyarakat seperti standar kecantikan ataupun pilihan politik seseorang.

Fakta lainnya yang disoroti penulis adalah sikap performatif beberapa oknum akan anti-rasisme. Sikap performatif ini dapat dilihat dalam kasus George Floyd, yaitu ketika brand-brand ternama memposting sejumlah dukungan kepada para demonstran atau black community, namun dalam kegiatan sehari-harinya tidak mencerminkan sikap anti-rasis atau keberagaman (diversity). Hal ini umumnya dilakukan karena tekanan dari publik ataupun demi keuntungan semata agar brandingnya tidak tercoreng.

Menumpas Rasisme

Menumpas rasisme sistemik tidak dapat terjadi dalam satu malam. Menumpas sikap rasis membutuhkan waktu lama dan langkah yang konsisten. Hal ini disebabkan karena sikap rasisme sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat hingga merambat ke lembaga vital milik pemerintah. Oleh karena itu, peran aktif menumpas rasisme harus dimulai dari tiap individu.

Ketika berbicara tentang penumpasan rasisme, poin pentingnya terletak pada edukasi dan tekanan kepada pemerintah. Pertama, adanya self-edukasi, edukasi terhadap diri sendiri tentang sejarah penindasan yang diterima oleh komunitas kulit hitam sangat penting untuk memahami sensitivitas permasalahan rasisme.

Edukasi terhadap diri sendiri dapat berupa pemahaman dari sisi historis, budaya, hingga sisi kehidupan sosial dari komunitas kulit hitam itu sendiri agar dapat menentukan kebijaksanaan sikap yang harus diambil.

Kedua, tekanan kepada pemerintah dan lembaga terkait. Masyarakat memegang peran penting dalam menekan pemerintah mengeluarkan regulasi terkait dalam menumpas rasisme, terutama kepada lembaga yang terlibat terutama kepolisian.

Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan donasi ke sejumlah organisasi atau LSM terkait serta penandatanganan petisi yang tepat sasaran turut membantu menekan pemerintah untuk terlibat dalam penyelesaian permasalahan ini.

Pada akhirnya, penumpasan rasisme membutuhkan proses yang melibatkan sinergi semua pihak. Selama proses itu berlangsung tentunya perubahan mendasar harus dilakukan pada diri sendiri melalui edukasi

Lula Lasminingrat
Asisten Peneliti di Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dan Mahasiswa Hubungan Internasional di UPN "Veteran" Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.