Rabu, Maret 3, 2021

Mahfud MD Terlalu “Bahaya” untuk 2024

Dilema Kemacetan di Ibu Kota

Asraf, bocah berusia 6 tahun melontarkan pernyataan yang mengagetkan "ah nang Jakarta rasah tuku mobil, nek kakean mobil marai macet, mending numpak KRL opo...

Apakah Semangat Pembangunan Kini Mampu Tekan Angka Kemiskinan?

Mengikuti arah pembangunan Indonesia, berarti melihat kiprah pemimpin negara Indonesia, yaitu Presiden Joko Widodo. Menjadi sebuah cita-cita untuk mulai melakukan gebrakan pembangunan dengan gairah...

Semangat Sumpah Pemuda, Semangat Berbahasa Indonesia

Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan salah satu penyemangat para pejuang bangsa ini untuk merebut bumi pertiwi. Ikrar Sumpah Pemuda...

Takfiri Awal Sebuah Kehancuran

Gerakan takfiri menjadi sebuah ancaman baru bagi seluruh Negara di dunia yang memberikan gambaran yang negatif terhadap ajaran agama Islam yang dipandang mengajarkan kekerasan....
Nono Yarno
Bekerja Kerja dan Selalu Bahagia

Kekuasaan memang sangat didambakan oleh banyak orang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa banyak orang yang berhasil ketika diuji dengan penderitaan, kemiskinan. Tetapi bila ingin mengetahui karakter asli seseorang, berilah dia kekuasaan.

Drama sangat menarik terjadi ketika detik-detik pengumuman Cawapres Joko Widodo. Mahfud MD tidak jadi Cawapres Jokowi. Padahal berbagai pihak memprediksi bahwa Mahfud MD hampir pasti jadi Cawapres.

Publik telah mengetahui bahwa ada dua pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2019 nanti. Yaitu pasangan Jokowi-Maruf Amien dan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Komposisi pasangan ini sangat mengejutkan dan diluar dugaan berbagai pengamat politik dan lembaga survey.

Pencalonan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 adalah antiklimaks. Nama calon wakil presiden yang dipilih kedua kubu jauh dari perkiraan dan bukan nama yang selama ini beredar.

Ada logika terbalik dari pemilihan cawapres kedua kubu. Prabowo yang diyakini akan mengambil cawapres ulama berdasarkan rekomendasi ijtima ulama pada akhirnya memilih Sandiaga Uno yang berlatar belakang pengusaha dan masih satu partai.

Keputusan Jokowi bersama parpol koalisi mengambil figur cawapres dari kalangan ulama adalah tindakan tepat manakala kubu Prabowo tidak bisa merealisasikannya. Meski sejak Pilpres 2014 Prabowo konsisten bersama dengan parpol yang mengatas namakan diri mereka sebagai koalisi umat. Faktanya mantan Danjen Kopassus itu lebih memilih figur yang lebih ‘mapan’ dari segi pemenuhan kebutuhan logistik.

Kondisi Jokowi bila dibandingkan Prabowo lebih nyaman. Tidak ada riak perpecahan diantara anggota koalisi.Mereka bisa fokus dan bersama-sama untuk bekerja keras di seluruh daerah Indonesia dalam rangka memenangkan pasangan Capres dan Cawapresnya yakni Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Bahkan secara ekstrim saya katakan mungkin saja, Prabowo-Uno tidak menjadikan Pilpres sebagai sasaran utama. Mereka tidak begitu mengharap mereka bisa menang sebagai RI 1 dan 2. Mereka hanya untung-untungan saja. Fokus utama mereka hanyalah menaikan suara parpol mereka masing-masing. Partai politik anggota koalisi oposisi hanya fokus ingin meraih kursi di DPR sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka lebih bisa menguasai parlemen.

Nama KH Ma’ruf Amin yang menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia resmi mendampingi calon presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Sosok Mahfud MD yang gencar diberitakan diprediksi akan mendampingi Jokowi, akhirnya terhempas di menit-menit akhir sebelum pengumuman calon wakil presiden.

Meski cukup mengagetkan hampir seluruh masyarakat Indonesia, namun bagi saya, masuknya nama ulama Ma’ruf Amin adalah hal yang sangat rasional bagi partai pengusung Joko Widodo sebagai capres.

Terhempasnya nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu, terkait dengan pesta demokrasi pada Pilpres 2024 yang akan datang. Jika Pak Mahfud menjadi cawapres Jokowi,maka Pak Mahfud berpotensi untuk maju menjadi capres. Padahal, partai pengusung Jokowi sudah punya kader yang nantinya akan diusung dalam Pilpres 2024.

Dengan dipilihnya Ma’ruf Amin, maka partai pengusung lebih aman dan leluasa untuk mendorong kadernya menjadi Capres atau Cawapres, karena Ma’ruf Amin tidak mungkin akan maju menjadi capres pada 2024.

Dengan usia yang saat ini sudah tidak muda lagi, maka sangat kecil Ma’ruf Amin akan maju menjadi capres, sehingga partai pengusung Jokowi akan saling berlomba dari nol lagi. PDIP dalam pilpres bukan kali ini saja berduet dengan ulama dari kalangan NU, seperti saat Mega bersanding dengan Hasyim Muzadi. Namun, perlu dicatat, ketika PDIP berduet dengan tokoh NU justru sering gagal.

Politik memang tidak lepas dari kalkulasi politik, baik masa sekarang yang sedang dijalani, bahkan masa depan pun diluput dari perhitungan politik. Tentu saja hal ini memerlukan pengorbanan. Dan Pilpres Tahun 2019 ini memakan korban yaitu Mahfud MD. Apakah Mahfud MD akan menyebrang ke Prabowo seperti tahun 2014 lalu? Atau Jokowi suda hmenyediakan posisi yang lebih cocok untuk Mahfud MD?

Sumber:

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1063496-mahfud-md-sengaja-dibenamkan-karena-ancaman-di-2024

Nono Yarno
Bekerja Kerja dan Selalu Bahagia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.