Senin, April 12, 2021

Mahasiswa Sebaik-baiknya Penyambung Lidah Rakyat

Bekas Ekstremis: Syariat Hanya Ada di Otak, Kedamaian di Hati!

Masih ingat dengan Bom Bali 1 dan 2 yang terjadi lebih dari satu dekade silam? Siapa otak maupun pelaku yang melekat di benak Anda...

Yamin dan Tafsir Tunggal Atas Sejarah Indonesia

Kebutuhan historiografi atau penulisan sejarah dilandasi oleh niat beragam. Sejak Herodotus (484-425 SM) menulis perang Yunani-Persia (478 SM) hingga periode munculnya aliran Sejarah Baru...

Mendudukkan Kembali, Feminisme al-Sa’dawi

Gerakan anti-feminisme sempat ramai menjadi perbincangan setelah dipopulerkan oleh akun Indonesia Tanpa Feminis. Fenomena yang sama juga pernah terjadi di Mesir tahun 90-an. Gerakan...

Indonesia dalam Lukisan

Oleh: Kyla Zakira Sophiena Prasetyo, SMA Unggulan M.H. Thamrin Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Di tahun 2020, tercatat kurang lebih 34 provinsi tersebar...
Wahyu Aji Saputra
Penggemar cerita misteri dan sering dianggap psikopat

Beberapa hari yang lalu para remaja sedang dihebohkan dengan pengumuman SBMPTN. Setiap anak pastinya ingin hasil yang terbaik dan itu bentuknya adalah sebuah kelulusan di PT idaman.

Menjadi mahasiswa di kampusnya dan bisa mendapatkan ilmu yang di inginkan. Saya juga merupakan alumnus SBMPTN. Jujur, sebenarnya SBMPTN adalah sebuah jalan alternatif yang dipakai ketika pilihan favorit (benar-benar favorit) pada SNMPTN atau jalur undangan tidak menemui hasil yang diinginkan.

Daripada tidak kuliah, turunkan sedikit ekspektasi kemudian pilih SBMPTN. Setidaknya itu saya, semoga kalian tidak. Pada akhirnya hanya ada satu kesimpulan yaitu menjadi mahasiswa.

Menjadi mahasiswa dimata para remaja adalah sebuah kebanggaan, apalagi bagi para orang tua. Itu merupakan pandangan umum yang ada ketika awal memasuki dunia perkuliahan.

Setelah masuk ke dalamnya, kamu akan mulai menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa yang sesungguhnya, yang sebenarnya terbentuk dari stereotipe masyarakat dan lingkungan. Mahasiswa harus begini dan begitu. Begitulah gumam mereka dan nyatanya perlahan akan membentuk seorang remaja menjadi mahasiswa, seperti model tadi.

Saya sangat sering mendengar dan mendapati tentang bagaimana seharusnya mahasiswa. Mayoritas para mahasiswa atau setidaknya orang yang mengaku berjiwa Spartan dalam pribadi mahasiswa akan mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Penyambung lidah rakyat dan awal pergerakan menuju pembaharuan.

Tentunya bukan sembarang ambil alasan, status mahasiswa yang merupakan derajat tertinggi murid dalam pendidikan negeri ini adalah bukti kuat. Mereka yang seringkali melakukan penelitian dan menghasilkan temuan. Banyak dari mahasiswa melanglang buana ke luar negeri untuk mengikuti kejuaran atau menjadi wakil ibu pertiwi. Prestasi, mahasiswa adalah lumbungnya.

Bagaimana dengan tindakan sosial. Jelas memang sangat meyakinkan bahwa mahasiswa juga yang menjadi ujung tombaknya. Mulai dari turun ke lapangan atau pergerakan ke jalan untuk meminta belas kasihan bagi mereka yang membutuhkan. Mahasiswa selalu menjad aktor utamanya.

Pergerakan sosial adalah hal yang lazim yang mesti dilakukan mahasiswa jika ingin dibilang mahasiswa. Setidaknya agar tidak dicap tidak nasionalis. Tanpa memandang rendah kegiatan yang sudah dilakukan dalam lingkup tersebut, mahasiswa juga seringkali melupakan hal yang paling sederhana.

Penyambung lidah rakyat atau pengayom rakyat hanya terlihat ketika memakai almamater nama kebanggaan kampus. Hanya untuk mempertegas status mahasiswa yang sebenarnya adalah bentukan stereotip usang namun fungsional. Nyatanya, mahasiswa tak sesosial itu.

Tak usah dihitung berapa kali mahasiswa turun ke jalan dan meneriakan keadilan. Atau menyasar rumah-rumah warga dan mendengarkan keluhan ketika KKN berlangsung. Itu adalah hal yang lumrah dan biasa.

Kalau tidak dilakukan, ya bukan mahasiswa seperti yang orang bilang atau nantinya dicap sebagai mahasiswa tidak kompeten. Saya pernah terjebak atau kalian pernah mengalami bagaimana menjadi mahasiswa yang sangat membagakan dirinya (sebagai mahasiswa) tapi lupa bahwa ia juga pelaku sosial dalam lingkungan tempat ia tinggal.

Sebulan sekali ikut long march dan aksi damai ini dan itu, tapi tempat kediaman sendiri ketika ada kegiatan sosial tak tahu menahu. Tahunya hanya nama ibu kos saja, interaksinya hanya kepada pelayan warteg dan kalau ada kegiatan komplek mengurung diri di kamar sambil baca buku Madilog seolah sudah menjadi mahasiswa yang berbakti bagi bangsa dan negeri.

Mahasiswa habitatnya kalau tidak di kos ya pasti di kampus. Atau sesekali ke kafe dan nongkrong di taman kota, kemudian main futsal biar menambah kekerabatan antar himpunan.

Tinggal di kos hanya sebagai tempat istirahat. Buat apa kita mesti susah susah untuk berinteraksi dengan warga sekitar, pekerjaan mahasiswa terlampau banyak mulai dari mengurus revisi dan mencari program kerja UKM yang berkualitas. Benar sekali, paling lama tinggal di tanah perantauan atau menjadi mahasiswa hanya sekitar 5 tahunan.

Belum lagi tempat kediaman sering pindah sana pindah sini yang dinamakan kos tersebut. Sudah pasti tidak punya waktu untuk sekedar kenalan dengan para pengisi masjid atau surau dekat kos, apalagi sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kegiatan amal pembangunan tempat ibadah bagi mereka yang membutuhkan di pelosok nun jauh disana.

Oh ya jangan lupa rampungkan proposal pencairan dana untuk inovasi dalam pembangunan daerah. Caranya mudah, survey daerah yang membutuhkan pertolongan dan bantuan dan katakan bahwa kita ini mahasiswa ingin membantu dengan proposal. Jika nanti tembus dan disetujui pusat, baru bisa dibantu. Tapi untuk saat ini, silahkan bersabar dulu. Kalau gagal ya bukan rezeki. Bantuannya tidak jadi, tunggu tahun depan lagi.

Inilah tugas mahasiswa, menjadi penyambung lidah rakyat dan melihat segala situasi ketidakadilan masyarakat. Meneliti dengan sangat apa kekeliruan pemerintah dan kebutuhan masyarakat di daerah-daerah lain. Lingkungan sendiri? itu urusan pak RT setempat, sebagai mahasiswa yang bukan asli daerah ya jangan ikut campur dong. Lalu jangan lupa teriakan, “Hidup Mahasiswa!!!”.

Wahyu Aji Saputra
Penggemar cerita misteri dan sering dianggap psikopat
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.