Jumat, Desember 4, 2020

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Mengapa Masih Percaya Teori Konspirasi di Era Digital?

Konspirasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi dalam jaringan, adalah sebuah persekongkolan. Persekongkolan merupakan tindakan berkomplot untuk melakukan sebuah tindak kejahatan. Dalam Oxford Dictionary,...

Wasantara dan Praksis Pendidikan Dasar

Setiap bangsa mempunyai cita-cita. Cita-cita bagi suatu bangsa dapat memberi gairah hidup dan memberi arah dalam menentukan tujuan nasional. Akan tetapi, Bangsa Indonesia sadar...

Fenomena Long Tail Atta dan Ricis

Tahun 2004 Chris Anderson mengutarakan istilah ini pertama kali. Long tail ( buntut panjang). Saya lebih suka menyebut buntut dari pada ekor karena lebih...

Manusia Sosial dan Keluhuran Akhlak Bangsa

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah swt, seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia dikarunia oleh...
Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama yang telah usang atau kadaluwarsa. Tetapi terkadang juga bisa dijadikan sebuah tunggangan politik-aktif serta kendaraan untuk mewujudkan sebuah kepentingan tertentu (hidden agenda).

Subjek yang saya bahas ialah mahasiswa kiwari (milenial). Mereka terkadang tak dapat membedakan antara fungsi dirinya sebagai pembelajar ilmu dan sebagai aktivis perubahan (agent of change).

Fanatisme yang terkadung-buta membuat dirinya seakan tak mengerti prioritas, tak paham fungsi utamanya untuk menikmati pengetahuan ilmu, melalui bentuk diskusi dan saling tukar pandangan (diskursus).

Diskursus yang dimaksud ialah belajar untuk beradu gagasan, saling-dialektika, dan bertukar ide di kelas. Tak melulu mencari pembenaran kritis yang biasanya tak rasional bahkan, dan tidak mengandung bukti empirisme yang kuat serta bersifat ilmiah yang mapan dalam melihat kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah atau otoritas setempat hingga berujung pada tindakan anarkisme-buta dan semu, karna tak juga punya dampak nyata yang signifikan.

Berupa perusakan fasilitas publik yang hakikatnya diperuntukkan bagi masyarakat sekitar yang berkebutuhan, bisa sampai mematikan segi moral-etis mahasiswa itu sendiri dalam memandang kebangsaan dan sosio-kultural masyarakat Indonesia.

Tindakan anarkisme selalu berdampak pada perusakan yang berakibat kepada kerugian sebuah institusi ekonomi atau sosial setempat. Dampak yang sangat terlihat ialah dari segi ekonominya, pengurangan nilai suatu benda atau barang yang dimana terhasilkan dari pungutan pajak masyarakat jua dan meruntuhkan kepercayaan publik akan mahasiswa terhadap persepsi baik dan positif yang sudah tertanam dalam pandangan kehidupan masyarakat selama ini.

Doktrin atau ajaran dari sebuah entitas organisasi kemahasiswaan tertentu selalu dijadikan ‘kambing-hitam’ dalam menerobos segala macam penolakan terhadap gagasan-gagasan (doktrin) tersebut, sebuah ironi justru.

Ajaran yang dimana seharusnya dijadikan pedoman dalam bertindak dan berbuat malah dijadikan alat untuk mencapai kepentingan tertentu yang terselebung, tak transparan atau memang hanya sebuah fanatisme-buta. Fanatisme yang dilandasi arogansi pribadi dan egosentrisme yang selalu ingin menang sendiri dan ingin terlihat superior merupakan ‘jenis’ pasti dari watak senioritas-kampus.

Seakan-akan ia adalah pembawa panji kebenaran dari sebuah ide subjektivisme-relatif seseorang (tokoh). Padahal mahasiswa sendiri ialah manusia bebas, mempunyai free will dan tidak selalu terjebak oleh determinisme hidup orang lain. Dan hakikinya tak bisa di sama-ratakan harus berpihak atau tendensius dengan satu golongan aktivisme tertentu.

Kita seakan lupa akan filosofi pendidikan yang jelas-jelas tercantum dalam alinea keempat dalam ‘UUD 1945’ bangsa Indonesia, iaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa, maupun berbangsa dan bersosial” yang dimana itu adalah kewajiban warga-masyarakat mahasiswa khususnya, sebagai pelajar dan pembelajar.

Itulah prioritasnya, demonstrasi boleh dan itu adalah suatu keniscayaan dalam sistem demokrasi yang sedang tumbuh subur-suburnya sekarang ini. Tapi jangan juga melupakan hakikat berbangsa itu sendiri, menghargai perbedaan dan tidak memaksakan paham-paham tertentu atau indoktrinasi yang hanya terbatas dari sudut pandang orang tertentu yang terkesan sangat picik dalam memahaminya, maupun mencernanya.

Saya ingin mengutip dari seorang Mohammad Hatta, founding father kita bersama. Ia mengatakan bahwa “Demokrasi harus disertai tanggung jawab, dan demokrasi yang kebablasan hingga menimbulkan kemunculan anarkisme maka akan menemui ajalnya dan akan diambil alih oleh kediktatoran” (Demokrasi Kita, 1960).

Demonstrasi idealnya harus memiliki tujuan dan alasan yang kuat, tidak dengan alasan-tuju yang berangkat dari sentimen, yang timbul dari sebuah doktrin atau paham tertentu. Jika berangkat dari sentimen golongan atau kubu tertentu, tidak mempunyai landasan yang kuat maka itu tidak lebih dari kemunafikan (hipokrisi) mahasiswa yang takadekuat disebut sebagai Mahasiswa.

Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.