Senin, April 12, 2021

Mahalnya Harga Pemilu Kita

Vandalisme Featuring Unjuk Rasa

Vandalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Kita Sudah Seharusnya Smart Goverment

Dalam sejarah Peradaban Manusia, Alvin Toffler membagi tiga gelombang peradaban manusia. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat informasi. Dan gelombang ke tiga...

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Pemilu ternyata mahal harganya. Bukan hanya biaya operasionalnya. Tetapi juga akibat -akibat sosialnya. Kematian petugas KPPS, kerusuhan karena ada kubu yang tidak terima, juga perdebatan-perdebatan tidak perlu yang terjadi di masyarakat mulai semenjak pra pemilu sampai pasca pemilu.

Biaya operasional dapat diprediksi semenjak perencaan. Akibat sosial seharusnya juga bisa diprediksi walaupun tidak bisa secara detail sebagaimana memprediksi biaya operasional. Akibat yang fatal menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan tidak dipikirkan secara matang apa akibat sosial yang terjadi dengan sistem pemilu yang kita pakai.

Seharusnya hal tersebut menjadi pukulan telak bagi pengelola negara. Secara umum semuanya saja. Secara khusus pihak yang mengelola pemilu. Karena bagaimana pun rakyat tidak pantas meregang nyawa atawa terluka fisiknya hanya karena pemilihan orang yang dianggap pantas untuk mengelola negara. Ini bukan masa perang, mengapa manusia begitu mudahnya menjadi korban.

Sejauh ini evaluasi pemilu yang paling disorot hanya perihal penghematan anggaran. Yang selanjutnya memunculkan kebijakan pemilu serentak. Juga muncul kebijakan penghematan anggaran lain seperti, menggunakan kotak suara dari kardus.

Pra pemilu orang ribut-ribut tentang kuat atau tidaknya kotak suara kardus. Tanpa pernah memikirkan, apakah sistem kerja penyelenggara dan peserta pemilu yang cukup lama mengakibatkan dampak sosial yang fatal?

Dan lagi, pasca pemilu yang menyuarakan belasungkawa karena kematian banyak personil penyelenggara pemilu dan evaluasi pemilu masih terasa tidak nyaring. Kalah nyaring dengan klaim kemenangan, quick qount, ribut-ribut caleg kalah, people power (settingan). Yang alih – alih berfaedah, justru menambah catatan buruk pemilu yang telah berlangsung.

Kita seakan menjadi seorang balita yang dibuang oleh orang tuanya. Tak bisa mengurus dirinya sendiri. Bisanya hanya merengek, menangis. Menunggu belas kasihan orang, semoga dapat dipungut. Kalau tak ada yang memungut tak tahu bagaimana nasib kita.

Umur kemerdakaan 74 itu sudah lama. Majapahit yang kebesarannya sampai sekarang banyak diperbincangkan dan mungkin belum tertandingi oleh kerajaan atau negara setelahnya berumur sekira 200-an tahun.

Umur 74 lebih dari seperempat umur Majapahit. Kalau umur seorang manusia meninggal umur 80 tahun. Seperempat lebih sedikit dari umurnya adalah 22-25 tahun. Biasanya pada umur tersebut manusia minimal sudah menunjukkan tanda-tanda bisa menata hidupnya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang sudah tertata hidupnya. Dalam banyak hal, mulai dari ekonomi sampai perhubungan sosialnya dengan masyarakat luas.

Kita sebagai rakyat yang sudah merdeka tak pernah tahu apa signifikansi yang menonjol dari pengelolaan negara kecuali membiayai banyak hal dengan hutang yang sekarang sudah mencapai sekitar 5000-an trilyun. Itu saja, masih ngeles, “Tenang saja. Masih aman kok hutang segitu.” Sampai kapan kita merasa aman. Sampai 10 trilyunkah, 20 trilyunkah?

Kita kalau dalam kehidupan sehari-hari saja mempunyai hutang yang terus bertambah rasanya hidup tidak tenang. Bahkan jika hutang kita tidak bertambah tapi dalam satu tahun kok tidak kita bayar hidup kita tidak tenang. Bagaimana bisa negara yang hutangnya terus bertambah merasa aman, aman dan aman.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa umur negara ini sama dengan majapahit. Tetapi, sejarah peradaban mana yang pantas kita pakai sebagai referensi? Mesir kuno? Romawi kuno? Yunani kuno? Bukankah Majapahit yang pernah menghuni nusantara lebih pantas kita pakai sebagai cermin, sebagai referensi untuk keberlanjutan negara kita?

Semenjak merdeka kita memilih republik dan selanjutnya demokrasi yang terwujud dalam bentuk pemilu. Puluhan tahun kita menjalani “seolah-olah” pemilu. Baru 2004 kita menjalani “yang benar – benar” pemilu. 15 tahun menjalani “yang benar – benar pemilu” kita masih belum siap. Dalam segala hal. Bahkan hal yang tak membutuhkan biaya. Mental ksatria untuk menerima kekalahan dan untuk tidak jumawa ketika menang. Terutama para pendukungnya. Dalam demokrasi wajah kita tak bisa jauh-jauh dari wajah suporter sepak bola kita.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.