Jumat, Februari 26, 2021

Mahalnya Harga Pemilu Kita

Prototipe Persaudaraan ala Nabi Saw

Pada sekitar tahun 622 M, para Muslim Makkah generasi awal (al-sâbiqûn al-awwalûn) bergerak meninggalkan tanah kelahiran mereka menuju Yatsrib—kelak bernama Madinah. Mereka mengikuti arahan...

Dejavu Pilpres 14/19 (Mudah ditebak)

Duel ulang pertarungan pilpres antara Jokowi vs Prabowo menjadi sajian kontestasi politik yang bisa dikatakan membosankan. Ini tidak lain karena tidak adanya pilihan lain,...

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan...

Akui dan Lindungi Pekerja Rumah Tangga!

Di kala pegawai-pegawai pemerintah ataupun karyawan-karyawan swasta kelabakan dan sibuk dengan segala pekerjaannya. Mereka membutuhkan Pekerja Rumah Tangga (PRT) untuk menyiapkan dan mengurusi segala...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Pemilu ternyata mahal harganya. Bukan hanya biaya operasionalnya. Tetapi juga akibat -akibat sosialnya. Kematian petugas KPPS, kerusuhan karena ada kubu yang tidak terima, juga perdebatan-perdebatan tidak perlu yang terjadi di masyarakat mulai semenjak pra pemilu sampai pasca pemilu.

Biaya operasional dapat diprediksi semenjak perencaan. Akibat sosial seharusnya juga bisa diprediksi walaupun tidak bisa secara detail sebagaimana memprediksi biaya operasional. Akibat yang fatal menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan tidak dipikirkan secara matang apa akibat sosial yang terjadi dengan sistem pemilu yang kita pakai.

Seharusnya hal tersebut menjadi pukulan telak bagi pengelola negara. Secara umum semuanya saja. Secara khusus pihak yang mengelola pemilu. Karena bagaimana pun rakyat tidak pantas meregang nyawa atawa terluka fisiknya hanya karena pemilihan orang yang dianggap pantas untuk mengelola negara. Ini bukan masa perang, mengapa manusia begitu mudahnya menjadi korban.

Sejauh ini evaluasi pemilu yang paling disorot hanya perihal penghematan anggaran. Yang selanjutnya memunculkan kebijakan pemilu serentak. Juga muncul kebijakan penghematan anggaran lain seperti, menggunakan kotak suara dari kardus.

Pra pemilu orang ribut-ribut tentang kuat atau tidaknya kotak suara kardus. Tanpa pernah memikirkan, apakah sistem kerja penyelenggara dan peserta pemilu yang cukup lama mengakibatkan dampak sosial yang fatal?

Dan lagi, pasca pemilu yang menyuarakan belasungkawa karena kematian banyak personil penyelenggara pemilu dan evaluasi pemilu masih terasa tidak nyaring. Kalah nyaring dengan klaim kemenangan, quick qount, ribut-ribut caleg kalah, people power (settingan). Yang alih – alih berfaedah, justru menambah catatan buruk pemilu yang telah berlangsung.

Kita seakan menjadi seorang balita yang dibuang oleh orang tuanya. Tak bisa mengurus dirinya sendiri. Bisanya hanya merengek, menangis. Menunggu belas kasihan orang, semoga dapat dipungut. Kalau tak ada yang memungut tak tahu bagaimana nasib kita.

Umur kemerdakaan 74 itu sudah lama. Majapahit yang kebesarannya sampai sekarang banyak diperbincangkan dan mungkin belum tertandingi oleh kerajaan atau negara setelahnya berumur sekira 200-an tahun.

Umur 74 lebih dari seperempat umur Majapahit. Kalau umur seorang manusia meninggal umur 80 tahun. Seperempat lebih sedikit dari umurnya adalah 22-25 tahun. Biasanya pada umur tersebut manusia minimal sudah menunjukkan tanda-tanda bisa menata hidupnya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang sudah tertata hidupnya. Dalam banyak hal, mulai dari ekonomi sampai perhubungan sosialnya dengan masyarakat luas.

Kita sebagai rakyat yang sudah merdeka tak pernah tahu apa signifikansi yang menonjol dari pengelolaan negara kecuali membiayai banyak hal dengan hutang yang sekarang sudah mencapai sekitar 5000-an trilyun. Itu saja, masih ngeles, “Tenang saja. Masih aman kok hutang segitu.” Sampai kapan kita merasa aman. Sampai 10 trilyunkah, 20 trilyunkah?

Kita kalau dalam kehidupan sehari-hari saja mempunyai hutang yang terus bertambah rasanya hidup tidak tenang. Bahkan jika hutang kita tidak bertambah tapi dalam satu tahun kok tidak kita bayar hidup kita tidak tenang. Bagaimana bisa negara yang hutangnya terus bertambah merasa aman, aman dan aman.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa umur negara ini sama dengan majapahit. Tetapi, sejarah peradaban mana yang pantas kita pakai sebagai referensi? Mesir kuno? Romawi kuno? Yunani kuno? Bukankah Majapahit yang pernah menghuni nusantara lebih pantas kita pakai sebagai cermin, sebagai referensi untuk keberlanjutan negara kita?

Semenjak merdeka kita memilih republik dan selanjutnya demokrasi yang terwujud dalam bentuk pemilu. Puluhan tahun kita menjalani “seolah-olah” pemilu. Baru 2004 kita menjalani “yang benar – benar” pemilu. 15 tahun menjalani “yang benar – benar pemilu” kita masih belum siap. Dalam segala hal. Bahkan hal yang tak membutuhkan biaya. Mental ksatria untuk menerima kekalahan dan untuk tidak jumawa ketika menang. Terutama para pendukungnya. Dalam demokrasi wajah kita tak bisa jauh-jauh dari wajah suporter sepak bola kita.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.