Senin, Oktober 26, 2020

Madilog Sekali Lagi

Menuju 100 Tahun Indonesia, Sudah Siap?

Abad 21 merupakan abad persaingan. Kecepatan perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan peradaban umat manusia. Ketidakpastian menjadi suatu hal yang sering terjadi memasuki abad 21 ini. Abad...

Nasib Anak-Anak di Penjara Papua

Pada awal bulan Juli 2017, ada 3408 anak-anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut, 877 anak berstatus sebagai tahanan, dan...

Beban 100 Juru Bicara Tim Pemenangan Koalisi Jokowi-Ma’ruf

Ingat, sebelum memikul atau menerima sebuah amanah harus mengerti dan faham akan tugas dan kewenangan, beserta tanggungjawab dari amanah yang akan diamanahkan kepada dirinya. Banyak...

Yudi Latif dan Kuliah Umum tentang Keadilan

Saya buka catatan ini dengan keributan kecil yang terjadi antara saya, Tenaga Ahli Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dengan oknum Sekretariat UKP-PIP di...
Aman Darmawan
Mahasiswa hukum Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun dampak yang terselubung. Begitulah yang mereka sebut sebagai era revolusi industri 4.0 -menjadikan manusia mendewakan teknologi-.

Beberapa pengaruh positif dari perkembangan teknologi itu dapat kita rasakan dalam kehidupan kita sehari-hari seperti kemudahan bertransaksi, kemudahan berkomunikasi jarak jauh, kemudahan mendapatkan informasi dan data, serta kemudahan-kemudahan lainnya yang tidak akan habis jika kita harus sebut satu-persatu.

Disamping dampak postif yang berisi kemudahan dan kecepatan dalam (hampir) segala aspek kehidupan kita, juga tentunya terdapat dampak negatif, yang apabila ini tidak di sadari maka akan semakin memburuk, terutama bagi bangsa kita, mengapa bangsa kita? Mari kita kupas!

Banyak dari kita yang hampir-hampir selalu mendewakan kemudahan, segala sesuatu jika ada jalan yang paling mudah, maka itulah pilihan utamanya. Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja itu adalah bencana. Kemudahan dapat menjadi satu bencana ketika terlalu nyaman didalamnya, dan pada akhirnya kita tidak berani atau enggan untuk keluar dari situ.

Begitupun kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh teknologi saat ini, yang di anugrahkan pada kita. Saat kita terlalu nyaman di dalamnya, sampai-sampai kita enggan atau bahkan takut keluar dari sana, maka itu adalah sebuah bencana. Bencana besar kawan!

Cobalah lihat, bagaimana para generasi terdidik yang merasa pengetahuan mereka tentang teknologi cukup besar, mengubur dalam-dalam nalar kritisnya dan menggantikannya dengan informasi yang sangat mudah mereka dapatkan melalui teknologi informasi (mereka mendewakan teknologi!). Sebuah bencana- karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang membodohi/dibodohi dengan kecerdasan buatan orang lain, kecerdasan hasil kerja manusia lainnya. Celakanya, kita menikmatinya.

Tidak cukup hanya mengubur nalar kritis, mereka juga mengubur daya kreasi (daya cipta) mereka sebagai generasi terdidik. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh pengaruh kemudahan yang diberikan oleh teknologi dan menenggelamkan mereka di dalamnya. Pada akhirnya kita hanya akan seterusnya menjadi masyarakat yang konsumtif, tanpa memiliki daya cipta yang dapat dipersaingkan dengan karya-karya orang lain di luar sana. Para generasi terdidik ini merasa bahwa kita sudah cukup hanya tinggal menikmati, menggunakannya saja, biarkan orang-orang luar negeri sana yang bekerja keras untuk mencipta. Itulah bencana kawan!

Lalu mengapa mereka berpikir demikian? Itu karena sebenarnya bangsa kita belum sepenuhnya siap untuk menerima perkembangan teknologi yang begitu cepat ini. Sementara logika dalam masyarakat kita masih terikat dengan kebudayaan tradisional, belum lagi kita masih belum bisa lepas dari pengaruh kolonialisme yang memperbudak kita, baik secara fisik maupun pikiran.

Sebagai bangsa bekas jajahan, tentunya dampak dari penjajahan itu tidak akan begitu saja hilang setelah kita merdeka. Mental kita terkadang masih seperti budak, masih menyembah pada bangsa asing yang memiliki kekuatan lebih besar dari kita, masih merasa bahwa kita hanya bangsa pekerja dan pesuruh, sadar atau tidak sadar begitulah mental masyarakat kita sampai saat ini. Tidak menyadari bahwa bangsa kita juga punya logika untuk menilai mana yang “ya” dan mana yang “tidak” secara tegas, sehingga bangsa kita tidak lagi jatuh kedalam neo-kolonialisme.

Meskipun sebagian masyarakat kita telah memahami dan mampu menggunakan rasio dalam mengambil keputusan ataupun berpikir, namun penyakit lama peninggalan kolonialisme itu masih tetap ada.

Seperti itulah kira-kira bagaimana kondisi kita saat ini, tidak lagi dalam penjajahan secara fisik, namun di jajah secara mental. Tidak lagi menggunakan senjata api, namun telah menggunakan kemajuan teknologi. Tidak lagi memperbudak dengan tanam paksa demi keuntungan mereka, namun telah berubah menjadi perbudakan intelektual dan perbudakan mental, sehingga mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan dari kita tanpa harus melakukan kekerasan.

Beruntung dahulu -pada saat masa penjajahan- salah seorang aktivis, seorang revolusioner, bapak bangsa, pahlawan yang dilupakan oleh bangsanya sendiri, Tan Malaka. Telah merumuskan satu tulisan yang merupakan gagasan revolusi bagi masyarakat Indonesia, masyarakat yang tertindas oleh bangsa lain.

Konsep berpikir dalam Madilog berlandaskan matrealisme dan berpikir berdasarkan dialektika serta logika inilah yang diajukan Tan Malaka dalam melihat hubungan sebab akibat realita yang ada, disamping semangat perlawanan yang saat itu masih berapi-api. Ketertindasan bangsa kita merupakan faktor pentik dalam sejarah, maka dengan adanya Madilog, menjadi satu rumusan dan panduan cara berpikir dapat menjadi satu alat perlawanan terhadap kebodohan sebagai akibat dari kolonialisme dan imperialisme.

Jika dahulu kita di liputi dengan logika mistika dan kepercayaan terhadap mitos-mitos nenek moyang kita, sehingga kita tidak mampu menggunakan logika dan akal rasio kita dengan maksimal, maka sekarang kita di liputi oleh logika kemudahan yang diciptakan oleh perkembangan teknologi infomasi dan akibatnya masih sama, yaitu gagalnya kita untuk menggunakan akal rasio kita dengan maksimal.

Meskipun nampaknya pendidikan kita sudah mampu mengakomodasi kaum muda agar mendapatkan fasilitas belajar, namun ternyata tidak juga rupanya kaum terdidik itu mampu berpikir kritis, malah semakin tumpul dengan adanya teknologi informasi. Oleh karenanya, saat ini kita sedang tenggelam dalam logika kemudahan, tidak dapat memutuskan secara tegas mana yang “iya” dan mana yang “tidak”, melainkan mana yang paling mudah itulah yang “iya” tidak peduli baik atau buruk kah itu.

Oleh karenanya, Madilog yang di rumuskan oleh Tan Malaka, masih sangat relevan untuk kita baca saat ini. Sebab hegemoni dari negara-negara industrial yang mampu menciptakan teknologi informasi, dengan sengaja mempertahankan logika kemudahan ini untuk merampas kekayaan yang kita miliki, maka kita sendiri lah yang perlu untuk menyingkirkan logika kemudahan itu, kita perlu revolusi pikiran kita!

Namun memang sulit bagi masyarakat untuk kembali membaca Madilog ini, sebab dogma yang tertanam pada mereka adalah bahwa gagasan ini sebagai suatu perbedaan dan bertentangan dengan nilai-nilai lokal.

Aman Darmawan
Mahasiswa hukum Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.