Rabu, Januari 27, 2021

Mabuk Piala Dunia, Ke Mana Timnas Senior Indonesia?

Menyikapi Perbedaan, Kenapa Harus dengan Nafsu?

Tiap tahun selalu saja ada hal-hal yang terus terulang-ulang pada 25 Desember atau yang sudah resmi di kalender nasional dengan tanggal merahnya, Hari Raya...

Zakat itu Wajib, Kok Bisa?

Segala sesuatu yang kita miliki didalamnya ada hak orang yang membutuhkan. Sekiranya kata tadi menjadi salah satu alasan mengapa Allah mensyariatkan kewajiban zakat entah...

Nadiem Membangun Pendidikan Anti-Korupsi yang Terintegrasi?

Setelah seratus hari mengabdi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim telah menelurkan beberapa wacana kebijakan yang mendobrak kebiasaan lama. Walaupun baru berupa...

Sejarah Kita Mematikan Imajinasi

Beberapa minggu lalu, seorang kawan lama yang sekarang guru sejarah mengirimkan pesan kepada saya. Ia mengungkapkan ketakjubannya menonton film seri The Man in The...
Najmul Ula
Penderita rabun politik

Saat tulisan ini disusun, publik sepak bola Indonesia sedang dilanda demam piala dunia, juga masih dimabuk buaian timnas U-19. Piala Dunia memang menciptakan euforia jarak jauh, sebuah kebahagiaan bila timnas (negara lain) jagoan merangsek jauh mendekati trofi.

Tidak demikian halnya dengan timnas u-19, ia memiliki keterikatan dengan masyarakat bola Indonesia. Demam timnas usia muda—yang tentu saja disertai harapan mengulang torehan timnas kelompok umur yang sama dengan pelatih tak berbeda- itu sayangnya datang bersamaan dengan kabar menyedihkan dari kantor PSSI (saya ingin mengasosiasikan entitas tempat dengan institusi yang mendiaminya seperti halnya Gedung Putih untuk menyebut pemerintah federal Amerika Serikat, tapi PSSI nahasnya tidak punya kantor, jadi mari sebut saja “kantor PSSI”).

Ketua umum PSSI Edy Rahmayadi dilaporkan sejumlah lembaga survei akan memenangi Pilkada Sumatera Utara. Dan sementara publik berharap ia sukses di provinsi itu dengan melepas kemudi PSSI, yang bersangkutan menegaskan tidak ada undang-undang yang mampu menghalanginya bila ingin berkuasa di Medan dan Jakarta sekaligus.

Kasus bebalnya pengurus PSSI seperti Edy memang bukan yang pertama kali terjadi, bahkan PSSI sendiri pun terekam sejarah membiarkan personil-personilnya merangkap jabatan di institusi lain. Bekerja ganda ialah suatu kelaziman di tubuh PSSI. Bila Anda terkejut melihat pemimpin kita yang satu itu, jangan-jangan Anda tak tahu pernah ada narapidana yang memimpin PSSI dari hotel prodeo?

John Duerden di Fox Sport Asia sejak jauh hari mengatakan Edy harus memilih: politik atau sepak bola. Demi pengelolaan yang sehat dan profesional, ketum PSSI seharusnya menjauhkan diri dari kepentingan di luar sepak bola.

Jabatan gubernur tidak akan menambah kekuatan apa pun bagi Edy, kecuali kemudaratan dan ketidakefektifan organisasi. Mewujudkan janji kampanye di tingkat provinsi saja sudah teramat susah, apalagi dengan memanggul beban lain yang kadar tanggung jawabnya bisa berkali-kali lipat lebih berat.

Lagipula, di kalangan pengamat, Edy bukanlah seseorang yang kadar kejeniusannya membuat orang mengutip perkataaanya dengan takzim. Ia membuat pandit sepak bola menertawakan pernyataannya tentang absennya rasa nasionalis Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn karena menerima pinangan klub negara tetangga. Pengamat politik (bahkan warganet) sampai terpingkal-pingkal melihat Edy tampil tanpa impresi di event debat kandidat yang disiarkan di televisi nasional.

Meminjam bahasa jurnalis Argentina Sebastian Fest saat timnya tersungkur di Piala Dunia, Edy Rahmayadi bukanlah sebuah penyakit, ia hanya gejala. Ia cuma secuil yang tampak dari wabah salah urus yang menjangkiti sepak bola Indonesia. Sekarang saja mari kita alihkan teropong, dari Sidoarjo ke Palembang.

Timnas sepak bola putri Indonesia yang minim persiapan itu sedang berpeluh jauh dari ingar-bingar media, mereka dihajar Thailand dengan jarak skor dua digit di laga pemanasan, dan tak benar-benar mendapat perhatian dari PSSI. Tak dapat perhatian? Siapa yang bisa menyebutkan sejak kapan PSSI mendedikasikan diri untuk menjalankan kompetisi sepak bola wanita agar tiap ada kewajiban internasional, tim yang dikirim tidak dibentuk secara dadakn, dan yang lebih penting, tidak mencomot pemain dari olahraga sebelah (baca: futsal)?

Itu baru pada satu kelompok timnas. Di nomor putra, kita juga was-was menanti apa yang akan terjadi di Piala AFF tahun ini. Sementara Thailand sudah mulai menganggap turnamen ini sebagai ajang kelas dua dan mulai rutin mengirimkan tim pelapis sejak beberapa edisi lalu, timnas Malaysia yang kita benci sampai mati itu juga sudah menunjuk pelatih muda tempaan mereka dan telah merilis tujuh laga uji coba (catat pula, semuanya menyesuaikan kalender internasional FIFA) di tahun 2018.

Lantas berada di mana Indonesia saat ini? ironisnya, meski Milla dikontrak menangani timnas senior dan u-23, ia cenderung mengabaikan kewajibannya memimpin tim senior. Ini bisa dimaklumi karena PSSI terlihat tidak merasa perlu untuk membentuk tim karena tidak ada kewajiban internasional (baca: turnamen resmi) yang perlu diikuti.

Hei, kita perlu menyadari kontrak Milla akan habis pada bulan Agustus! Asisten pelatih Eduardo Perez sudah memilih untuk pergi, sementara Milla belum mau memikirkan kehidupan setelah Asian Games. Tidak cermat dalam perencanaan sama saja mempersiapkan kegagalan, dan PSSI sangat mungkin bertindak tergesa-gesa menyambut turnamen bergensi untuk standar sepak bola Indonesia di akhir tahun.

Kalaupun Milla mau memperpanjang masa tinggalnya, kiranya apakah ia selunak Alfred Riedl dalaam menggodok timnas Indonesia untuk Piala AFF? Nama terakhir, meski bertampang garang dan dikenal dingin di kalangan media, patuh-patuh saja saat menerima kebijakan limitasi pengiriman pemain dari satu klub ke timnas menjadi hanya dua pemain.

Kebijakan konyol itu diberlakukan sebagai wujud kompromi PSSI menyikapi klub-klub yang keberatan menyerahkan pemain mengingat kompetisi sedang berada di fase krusial. Dua tahun sebelumnya, timnas hancur lebur di Piala AFF 2014 akibat kompetisi baru berakhir dua minggu menjelang sepak mula turnamen yang akhirnya dijuarai tim lapis Thailand tersebut.

Penjadwalan kompetisi domestik secara serampangan tersebut nyatanya terus berulang. Menurut peta problematika jadwal Liga 1 2018 yang disusun Dex Glenniza di Panditfoootball, kompetisi teratas baru akan berakhir pada bulan Desember, sedangkan Piala AFF sendir akan dilangsungkan pada bulan November. Jika ditambah masa persiapan, pengumpulan pemain tentu harus dilakukan lebih dini. Publik pada akhirnya harus bersiap jika skuad Garuda bukanlah yang terbaik yang dapat mereka saksikan.

Percaturan sepak bola internasional bukan tempat yang ramah. Superior di tingkat kontinental saja belum pasti membuat tim-tim Asia berjaya. Melihat cara bersaing negara-negara tetangga harus membuat kita iri. Thailand, Vietnam, dan Filipina akan berpartisipasi di Piala Asia 2019, satu panggung dengan kontestan piala dunia semacam Jepang, Iran, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Australia.

Saat ini, PSSI tampak tidak merencanakan masa depan. Luis Milla didatangkan hanya agar timnas tidak tampil memalukan di Asian Games, bukan untuk menentukan garis besar haluan tim nasional bertahun-tahun ke depan. Jika pelatih untuk ajang Piala AFF 2019 saja Indonesia belum punya, jangan harap kita bisa kompetitif di kualifikasi Piala Dunia 2022 dan kualifikasi Piala Asia 2023.

Semoga PSSI punya sumber daya manusia mencukupi untuk mengarungi tahun-tahun penuh marabahaya di masa depan. SDM untuk pos ketua umum apa perlu diganti?

Najmul Ula
Penderita rabun politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.