OUR NETWORK

Mabuk Piala Dunia, Ke Mana Timnas Senior Indonesia?

John Duerden di Fox Sport Asia sejak jauh hari mengatakan Edy harus memilih: politik atau sepak bola.

Saat tulisan ini disusun, publik sepak bola Indonesia sedang dilanda demam piala dunia, juga masih dimabuk buaian timnas U-19. Piala Dunia memang menciptakan euforia jarak jauh, sebuah kebahagiaan bila timnas (negara lain) jagoan merangsek jauh mendekati trofi.

Tidak demikian halnya dengan timnas u-19, ia memiliki keterikatan dengan masyarakat bola Indonesia. Demam timnas usia muda—yang tentu saja disertai harapan mengulang torehan timnas kelompok umur yang sama dengan pelatih tak berbeda- itu sayangnya datang bersamaan dengan kabar menyedihkan dari kantor PSSI (saya ingin mengasosiasikan entitas tempat dengan institusi yang mendiaminya seperti halnya Gedung Putih untuk menyebut pemerintah federal Amerika Serikat, tapi PSSI nahasnya tidak punya kantor, jadi mari sebut saja “kantor PSSI”).

Ketua umum PSSI Edy Rahmayadi dilaporkan sejumlah lembaga survei akan memenangi Pilkada Sumatera Utara. Dan sementara publik berharap ia sukses di provinsi itu dengan melepas kemudi PSSI, yang bersangkutan menegaskan tidak ada undang-undang yang mampu menghalanginya bila ingin berkuasa di Medan dan Jakarta sekaligus.

Kasus bebalnya pengurus PSSI seperti Edy memang bukan yang pertama kali terjadi, bahkan PSSI sendiri pun terekam sejarah membiarkan personil-personilnya merangkap jabatan di institusi lain. Bekerja ganda ialah suatu kelaziman di tubuh PSSI. Bila Anda terkejut melihat pemimpin kita yang satu itu, jangan-jangan Anda tak tahu pernah ada narapidana yang memimpin PSSI dari hotel prodeo?

John Duerden di Fox Sport Asia sejak jauh hari mengatakan Edy harus memilih: politik atau sepak bola. Demi pengelolaan yang sehat dan profesional, ketum PSSI seharusnya menjauhkan diri dari kepentingan di luar sepak bola.

Jabatan gubernur tidak akan menambah kekuatan apa pun bagi Edy, kecuali kemudaratan dan ketidakefektifan organisasi. Mewujudkan janji kampanye di tingkat provinsi saja sudah teramat susah, apalagi dengan memanggul beban lain yang kadar tanggung jawabnya bisa berkali-kali lipat lebih berat.

Lagipula, di kalangan pengamat, Edy bukanlah seseorang yang kadar kejeniusannya membuat orang mengutip perkataaanya dengan takzim. Ia membuat pandit sepak bola menertawakan pernyataannya tentang absennya rasa nasionalis Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn karena menerima pinangan klub negara tetangga. Pengamat politik (bahkan warganet) sampai terpingkal-pingkal melihat Edy tampil tanpa impresi di event debat kandidat yang disiarkan di televisi nasional.

Meminjam bahasa jurnalis Argentina Sebastian Fest saat timnya tersungkur di Piala Dunia, Edy Rahmayadi bukanlah sebuah penyakit, ia hanya gejala. Ia cuma secuil yang tampak dari wabah salah urus yang menjangkiti sepak bola Indonesia. Sekarang saja mari kita alihkan teropong, dari Sidoarjo ke Palembang.

Timnas sepak bola putri Indonesia yang minim persiapan itu sedang berpeluh jauh dari ingar-bingar media, mereka dihajar Thailand dengan jarak skor dua digit di laga pemanasan, dan tak benar-benar mendapat perhatian dari PSSI. Tak dapat perhatian? Siapa yang bisa menyebutkan sejak kapan PSSI mendedikasikan diri untuk menjalankan kompetisi sepak bola wanita agar tiap ada kewajiban internasional, tim yang dikirim tidak dibentuk secara dadakn, dan yang lebih penting, tidak mencomot pemain dari olahraga sebelah (baca: futsal)?

Itu baru pada satu kelompok timnas. Di nomor putra, kita juga was-was menanti apa yang akan terjadi di Piala AFF tahun ini. Sementara Thailand sudah mulai menganggap turnamen ini sebagai ajang kelas dua dan mulai rutin mengirimkan tim pelapis sejak beberapa edisi lalu, timnas Malaysia yang kita benci sampai mati itu juga sudah menunjuk pelatih muda tempaan mereka dan telah merilis tujuh laga uji coba (catat pula, semuanya menyesuaikan kalender internasional FIFA) di tahun 2018.

Lantas berada di mana Indonesia saat ini? ironisnya, meski Milla dikontrak menangani timnas senior dan u-23, ia cenderung mengabaikan kewajibannya memimpin tim senior. Ini bisa dimaklumi karena PSSI terlihat tidak merasa perlu untuk membentuk tim karena tidak ada kewajiban internasional (baca: turnamen resmi) yang perlu diikuti.

Hei, kita perlu menyadari kontrak Milla akan habis pada bulan Agustus! Asisten pelatih Eduardo Perez sudah memilih untuk pergi, sementara Milla belum mau memikirkan kehidupan setelah Asian Games. Tidak cermat dalam perencanaan sama saja mempersiapkan kegagalan, dan PSSI sangat mungkin bertindak tergesa-gesa menyambut turnamen bergensi untuk standar sepak bola Indonesia di akhir tahun.

Kalaupun Milla mau memperpanjang masa tinggalnya, kiranya apakah ia selunak Alfred Riedl dalaam menggodok timnas Indonesia untuk Piala AFF? Nama terakhir, meski bertampang garang dan dikenal dingin di kalangan media, patuh-patuh saja saat menerima kebijakan limitasi pengiriman pemain dari satu klub ke timnas menjadi hanya dua pemain.

Kebijakan konyol itu diberlakukan sebagai wujud kompromi PSSI menyikapi klub-klub yang keberatan menyerahkan pemain mengingat kompetisi sedang berada di fase krusial. Dua tahun sebelumnya, timnas hancur lebur di Piala AFF 2014 akibat kompetisi baru berakhir dua minggu menjelang sepak mula turnamen yang akhirnya dijuarai tim lapis Thailand tersebut.

Penjadwalan kompetisi domestik secara serampangan tersebut nyatanya terus berulang. Menurut peta problematika jadwal Liga 1 2018 yang disusun Dex Glenniza di Panditfoootball, kompetisi teratas baru akan berakhir pada bulan Desember, sedangkan Piala AFF sendir akan dilangsungkan pada bulan November. Jika ditambah masa persiapan, pengumpulan pemain tentu harus dilakukan lebih dini. Publik pada akhirnya harus bersiap jika skuad Garuda bukanlah yang terbaik yang dapat mereka saksikan.

Percaturan sepak bola internasional bukan tempat yang ramah. Superior di tingkat kontinental saja belum pasti membuat tim-tim Asia berjaya. Melihat cara bersaing negara-negara tetangga harus membuat kita iri. Thailand, Vietnam, dan Filipina akan berpartisipasi di Piala Asia 2019, satu panggung dengan kontestan piala dunia semacam Jepang, Iran, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Australia.

Saat ini, PSSI tampak tidak merencanakan masa depan. Luis Milla didatangkan hanya agar timnas tidak tampil memalukan di Asian Games, bukan untuk menentukan garis besar haluan tim nasional bertahun-tahun ke depan. Jika pelatih untuk ajang Piala AFF 2019 saja Indonesia belum punya, jangan harap kita bisa kompetitif di kualifikasi Piala Dunia 2022 dan kualifikasi Piala Asia 2023.

Semoga PSSI punya sumber daya manusia mencukupi untuk mengarungi tahun-tahun penuh marabahaya di masa depan. SDM untuk pos ketua umum apa perlu diganti?

Penderita rabun politik

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…