Minggu, Oktober 25, 2020

Luka Modric dan Kroasia

Beberapa Alasan Kenapa Kita Harus Berhenti Belajar Filsafat

“Lama ga ketemu, nih. Udah kuliah ya? Kuliah di mana sekarang?” “Sekarang saya kuliah di UI, Om.” “Wah, hebat ya! Ambil jurusan apa di UI?” “Saya jurusan...

Semoga UKP Pancasila Bisa Membina Ideologi Lembaga Negara

Presiden Jokowi, melalui Perpres No 54 Tahun 2017 telah resmi membentuk UKP Pancasila. Sebagai lembaga non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab...

Pandemi dan HAM untuk Pengungsi Rohingya

Etnis Rohingya merupakan Muslim minoritas yang mendiami bagian Rakhine, Myanmar. etnis Rohingya sering mendapat diskriminasi dari masyarakat Myanmar yang merupakan mayoritas Budha, orang Budha...

Pentingnya Intervensi Kemanusiaan Terhadap Etnis Uighur

Belakangan ini, tengah menjadi sorotan dunia masyarakat etnis uighur. Uighur adalah etnis masyarakat yang mayoritas beragama islam yang berasal dari daerah Xinjiang (Republik Rakyat...

Kroasia bukan tanpa perlawanan dan taktikal, tim yang dianggap sebagai kuda hitam ini, mampu melenggang ke babak final. Berada di grup D bersama Argentina, Nigeria dan Islandia. Hrvatska mampu sapu bersih di semua laga pada group stage.

Perjalanan Luka Modric dan kolega di ajang empat tahunan ini memang bukan tanpa semangat. Sebagaimana anggapan media dan opini publik, yang menganggap mereka sebagai kuda hitam, tim besutan Zlatko Dalic seolah menjawab semuanya. Pertama, mereka mampu keluar sebagai juara grup. Kedua, Messi dkk digilas habis oleh mereka dengan skor 3-0 tanpa balas.

Di bawah kepemimpinan Modric selama di lapangan, ia mampu menyebarluaskan semangat militan ke seluruh para pemain. Hal itu yang terus dijaga oleh mereka sampai final.

Hanya saja, final yang berlangsung di Stadion Luzhniki, Moskow pada Minggu (15/7). Mereka bertemu dengan tim yang hampir optimal di semua lini dan mempunyai counter attack yang cepat, yakni Perancis. Namun, siapa yang menyangka mereka telah jauh berlari hingga partai puncak. Meski kalah 4-2, ini adalah suatu pencapaian yang bahkan tim sekelas Belgia, tak mampu melewatinya. Juga untuk pertama kalinya setelah terakhir pada Piala Dunia 1998 yang hanya sanggup berada di semi final dengan pemain bintangnya kala itu, yakni Davor Suker.

Peran Modric dan Pemain Bertebuh Kecil lainnya

Menurut goal.com sang kapten bermain dalam semua tujuh pertandingan Kroasia dengan memberi kontribusi dua gol plus satu assist, di mana kedua cetakan golnya ia bukukan pada saat babak grup menghadapi Nigeria dan Argentina.

Kepiawaiannya dalam menggalang lini tengah juga ditunjukkan dengan mencatatkan 422 umpan sukses, 18 kreasi peluang dan 15 dribel sukses dari 21 percobaan. Catatan yang nyaris lebih baik dari setiap pemain di turnamen tahun ini, oleh karena itu, tidak salah Modric terpilih menjadi yang terbaik di Rusia.

Tak hanya di gelaran akbar saja, di tim nasional sendiri ia telah tercatat sebagai pemain terbaik Kroasia selama 5 tahun beruntun. Di Real Madrid selama sepanjang Liga Champions musim 2017-2018, menurut media whoscored.com tercatat telah melalukan umpan sukses dengan persentase rata-rata 75-94%.

Di tiap musimnya jugador Madrid ini memang terus menginjak stabilitas bermain baik di tim nasional maupun klub. Peran yang penting diemban olehnya sebagai penguasa lini tengah, meski bertubuh kecil dan umur yang tidak lagi muda. Bukan tidak mungkin ia bisa raih penghargaan paling bergengsi yakni Ballon d’Or selama musim ini.

Dengan tinggi tubuh 172cm terhitung lebih pendek rata-rata postur tubuh orang eropa. Namun, dengan tubuh yang mungil Modric bisa lebih leluasa nun lincah menguasai lapangan tengah, guna melancarkan serangan dan umpan di sepertiga lapangan lawan. Maka, akan selalu riskan jika berpikir bahwa Modric dianggap tidak mampu menjadi penguasa lini tengah dunia saat ini.

Kita geser sedikit peran pemain-pemain bertubuh kecil lainnya. Di FC Barcelona ada Xavi Herndandez, peran agak serupa yakni sebagai penyeimbang dan sebagai jembatan transisi dari bertahan ke menyerang. Lalu ada rekan setimnya, Lionel Messi, di mana ia bermain sebagai sayap kanan yang menusuk ke jantung kiri pertahanan lawan. Mundur ke belakang kita semua tahu betapa ikoniknya Diego Maradona dengan gol tangan tuhannya pada Piala Dunia 1986 ke gawang Inggris.

Maka dengan dianggapnya bertubuh kecil sebagai kekurangan, mereka justru mampu menunjukkan stabilitas bermain yang tidak kalah apiknya dengan pemain bertubuh tinggi.

Postur Tubuh dan Kekuasaan

Menurut studi yang dilakukan di Inggris, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kepribadian atau aspek-aspek kehidupan karena postur tubuh.

Berbeda dengan seorang jurnalis David Robson, dalam artikelnya yang tayang di bbc.com ia menyebutkan bahwa dalam satu kajian aspek fisik menunjukkan orang dengan postur tinggi akan mendapatkan suara lebih banyak dalam pemilihan kursi kepresidenan. David menambahkan, di luar ranah politik, pria dan wanita yang lebih tinggi dianggap lebih dominan, lebih sehat, lebih pintar, dan punya peluang lebih banyak dipilih ketika melamar pekerjaan.

Penulis dan pengamat film, Chandra Aditya dalam artikelnya yang berjudul Ant-Man and the Wasp: Jangan Sepelekan Yang Ukurannya Kecil, ia menyebutkan bahwa sutradara film tersebut yakni Peyton Reed, tahu benar bahwa serial Ant-Man bukanlah film Marvel yang paling mentereng.

Ant-Man tidak seterkenal Spider-Man, sekuat Thor, semagnetis Captain America atau sekaya Black Panther dalam segi budaya dan identitas. Dan Reed menggunakan itu sebagai senjata. Ia tahu bahwa ia bisa menggunakan senjata lain, seperti humor tak terkendali, sebagai senjata rahasia. Dan hal tersebut terbukti berhasil. Ant-Man mungkin sederhana namun ia tidak membosankan.

Dari beberapa kajian tentang orang yang bertubuh kecil atau tinggi, seharusnya itu tidak menjadi perbedaan yang signifikan. Meski Luka Modric dan tokoh lainnya lebih pendek dari rata-rata orang barat, stabilitas dan kinerja mereka justru melampaui kebanyakan orang yang berpostur tinggi.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.