Jumat, Oktober 30, 2020

Livi Zheng dan Fenomena Intermedia Agenda Setting

Istri Gus Dur dan Gerakan Multikultural di Bulan Ramadhan

Selama bulan ramadhan ini, istrinya Alm. Gus Dur, yaitu ibu Sinta Nuriyah Wahid mengadakan buka sahur di berbagai daerah di Indonesia. Tema yang diusung...

Jejalan Orang Tionghoa Muslim di Indonesia

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan Prof. Robert W. Hefner, dalam sambutan singkat buku ini, bahwa Hew Wai Weng berhasil menyajikan etnografi yang memikat...

Inovasi Pemerintah Daerah dengan Cinta

Syahdan, para pujangga mengatakan bahwa cinta adalah sebuah variabel yang memiliki hubungan erat dengan semua variabel lain di luar dirinya. Sebuah peperangan besar bisa...

Lakukan Hal Ini Agar Sosialisasi Nyata Terjalin Lebih Intens!

Gadget, kata yang sudah sangat tidak asing lagi saat dibaca pada manusia zaman now yang kemungkinan besar menggunakannya. Karena sebagian besar yang kita lakukan...
hutomo
Content Creator

Nama Livi Zheng mendadak jadi perbincangan publik sedari pertengahan Agustus 2019. Perbincangan netizen berkisar pada klaim-klaim filmnya yang menembus Hollywood, sampai latar belakang keluarganya.

Dirunut dari awal, kontroversi perbincangan netizen tentang Livi Zheng bermula dari unggahan akun Limawati Sudono pada rubrik Komentar di media GeoTimes tanggal 14,15,16, dan 18 Agustus 2019.

Namun, penulis artikel-artikel tersebut tidak menampilkan identitas aslinya. Ia menggunakan foto profil Woodlawn Jane Doe, perempuan yang ditemukan tewas pada 12 September 1976 di  Maryland, Amerika Serikat. Woodlawn Jane Doe adalah sematan nama untuk mayat wanita yang identitas aslinya belum diketahui.

Sebelum mengulas lebih jauh, mari menengok kembali teori agenda setting. Teori agenda setting dibuktikan secara empiris oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw, dua guru besar jurnalisme dari Universitas North Carolina pada tahun 1972.

Teori agenda setting menyatakan bahwa media mempunyai pengaruh kuat dalam menentukan apa yang dianggap penting oleh publik. Teori agenda setting mempunyai dua konsep utama.

Pertama, agenda media yakni daftar isu yang diberitakan oleh media. Agenda media diukur dengan cara menghitung frekuensi pemberitaan suatu isu dan pentingya isu tersebut di media. Pengukurannya dapat melalui penempatan berita pada tampilan awal media, segmen program televisi, penambahan foto atau visual lain yang membuat isu menjadi menonjol dibandingkan isu yang lain.

Kedua, melalui melalui agenda publik yang merujuk pada daftar isu atau peristiwa yang ada dalam pikirian publik. Agenda publik diukur dengan menanyakan kepada responden, isu apa yang menurut mereka anggap penting. Jawaban responden kemudian diurutkan dari yang paling penting ke yang paling tidak penting.

Teori agenda setting menekankan pengaruh media dalam menciptakan suatu isu. Proses penciptaan suatu isu tersebut terus dilakukan lewat liputan yang tinggi atasu suatu isu dan dibarengi dengan mengabaikan isu atau topik lain. Publik kemudian memandang topik yang diliput dengan jumlah besar tersebut sebagai isu yang penting.

Namun, teori diatas dikemukakan dengan kodisi masyarkat pada tahun 70-an. Era dimana komunikasi massa didominasi oleh televisi, koran dan radio. Publik dianggap pasif menerima informasi.

Kini, perubahan format media dan teknologi menyebabkan perubahan cara khalayak dalam mengkonsumsi media. Khalayak mempunyai kesempatan sangat besar untuk memilih media yang sesuai dengan keinginan dan pandangan. Saat ini bukan media yang menentukan pandangan khalayak, tetapi khalayak akan memilih media sesuai dengan pandangan dirinya.

Eriyanto dalam ‘Media dan Opini Publik’ (2018) menyebutkan media memperhitungkan pembicaraan yang berkembang di internet tetapi pada saat yang sama netizen juga memperhatikan topik yang populer di media tradisional.

Isu yang hangat di internet akan diangkat oleh media tradisional dan sebaliknya topik yang hangat di media tradisional akan diperbincangkan juga di intenet. Para ahli komunikasi menyebut fenomena ini sebagai intermedia agenda setting.

Perubahan format media dan teknologi tersebut menyebabkan perubahan cara masyarakat dalam mengkonsumsi media. Khalayak mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk memilih media yang sesuai dengan pandangan dirinya.

Bagaimana fenomena Livi Zheng ditinjau dalam pandangan intermedia agenda setting? Mari kita ulas.

1. GEOTIMES Indonesia mendeklarasikan sebagai portal kolom populer dan terkini tentang tokoh dan kebijakan publik. Dalam tautan tentan redaksi, GEOTIMES Indonesia menyebutkan memberi ruang bagi para pembaca dengan perspektif tajam dari para pakar dan publik seputar agama, ekonomi, politik, sosial, dan media.

Artikel isi yang diunggah oleh pengguna (user generated content) berjudul “Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)” sebelumnya telah disunting dan diterbitkan oleh redaksi GEOTIMES Indonesia.

Oleh karena itu, GEOTIMES Indonesia dianggap sebagai media sosial dengan konten buatan pengguna.

2. Unggahan akun Limawati Sudono segerah menyebar menjadi perbincangan di media sosial lain seperti Facebook, Twitter dan berbagai blog.

3. Unggahan konten di GEOTIMES Indonesia tersebut kemudian diulas oleh media tirto.id dan Asumsi.co secara berseri.

4. Dalam konteks teori agenda setting, media tirto menganggap unggahan tentang Livi Zheng sebagai isu penting. Tak kurang, sedikitnya ada lima karya di Tirto tentang hal ini. Tak aneh bila publik kemudian memandang topik tentang Livi Zheng yang diliput dengan jumlah besar tersebut sebagai isu yang penting.

Sebagai penutup tulisan singkat tentang Livi Zheng dan fenomena intermedia agenda setting, saya mencatat beberapa hal. Pertama, trend kolaborasi antara wartawan dengan pembaca menjadi warna baru industri media di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi penting, untuk menjaga fungsi media massa sebagai surveillance, menjaga agar masyarakat menyadari situasi terkini yang dapat mempengaruhi mereka.

Namun, wartawan Indonesia wajib menaati 11 pasal kode etik jurnalistik khususnya untuk bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Juga kode etik bahwa wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

hutomo
Content Creator
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.