OUR NETWORK

Livi Zheng dan Fenomena Intermedia Agenda Setting

Teori agenda setting

Nama Livi Zheng mendadak jadi perbincangan publik sedari pertengahan Agustus 2019. Perbincangan netizen berkisar pada klaim-klaim filmnya yang menembus Hollywood, sampai latar belakang keluarganya.

Dirunut dari awal, kontroversi perbincangan netizen tentang Livi Zheng bermula dari unggahan akun Limawati Sudono pada rubrik Komentar di media GeoTimes tanggal 14,15,16, dan 18 Agustus 2019.

Namun, penulis artikel-artikel tersebut tidak menampilkan identitas aslinya. Ia menggunakan foto profil Woodlawn Jane Doe, perempuan yang ditemukan tewas pada 12 September 1976 di  Maryland, Amerika Serikat. Woodlawn Jane Doe adalah sematan nama untuk mayat wanita yang identitas aslinya belum diketahui.

Sebelum mengulas lebih jauh, mari menengok kembali teori agenda setting. Teori agenda setting dibuktikan secara empiris oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw, dua guru besar jurnalisme dari Universitas North Carolina pada tahun 1972.

Teori agenda setting menyatakan bahwa media mempunyai pengaruh kuat dalam menentukan apa yang dianggap penting oleh publik. Teori agenda setting mempunyai dua konsep utama.

Pertama, agenda media yakni daftar isu yang diberitakan oleh media. Agenda media diukur dengan cara menghitung frekuensi pemberitaan suatu isu dan pentingya isu tersebut di media. Pengukurannya dapat melalui penempatan berita pada tampilan awal media, segmen program televisi, penambahan foto atau visual lain yang membuat isu menjadi menonjol dibandingkan isu yang lain.

Kedua, melalui melalui agenda publik yang merujuk pada daftar isu atau peristiwa yang ada dalam pikirian publik. Agenda publik diukur dengan menanyakan kepada responden, isu apa yang menurut mereka anggap penting. Jawaban responden kemudian diurutkan dari yang paling penting ke yang paling tidak penting.

Teori agenda setting menekankan pengaruh media dalam menciptakan suatu isu. Proses penciptaan suatu isu tersebut terus dilakukan lewat liputan yang tinggi atasu suatu isu dan dibarengi dengan mengabaikan isu atau topik lain. Publik kemudian memandang topik yang diliput dengan jumlah besar tersebut sebagai isu yang penting.

Namun, teori diatas dikemukakan dengan kodisi masyarkat pada tahun 70-an. Era dimana komunikasi massa didominasi oleh televisi, koran dan radio. Publik dianggap pasif menerima informasi.

Kini, perubahan format media dan teknologi menyebabkan perubahan cara khalayak dalam mengkonsumsi media. Khalayak mempunyai kesempatan sangat besar untuk memilih media yang sesuai dengan keinginan dan pandangan. Saat ini bukan media yang menentukan pandangan khalayak, tetapi khalayak akan memilih media sesuai dengan pandangan dirinya.

Eriyanto dalam ‘Media dan Opini Publik’ (2018) menyebutkan media memperhitungkan pembicaraan yang berkembang di internet tetapi pada saat yang sama netizen juga memperhatikan topik yang populer di media tradisional.

Isu yang hangat di internet akan diangkat oleh media tradisional dan sebaliknya topik yang hangat di media tradisional akan diperbincangkan juga di intenet. Para ahli komunikasi menyebut fenomena ini sebagai intermedia agenda setting.

Perubahan format media dan teknologi tersebut menyebabkan perubahan cara masyarakat dalam mengkonsumsi media. Khalayak mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk memilih media yang sesuai dengan pandangan dirinya.

Bagaimana fenomena Livi Zheng ditinjau dalam pandangan intermedia agenda setting? Mari kita ulas.

1. GEOTIMES Indonesia mendeklarasikan sebagai portal kolom populer dan terkini tentang tokoh dan kebijakan publik. Dalam tautan tentan redaksi, GEOTIMES Indonesia menyebutkan memberi ruang bagi para pembaca dengan perspektif tajam dari para pakar dan publik seputar agama, ekonomi, politik, sosial, dan media.

Artikel isi yang diunggah oleh pengguna (user generated content) berjudul “Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)” sebelumnya telah disunting dan diterbitkan oleh redaksi GEOTIMES Indonesia.

Oleh karena itu, GEOTIMES Indonesia dianggap sebagai media sosial dengan konten buatan pengguna.

2. Unggahan akun Limawati Sudono segerah menyebar menjadi perbincangan di media sosial lain seperti Facebook, Twitter dan berbagai blog.

3. Unggahan konten di GEOTIMES Indonesia tersebut kemudian diulas oleh media tirto.id dan Asumsi.co secara berseri.

4. Dalam konteks teori agenda setting, media tirto menganggap unggahan tentang Livi Zheng sebagai isu penting. Tak kurang, sedikitnya ada lima karya di Tirto tentang hal ini. Tak aneh bila publik kemudian memandang topik tentang Livi Zheng yang diliput dengan jumlah besar tersebut sebagai isu yang penting.

Sebagai penutup tulisan singkat tentang Livi Zheng dan fenomena intermedia agenda setting, saya mencatat beberapa hal. Pertama, trend kolaborasi antara wartawan dengan pembaca menjadi warna baru industri media di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi penting, untuk menjaga fungsi media massa sebagai surveillance, menjaga agar masyarakat menyadari situasi terkini yang dapat mempengaruhi mereka.

Namun, wartawan Indonesia wajib menaati 11 pasal kode etik jurnalistik khususnya untuk bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Juga kode etik bahwa wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Content Creator

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…