in

Literasi Rendah, Indonesia Hancur….


Sejak munculnya kemajuan teknologi yang dahsyat di bidang teknologi informasi, berimbas kepada semangat literasi yang semakin rendah.  Warga bumi lebih asyik masyuk dengan gempuran maha dasyat berbagai berita, informasi, foto, kabar bohong, hanya melalui sebuah benda dalam genggaman tangan bernama handphone. Jika tidak ada tindakan nyata untuk mengimbangi semangat literasi, saya percaya beberapa waktu yang akan datang Indonesia berhasil “dihancurkan”, menjadi negara terbelakang kembali, menuju ke jaman purba.

Beruntung saya memiliki orangtua yang sangat peduli dengan anak-anaknya, dengan melanggankan majalah anak-anak Bobo. Bagi anak desa yang tinggal di lereng gunung Girik, Ngimbang, Lamongan, mendapat majalah Bobo merupakan sesuatu yang luar biasa. Sebab, kala itu, berapa sih gaji seorang guru SD? Tapi, ibuku tetap mampu membayar langganan. Itu tahun 1980-an, lho? Luar biasa, bukan? Bacaan lainnya, yang pasti aku lumat, yaitu Si Kuncung, dan Majalah Jaya Baya. Waktu itu, Bobo, Kuncung dan Jaya Baya menjadi obat mujarab untuk mereguk berbagai pengetahuan. Harap maklum, televisi pun yang ada hanya TVRI. Dan, aku masih ingat, sedesaku, hanya rumahku yang memiliki TV. Jadi, yang nonton TV bukan hanya sekeluarga, tetapi sekampung …


Jaman purba saja,  semangat untuk berliterasi sangat tinggi. Bagaimana dengan jaman yang super maju seperti sekarang ini?  Harusnya, semangat literasi semakin tinggi. Tapi, itu hanya teori. Sebab, faktanya, semangat literasi semakin rendah. Mau bukti?

Lihatlah, anak-anak lebih asyik bermain hanphone. Memang, orang tua yang bijak, hanya memberikan hanphone pada saat-saat tertentu, misal hari libur. Tapi, sebagian orang lebih menyerahkan hidup anak-anaknya kepada handphone. Alasannya sangat klise, agar anak jadi tenang, tidak menganggu kerja orangtua, tidak berisik. Akibatnya, belajar pun jadi lupa. Sebab, mereka lebih asyik dengan bermain game, melihat film di youtube, dan sebangsanya.

Bagaimana dengan siswa di SD, SMP, SMA/SMK? Sama saja. Mereka hanya berkunjung ke perpustakaan ketika ada tugas dari guru. Yah… ini lumayan. Tapi ya itu, begitu tugas selesai, kembali ke laptop, eh handphone. Sayang seribu sayang, orangtua pun membiarkan semacam ini, padahal hal itu bisa meracuni anak bila asyik dengan hanphone semata.

Lebih memprihatinkan lagi, nah ini, bapak ibu guru juga malas, bahkan tidak pernah ke perpustakaan. Alasannya, lagi-lagi klise, banyak kerjaan, harus koreksi,  menyelesaikan tugas sekolah, dan sebagainya. Lha, kalau sang guru saja malas ke perpustakaan, malas berliterasi, bagaimana dengan siswanya. Kan, sama saja,  sami mawon.

Maka, di hari Literasi Internasional ini, marilah kita ubah semangat baru untuk menumbuhkan semangat berliterasi. Tentu saja, literasi ini bisa bermacam-macam, membaca buku, menulis, mengarang, membuat karangan yang positif, membuat cerita, dan sebagainya. Jadi, kita tidak asyik dalam kemajuan digital memporakporandakan semangat literasi. Tetapi, kita menjadi semangat untuk  membaca, semangat untuk berkarya, dan menorehkan tuah positif. Ingat, literasi rendah bisa membuat kehancuran negeri ini.

Yuk, kita gaungkan semangat literasi. Selamat Hari Aksara Internasional.


Written by cosmas gun

orang biasa yang suka nulis di koran, majalah, blog. orang biasa yang bisa mengedit buku untuk diterbitkan. Orang biasa yang ikut di berbagai komunitas. Orang biasa yang kadang berwirausaha apa saja.