Jumat, Februari 26, 2021

Literasi Rendah, Indonesia Hancur….

Beda Agama, Satu Visi Kemanusiaan

Pernah suatu ketika saya ditanya oleh seorang murid ngaji di pelosok kampung sana perihal kebaikan. Anak usia SD yang menjadi murid ngaji saya bertanya,...

Wajah Seram Senayan

Sidang Paripurna DPR bersama Pemerintah akhirnya mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR,DPR,DPD, dan DPRD. Revisi yang pada akhirnya menimbulkan perdebatan banyak...

Inti Pendidikan dalam Pesantren

Salah satu the great tradition di Indonesia ialah tradisi pengajaran agama Islam seperti pesantren di Jawa. Alasan mendasar kehadiran pesantren ialah untuk mentransmisikan Islam...

Joker dan Standar Kenormalan Ala Foucault

Jauh sebelum film Joker (2019) yang turut menyisipkan pesan tentang kegilaan muncul di layar lebar, Foucault telah merumuskan filsafatnya tentang kegilaan. Dalam buku-bukunya Foucault...
cosmas gun
orang biasa yang suka nulis di koran, majalah, blog. orang biasa yang bisa mengedit buku untuk diterbitkan. Orang biasa yang ikut di berbagai komunitas. Orang biasa yang kadang berwirausaha apa saja.

Sejak munculnya kemajuan teknologi yang dahsyat di bidang teknologi informasi, berimbas kepada semangat literasi yang semakin rendah.  Warga bumi lebih asyik masyuk dengan gempuran maha dasyat berbagai berita, informasi, foto, kabar bohong, hanya melalui sebuah benda dalam genggaman tangan bernama handphone. Jika tidak ada tindakan nyata untuk mengimbangi semangat literasi, saya percaya beberapa waktu yang akan datang Indonesia berhasil “dihancurkan”, menjadi negara terbelakang kembali, menuju ke jaman purba.

Beruntung saya memiliki orangtua yang sangat peduli dengan anak-anaknya, dengan melanggankan majalah anak-anak Bobo. Bagi anak desa yang tinggal di lereng gunung Girik, Ngimbang, Lamongan, mendapat majalah Bobo merupakan sesuatu yang luar biasa. Sebab, kala itu, berapa sih gaji seorang guru SD? Tapi, ibuku tetap mampu membayar langganan. Itu tahun 1980-an, lho? Luar biasa, bukan? Bacaan lainnya, yang pasti aku lumat, yaitu Si Kuncung, dan Majalah Jaya Baya. Waktu itu, Bobo, Kuncung dan Jaya Baya menjadi obat mujarab untuk mereguk berbagai pengetahuan. Harap maklum, televisi pun yang ada hanya TVRI. Dan, aku masih ingat, sedesaku, hanya rumahku yang memiliki TV. Jadi, yang nonton TV bukan hanya sekeluarga, tetapi sekampung …

Jaman purba saja,  semangat untuk berliterasi sangat tinggi. Bagaimana dengan jaman yang super maju seperti sekarang ini?  Harusnya, semangat literasi semakin tinggi. Tapi, itu hanya teori. Sebab, faktanya, semangat literasi semakin rendah. Mau bukti?

Lihatlah, anak-anak lebih asyik bermain hanphone. Memang, orang tua yang bijak, hanya memberikan hanphone pada saat-saat tertentu, misal hari libur. Tapi, sebagian orang lebih menyerahkan hidup anak-anaknya kepada handphone. Alasannya sangat klise, agar anak jadi tenang, tidak menganggu kerja orangtua, tidak berisik. Akibatnya, belajar pun jadi lupa. Sebab, mereka lebih asyik dengan bermain game, melihat film di youtube, dan sebangsanya.

Bagaimana dengan siswa di SD, SMP, SMA/SMK? Sama saja. Mereka hanya berkunjung ke perpustakaan ketika ada tugas dari guru. Yah… ini lumayan. Tapi ya itu, begitu tugas selesai, kembali ke laptop, eh handphone. Sayang seribu sayang, orangtua pun membiarkan semacam ini, padahal hal itu bisa meracuni anak bila asyik dengan hanphone semata.

Lebih memprihatinkan lagi, nah ini, bapak ibu guru juga malas, bahkan tidak pernah ke perpustakaan. Alasannya, lagi-lagi klise, banyak kerjaan, harus koreksi,  menyelesaikan tugas sekolah, dan sebagainya. Lha, kalau sang guru saja malas ke perpustakaan, malas berliterasi, bagaimana dengan siswanya. Kan, sama saja,  sami mawon.

Maka, di hari Literasi Internasional ini, marilah kita ubah semangat baru untuk menumbuhkan semangat berliterasi. Tentu saja, literasi ini bisa bermacam-macam, membaca buku, menulis, mengarang, membuat karangan yang positif, membuat cerita, dan sebagainya. Jadi, kita tidak asyik dalam kemajuan digital memporakporandakan semangat literasi. Tetapi, kita menjadi semangat untuk  membaca, semangat untuk berkarya, dan menorehkan tuah positif. Ingat, literasi rendah bisa membuat kehancuran negeri ini.

Yuk, kita gaungkan semangat literasi. Selamat Hari Aksara Internasional.

cosmas gun
orang biasa yang suka nulis di koran, majalah, blog. orang biasa yang bisa mengedit buku untuk diterbitkan. Orang biasa yang ikut di berbagai komunitas. Orang biasa yang kadang berwirausaha apa saja.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.