Banner Uhamka
Rabu, September 23, 2020
Banner Uhamka

Literasi Penting untuk Menghadang Indoktrinasi

Kasus Nikmat Artis Rp80 Juta, Biasa Aja Tuh!

Terbongkarnya kasus prostitusi online yang diduga melibatkan artis Vanessa Angel oleh Polda Jawa Timur, tidak perlu dihebohkan. Skandal lendir nikmat artis seharga Rp80 juta...

Meneropong Politik Asertif Kampus

Sore itu, bus Trans Jakarta koridor 1, Blok M – Kota Tua, yang membawa saya menuju Jl. Jend. Sudirman mendadak berhenti sebelum halte Gelora...

Krisis Air di Ambang Kritis

Kota megapolitan DKI Jakarta memiliki pekerjaan rumah cukup berat dalam rangka menghadapi ancaman kekeringan di Pulau Jawa ke depan. Pasalnya, daerah dengan luas sekitar...

Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #1

Sososk Aidit selalu populer setiap peristiwa Gestok/65 digulirkan dalam pertarungan wacana. Di tingkat akar rumput banyak yang menilai dan menghakiminya tanpa mengenal sejarah dan...
Historis Soterman Halawa
Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang. Organisasi Kampus: UK-WP2SOSPOL (Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik) Tahun Masuk: 2017

Maraknya kasus pengamanan buku berisi komunisme atau berhaluan kiri di Indonesia oleh para aparat keamanan membawa kesan atau reaksi spontan yang berasal dari pusaran penggiat literasi di Indonesia.

Dari banyaknya pro maupun kontra terkait dengan pengamanan toko-toko buku berhaluan kiri tersebut sepertinya dirasa perlu mengadakan semacam upaya untuk mendialogkan kembali mengenai apakah semua buku yang dianggap berhaluan kiri tersebut memang benar-benar berbau komunisme atau tidak?

Atau bahkan pertanyaan yang terlintas dalam pikiran kita bahwa, “Jika buku-buku tersebut memungkinkan berbau komunisme, apakah implikasinya bisa mengancam otoritas negara atau bahkan keutuhan Pancasila?” Untuk itu segala upaya dalam menyamakan persepsi atas fenomena-fenomena yang hampir sama halnya pada zaman orde baru harus didiskursuskan kembali. Bersama dengan itu kekuatan otot lebih dominan didalam memberantas kekuatan otak.

Dalam satu bulan terakhir, dikabarkan bahwa Kodim 0909 Kediri menyita ratusan buku yang diindikasi berisi ajaran paham komunis, dan di Padang, Sumatera Barat, aparat gabungan juga menyita enam eksemplar buku yang diduga mengandung paham komunis.

Ketidakjelasan dari aparat keamanan tersebut banyak menyalahartikan perhatian publik terhadap tindakan para aparat keamanan dalam menafsirkan TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis di Indonesia sebagai Organisasi Terlarang di seluruh wilayah NKRI.

Di dalamnya terdapat dalam Pasal 2 mengatakan bahwa, “Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan faham atau ajaran tersebut dilarang.”

Pasal diatas sebagai sebuah wacana berpotensi masih bisa dipertentangkan berkaitan dengan pengamanan buku-buku beraliran komunisme di Indonesia. Dalam hal ini, kita bertolak pada keadaan akademis orang Indonesia yang sebagian besar berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Memang dalam konstitusi, Pancasila adalah landasan tertinggi sekaligus ideologi dari Negara Indonesia, untuk itu dalam menjaga keutuhan dan eksistensinya perlu upaya menggiatkan dan menyadarkan bangsa Indonesia dari paham-paham luar yang bertentangan dengannya.

Akan tetapi, selintas untuk mengingat kemajuan-kemajuan intelektual pelajar-pelajar Indonesia, kita tidak dapat memungkiri bahwa buku adalah salah satu sarana literasi yang memungkinkan untuk menghasilkan produk pemikiran kritis bagi para pelajar agar bisa menebas semua paham-paham negatif yang bermunculan. Oleh sebab itu, solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menggiatkan literasi dalam bentuk bacaan, yaitu buku.

Buku adalah wadah atau kertas dimana tertoreh tulisan-tulisan yang berasal dari pengalaman, penghayatan, dan imajinasi dari seorang penulis. Buku sebagai penunjang kecerdasan intelektual sangat ampuh dalam menjadi strategi jitu dalam mencapai sasaran bagi seseorang.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa buku memang berasal dari berbagai latar belakang pemikiran penulis seperti prioritasnya tentang ideologi, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Bagi dunia akademis hal tersebut adalah sebuah kewajaran dan upaya mengasah ketajaman berpikir dan memperhalus perasaan. Dalam kaitannya dengan peristiwa pengamanan buku-buku yang diduga berbau komunis, hal yang mengejutkan kembali terjadi seperti di era orba.

Ini seakan seperti dramaturgi yang menampilkan sebuah kisah dimana para pahlawan bermunculan kembali memberantas segala sesuatu yang berniat mengancam keselamatan raja dan kekuasaannya.

Jika persepsi kita mengatakan demikian untuk memberantas paham komunis yang bertujuan mengancam Pancasila dan kedaulatan wilayah NKRI, bagaimana dengan mereka yang literasinya minim akan kesalahpahaman dalam mengartikan apakah komunisme itu buruk atau baik, bisa mengetahuinya tanpa ada sarana berupa buku yang membuktikan sejarah maupun perjuangannya bahwa komunis memang sebuah paham yang radikal atau negatif?

Luar biasa jika generasi baik kalangan pelajar maupun masyarakat tidak mendapat suguhan pemahaman mengenai itu semua akibat persepsi negara yang serampangan mengamankan buku-buku yang gaweannya belum tentu termasuk dalam lingkup komunisme.

Kita tidak berperan sebagai pembela komunisme, akan tetapi dalam hal ini kita perlu berupaya memberi penjelasan mengenai apakah dunia akademis Indonesia tidak perlu diberi semacam literasi kritis untuk berjaga-jaga di segala situasi apabila paham yang tidak kita kenal menyerang kita dan mendoktrin kita?

Itu lebih buruk daripada sekedar hanya membaca buku berhaluan kiri untuk mengaktifkan jiwa kritis kita untuk menghadang segala bentuk pengancaman dari aliran atau paham radikal. Buku perlu untuk sarana literasi bukan sekedar dianggap sebagai sarana indoktrinasi yang substansinya tidak terlalu ekstrim kiri. Dengan membaca banyak tentang kejahatan atau taktik paham asing dalam mengancam Pancasila dan NKRI, maka bisa dipastikan bahwa kita mampu untuk tidak ikut didalamnya dan mampu memberi pelajaran kepada masyarakat awam lainnya bahwa ajaran radikal bisa menyusup dari mana saja.

Sekali lagi bahwa buku adalah sarana literasi dalam membuat kekritisan masyarakat kita menjadi lebih segar, dan bisa menebas segala paham-paham asing yang akan melaluinya. Itu hanya bisa dilakukan oleh pikiran-pikiran yang paham akan hal itu yaitu satu-satunya dengan upaya membaca dan menggiatkan literasi dalam arena publik tanpa mengindoktrinasi pemikiran massa.

Hanya dengan hal itu kita bisa meminimalisir segala kesalahpahaman persepsi publik akan segala upaya pembodohan massal yang berasal dari wacana-wacana yang mengatakan bahwa dengan membaca buku kiri, kita pasti akan menjadi kiri. Pernyataan tersebut akan lebih berpotensi diucapkan oleh orang-orang yang memang belum pernah sama sekali atau minim pengetahuannya tentang aliran paham kiri.

Historis Soterman Halawa
Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang. Organisasi Kampus: UK-WP2SOSPOL (Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik) Tahun Masuk: 2017
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Hubungan Hukum Agama dan Hukum Adat di Masa Kolonial

Dalam rangka memahami sistem sosial dan nilai-nilai yang berada di masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengangkat seseorang penasihat untuk membantu mereka dalam mengetahui...

Disiplin, Senjata Ampuh Melawan Corona

Sejak ditemukan penyakit Covid-19 yang diakibatkan oleh virus corona pada akhir tahun 2019, pandemi ini telah menembus angka 30 juta korban kasus positif di...

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon. Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.