Selasa, Desember 1, 2020

Literalisme dan Tantangan Keberagamaan Kita

Salah Kaprah Kapitalisme

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah cerita saat saya mudik ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu. Saya berkesempatan untuk bertemu beberapa rekan-rekan...

Jassin dan Generasi Milenial

Seratus tahun lampau, 31 Juli 1917, Hans Bague (H.B.) Jassin) lahir ke dunia. Anak Gorontalo itu semasa hidupnya menandai kebangkitan tradisi literasi Indonesia. Ia...

Sagu Hati untuk Si Merah

“Mereka adalah Si Merah. Bibir merah merona, rembut bercat merah, berpakaian merah, berseliweran di jalanan dan ranjang ‘merah’ pula” Saya sebagaimana masyarakat sekitar Jalur Pantura...

Terma “Kafir” dalam Negara Hukum

Sesaat setelah diumumkannya rekomendasi Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Kota Banjar tentang status atau kedudukan non muslim dalam negara bangsa (nation state), banyak...
Ahmad Hifni
A Long Life Learner. Studi Ph.D di SPs UIN Jakarta

Di tengah maraknya semangat simbolisme agama mutakhir ini, seperti demonstrasi atas nama agama, pamer poligami, kampanye berjubah, memelihara jenggot, hingga pelabelan kafir terhadap ‘yang lain’ telah membawa kita pada persoalan mendasar cara kita memahami agama itu sendiri. Fenomena tersebut mesti kita cermati sebagai tantangan keberagamaan kita di masa yang akan datang.

Di atas permukaan, siapapun mesti menaruh simpati terhadap mereka yang mampu melakukan ritual keagamaan secara ketat. Hal itu karena semarak ritualisme merupakan hak setiap pemeluk agama untuk menunaikannya secara baik dan benar. Namun, hal tersebut bukan berarti menutup kemungkinan lahirnya pemikiran keagamaan yang beragam. Karena perbedaan ruang telah memberikan kesempatan bagi setiap umat untuk memaknai kembali doktrin keagamaan.

Imam Syafi’i misalkan, karena perbedaan ruang dan waktu telah mendorongnya untuk berijtihad dan melahirkan pandangan yang berbeda, sehingga dia dikenal sebagai ulama yang memiliki dua pandangan: pandangan lama (qaul qadim) dan pandangan baru (qaul jadid). Begitu juga dengan Ibnu Rusyd, meskipun ia terkesan memihak mazhab Maliki, namun jika kita membaca kitabnya Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, maka sebenarnya ia mengapresiasi mazhab-mazhab lain sebagai khazanah yang hadir dalam sejarah Islam.

Persoalannya, mutakhir ini ada semacam klaim kebenaran dari kelompoknya sendiri, sehingga pemikiran keagamaan yang berbeda dianggap salah dan bertentangan dengan ajaran Tuhan.  Sejauh ini, saya melihat itu semua berawal dari arus deras semarak literalisme dan tekstualisme (al-fahm al-harfy) dalam pemahaman agama. Tak bisa dimungkiri, ongkos mahalpun harus dibayar sebagai konsekuensi atas merebaknya pandangan keagamaan seperti itu.  

Biasanya, pandangan literal bisa dilihat dari beberapa karakteristik. Pertama, unifikasi agama dan pemikiran keagamaan (tawhid al-din wal al-fikr al-diny). Menurut kalangan tekstualis, pemikiran keagamaan adalah agama itu sendiri, sehingga perbedaan pandangan dianggap sebagai perbedaan agama. Padahal ‘ilmu agama’ bersifat profan, sedangkan ‘agama’ itu sendirilah yang sakral. Titik lemah pemikiran keislaman mereka adalah percampuradukan antara keduanya.

Kedua, teosentrisme. Kalangan tekstualis beranggapan bahwa pandangan keagamaan mereka merujuk kepada Tuhan, sedangkan pandangan yang lain merujuk kepada selain Tuhan. Ini menyebabkan munculnya keyakinan bahwa mazhabnya adalah yang paling benar. Atas nama Tuhan mereka menolak perbedaan dan keragaman pandangan. Mereka biasanya menolak modernitas bukan karena watak eksploitasi modernitas, tetapi lebih karena modernitas dianggap bukan berasal dari agama dan dianggap bertentangan dengan ajaran ketuhanan.

Ketiga, otoritas salaf. Kalangan tekstualis beranggapan bahwa salaf adalah yang paling benar, sedangkan yang modern adalah yang tidak benar. Al-salaf al-shalih adalah penghargaan yang diberikan mereka kepada para ulama salaf. Ketergantungan kepada salaf menyebabkan mereka selalu harus menghadirkan yang salaf dalam konteks kemodernan. Yang salaf diyakininya sebagai cara terbaik untuk memecahkan persoalan kekinian.

Ketiga logika-logika tersebut yang biasanya mereka gunakan dalam pandangan dan sikap keagamaan mereka. Sebenarnya, pada titik ini tidak ada masalah. Namun, kerumitan akan menghantui kita ketika mereka menggunakan agama sebagai justifikasi otoritas tertentu. Agama kemudian tidak berarti apa-apa jika tidak diformalisasikan dalam politik praktis. Agama dibentuk sedemikian rupa untuk menjadi ideologi politik. Maraknya kampanye formalisasi syariat sebenarnya didukung sepenuhnya oleh pandangan keagamaan yang bersifat literal dan tekstual ini.

Di sisi lain, mereka juga menggunakan agama sebagai kendaraan untuk membuldoser pandangan keagamaan yang lebih moderat. Akibatnya, perbedaan acapkali diakhiri dengan kekerasan. Faktanya, kita masih mendapatkan sebagian masyarakat yang menggunakan kekerasan, seperti memberi label kafir dan munafik terhadap mereka yang berbeda pandangan agama maupun politik. Langkah tersebut, menurut mereka dilandaskan pada doktrin-doktrin keagamaan yang otentik.  

Di sinilah kita mesti mewaspadai adanya sikap-sikap di luar akal sehat, karena hanya akan membawa citra buruk terhadap agama itu sendiri. Pelabelan kafir dan munafik hanya akan mempertegas kekakuan dalam beragama. Muhammad Abduh mempunyai pandangan menarik agar kita menghindari upaya pengkafiran. Menurutnya, “apabila dalam diri seseorang terdapat sembilan puluh sembilan persen kekufuran dan satu persen keimanan, maka ia sebenarnya muslim”. Pandangan tersebut sepatutnya kita jadikan rujukan untuk senantiasa merayakan perbedaan pendapat guna menguak dimensi yang tak terpikirkan dalam agama (allamufakkar fi al-khitab al-diny).

Oleh karena itu, kita mesti mencari model keberagamaan yang lebih menyentuh hajat masyarakat luas. Misalnya, problem kemiskinan yang hampir merata di kalangan masyarakat, problem ketidakadilan di segala sektor kehidupan, hingga problem kebijakan politik yang timpang dan merugikan khalayak ramai. Di sinilah semestinya agama mempunyai konsern untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk eksploitasi, yang tidak sesuai dengan kemaslahatan dan akal budi.

Karena itu, tantangan keberagamaan kita di masa mendatang bukan hanya sebatas doktrinal, melainkan tantangan yang bersifat empirik, yaitu problem kemanusiaan yang amat mendasar: konflik sosial, kekerasan dan ketidakadilan. Karena keberagamaan kita akan ditentukan dengan sejauhmana pergulatan kita dengan realitas kemanusiaan.

Wallahua’lam 

Ahmad Hifni
A Long Life Learner. Studi Ph.D di SPs UIN Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.