Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Lelucon Republik: Dari Sule, Influencer, Hingga Staf Khusus Presiden (1)

Sejak Kapan Allah Punya Partai?

Sejak kapan nama Allah disandingkan dengan kata ‘partai’? kita bisa langsung tahu jika pelekatan dua istilah itu terjadi dalam beberapa waktu yang lalu ketika...

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk...

Tanpa Ada Bendungan Air, Petani Bisa Panen?

Acara debat presiden yang pertama saya menonton kalau saya tidak salah mendengar sekilas ada kata kata capres yang keluar mengatakan begini  “tanpa ada bendungan...

Arsenal Masih Dilanda Krisis

Delapan belas pekan telah berlalu, Arsenal malah berada di peringkat ke-10 Liga Premier Inggris. Perolehan 23 poin dari 18 laga menjadi catatan yang sangat...
Adi Fauzanto
Law Student at Brawijaya University

Pindahnya artis Sule (Sutisna) dan Andre dari acara lawak fenomenal pada tahun 2010an, saya kira menjadi akhir dari lelucon di negara ini. Atau turunnya kualitas acara Stand Up Comedy disalah satu stasiun TV pada tahun 2018an, saya kira juga menjadi akhir dari Lelucon di negeri ini.

Anggapan saya salah, ternyata benar saja Indonesia berbakat sekali dalam hal lelucon. Tidak terputus disana, muncul lelucon yang melebihi dan bahkan bisa menjadi lelucon terlucu dekade ini. Dan kebetulan juga dunia ini sedang tertimpa musibah wabah, untungnya Indonesia berbakat dalam hal lelucon sehingga bisa menjadi penghibur dikala suntuk atau sakit.

Sebelum membaca lebih lanjut, percayalah lelucon dapat menyebabkan tertawa sehingga meningkatkan kebahagiaan emosional (konsep psikosomatis) dapat menjaga imun tubuh (Litbang Kompas, 2020). Terkhusus Kominfo jangan tegang-tegang untuk mencari informasi Hoax.

Mari kita buktikan dan urutkan lelucon-lelucon nya, agar nantinya ini bisa dilihat oleh anak-cucu-cicit kita, bahwa Indonesia berbakat sekali dalam hal lelucon. Oh iya, sebelum mengurutkan, arti dari lelucon sendiri untuk sementara melihat KBBI ialah hasil melucu; tindak yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka.

Lelucon Influencer 

Pertama, dan yang paling utama, kita mulai dari lelucon influencer. Disaat China di bulan Januari sedang berjibaku dengan covid19, disusul negara-negara tentangga seperti Korea Selatan, dan beberapa negara lainya. Terdapat negara yang fenomenal, alih-alih pusing atau berjibaku untuk melawan covid19. Negara ini malah merencanakan mengundang turis untuk datang melalui ajakan dari influencer.

Fenomenal nya lagi menggunakan insentif untuk tiket dan para influencer untuk promosi. Tidak tanggung-tanggung biayanya mencapai 72 Miliar hanya untuk influencer, 103 Miliar untuk promosi, dan kegiatan pariwisata 25 Miliar (CNN,2020). Untungnya fenomena ini bukan di negara Indonesia.

Lelucon Riset Harvard

Kedua, disaat dunia mengagungkan dunia pendidikan dari kampus termasyhur ini, yang automatis dalam dunia kampus identik dengan majunya riset atau penelitian. Menteri kita tercinta, Menteri Kesehatan, alih-alih pusing dengan hal itu. “Kalau ada orang lain mau melakukan survei, riset, dan dugaan, ya silahkan saja; tapi janganlah mendeskreditkan suatu negara. Itu namanya menghina itu.” (Tirto, 2020).

Harvard ini payah, itu namanya menghina! Indonesia ini mengutamakan harga diri ketimbang riset” ujar penulis kolom opini ini. Setelah diketahui, riset ini berujudul “Using Predicted Imports of 2019-nCov Cases to Determine Locations That May Not Be Identifying All Imported Cases”.

Riset ini bersisikan penghitungan dengan menggunakan model Poisson, dengan menghitung jumlah kasus yang terkonfirmasi diluar Tiongkok terhadap jumlah penumpang penerbangan international dari bandara Wuhan. Hasilnya menunjukan korelasi positif antara jumlah penumpang penerbangan dari Wuhan terhadap meningkatkan kasus covid19 di negara lain. Kecuali Indonesia dan Kamboja.

Lelucon Perkataan Soal Korona

Selanjutnya yang ketiga, mengenai perkataan pejabat-pejabat kita tercinta. Saya sedikit mengutip apa yang dibicarakan pejabat tercinta kita, pertama mulai dari Menteri Kesehatan (11/02/2020).

Perkara Indonesia itu tidak ada (virus corona) ya berkat yang maha kuasa, karena doa kita semua. Kita tidak mengharapkan itu ada. Dan kita terus berdoa mudah-mudahan jangan ada mampir ke Indonesia” (CNN, 2020)

Kedua, dari bapak Menkopohulkam tercinta (3/3/2020).

Setiap daerah itu supaya membuat tenang. Tidak membuat situasi seperti menakutkan itu ya, biasa saja. Itu biasa-biasa saja. Yang lebih banyak membunuh manusia itu justru flu biasa, bukan Corona itu.” (Alinea, 2020)

Ketiga, dari bapak Wakil Presiden kita, kyai termasyhur di Indonesia (28/02/2020).

Banyak kyai dan ulama yang selalu membaca doa qunut. Saya juga begitu. Baca doa qunut untuk menjauhkan bala, bahaya, wabah-wabah dan penyakit. Makanya, Corona minggir di Indonesia” (CNN, 2020)

Tertanggal sampai hari ini (14/04/2020) jumlah korban mencapai 459 manusia yang meninggal (CNN, 2020). Dan kalian bisa simpulkan sendiri.

Dari saya sendiri hanya ingin mengucapkan berduka cita kepada seluruh korban dan keluarga korban yang meninggal karena Covid19, semoga pejabat kita dibalas nanti sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Saya juga tidak tahu dibalas apa tidak, dan percayalah ini bukan hanya sekedar takdir.

Lelucon Salah Beli Alat Test

Selanjutnya yang keempat dari peralatan kesehatan. Disaat pemerintah mengimpor alat test cepat (Rapid Test) hingga satu juta jumlahnya (Warta Ekonomi, 2020). Yang dimulai ketika Presiden memilih meriksaan massal dibanding karantina.

Sayang seribus sayang, menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid19, metode Rapid Test tidak efektif dan akurat (CNN,2020). Didukung hasil penelitian dari jurnal berjudul “Antibody Responses to SARS-CoV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019” bahwa tingkat sensivitas rapid test sekitar 36% dari 100%.

Lelucon Silang Kebijakan

Yang kelima, disaat pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk kota saya mengenyam pendidikan Kota Malang, menghimbau untuk melarang mudik para warganya. Dilain waktu, Menteri Fenomenal dan Termayshur, Luhut Binsar Panjaitan, membolehkan (tidak melarang) warganya untuk mudik. Karena jika dilarang, warga masih tetap akan mudik (Kumparan, 2020).

Selain terkait mudik, terdapat lelucon dari Kota Tegal dan beberapa kota lainya, dimana kota tersebut melakukan Lockdown (karantina wilayah) sendiri atas inisiatif pemerintah daerah, setelah nya pemerintah pusat memerintahkan melalui Presiden dan Mendagri untuk setiap daerah untuk menaati arahan pemerintah pusat terkait lockdown atau karantina wilayah.

Ternyata terdapat kejadian lainya, terkait kebijakan ojek online membawa penumpang. Disatu sisi, peraturan menteri kesehatan (permenkes) terkait PSBB melarang operasional ojek online tidak untuk membawa penumpang. Sedangkan, peraturan menteri perhubungan (permenhub) memperbolehkan angkutan umum mengangkut penumpang saat wabah Covid19 dengan protokol kesehatan.

Untungnya, kedua hal tersebut diklarifikasi tidak terdapat pertentangan karena peraturan Kemenkes ditunjukan untuk daerah yang menerapkan PSBB dan peraturan kemenhub ditunjukan untuk skala nasional. (Baca Permenhub 18/2020 dan Permenkes 9/2020).

Silang kebijakan ini, nantinya menjadi pelajaran tersendiri kedepan untuk pemerintah diera selanjutnya. Seperti koordinasi, keterhubungan, kerjasama. Klise, tapi jika tidak lelucon ini akan terulang di saat anak-cucu-cicit kita.

Lelucon Sibuknya DPR

Keenam, Fenomena lelucon selanjutnya, sebenarnya sudah berlangsung disaat tahun 2019. Disaat DPR dan teman-temanya, cepat sekali untuk merubah (merevisi) Undang-Undang tentang KPK. Terjadi lagi saat ini dengan Undang-Undang yang tidak kalah fenomenal, yaitu Omnibus Law (Sapu Jagat) yang dibahas dalam masa wabah seperti ini, Fenomenal! Bravo! Bahkan tertanggal hari ini (14/04/2020) masih dibahas, Fenomenal! Saya cinta DPR kita! (Bersambung)

Adi Fauzanto
Law Student at Brawijaya University
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.