Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Lebaran Para Pemenang

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Indonesia Kita Tetap Baik-Baik Saja ke Depannya

Hingga hari ini, sekira satu bulan berlalu setelah bencana gempa dan tsunami menimpa saudara-saudara kita yang ada di Sulawesi Tengah, dan dua bulan lamanya...

Sistem Kepercayaan Masyarakat Primitif

Dalam memberikan terma pada kepercayaan dan agama, sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda, dan ada batasan-batasan tersendiri. Tapi di sini, penulis akan memberi pengertian yang...

Tahun Politik, Inilah Kriteria Pemimpin “Islami”

Tahun ini, politik menjadi obrolan utama dari setiap perbincangan ibu-ibu di pasar saban pagi. Pasalnya, sebanyak 171 daerah, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten akan...
A.Ramdani AZ
Education Program Planner & Consultant for School Development

Lebaran, istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk mengistilahkan perayaan hari Idul fitri. Kata ‘lebaran’ sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ‘hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul fitri’.

Merayakan hari lebaran berarti merayakan hari raya fitri (Idul fitri), setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh bulan Ramadhan. Dalam terminologi ajaran Islam, Idul fitri dianalogikan sebagai perayaan kemenangan, kembali kepada ‘fitrah’, asal penciptaan manusia. Merayakan kemenangan atas apa? Kembali kepada fitrah yang bagaimana?

Menurut catatan tarikh Islam, pertama kali Rasulullah merayakan Hari Raya ‘Idul fitri yaitu pada tahun 2 hijriyah. Ketika Rasulullah kembali dari perang Badar, beliau bersama para sahabat merayakan dua kemenangan; kemenangan mengalahkan kaum kafir musyrikin dalam pertempuran sengit di perang Badar, dan kemenangan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan shalat Ied pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar. Rasulullah SAW pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi SAW bersandar pada Bilal RA dan menyampaikan khutbahnya.

Merayakan kemenangan adalah sebuah ungkapan sikap syukur setelah melaksanakan “perjuangan” menahan hawa nafsu selama sebulan penuh. Ibadah puasa sebagai salah satu ibadah  ritual yang disyariatkan bagi umat Islam bertujuan melatih setiap individu agar mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Nafsu jasmani berupa menahan lapar dan dahaga, nafsu seksual, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Juga  nafsu ruhani, yakni menahan amarah, menahan diri dari hal-hal tercela baik secara tingkah laku perbuatan  maupun lisan. Bahkan menurut kalangan ulama tasawuf, ibadah puasa yang utama yaitu mengendalikan hati dan pikiran dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah, atau bahkan dari hal-hal yang mubah.

Setelah proses perjuangan tersebut, sebagai rasa syukur seluruh muslim merayakannya dengan penuh suka cita, menggemakan takbir, memuji kebesaran Allah, dan melaksanakan sholat sunnah Idul fitri.

Perayaan lebaran kemudian menjadi lebih semarak dan dijadikan moment kegiatan silaturahmi yang sakral. Moment berbagi kebahagiaan antar keluarga, antar kerabat dan tetangga. Dan yang menjadi salah satu tradisi besar tahunan, moment lebaran adalah waktunya bagi  setiap perantau ibukota dari berbagai daerah untuk kembali kepada sanak kekuarganya di kampung halaman  masing-masing.

Makna “kembali kepada fitrah”, yang diistilahkan dengan “Idulfitri”, merupakan sebuah capaian, sebuah ujung perjalanan setelah melewati suatu masa dimana kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, melatih diri mencapai  esensi kemanusiaan, oleh karenanya puasa menjadi bagian dari pelatihan jiwa  untuk menjadi insan yang paripurna,  dalam al Quran diistilahkan sebagai orang yang bertaqwa.

Ibadah Ramadhan dalam konteks ini diartikan sebagai “madrasah” ruhaniah, untuk menempa diri seorang muslim. Dengan kekhususan ibadah ini manusia belajar menyucikan dirinya dari berbagai “kotoran” yang selama ini melekat di dalam jiwa.

Orang-orang yang telah memenangkan “perjuangan” selama Ramadhan adalah orang-orang  yang sukses melewati berbagai tahapan menapaki jalan kesucian.Sebagai pemenang, tidaklah labtas menjadi jumawa, karena sifat jumawa bertentangan dengan esensi ibadah puasa.

Para pemenang yang kemudian merayakannya dalam “selebrasi” lebaran, ialah mereka yang telah mampu mengendalikan dirinya, hawa nafsunya, berbagain keinginan yang bernuansa materil, karena ibadah puasa adalah ibadah yang paling personal, ibadah yang betul betul menuntut ketulusan.

Dalam ritual ibadah puasa hanya diri sendiri yang tau  kondisinya secara kuantitatif, maksudnya berdasarkan aturan syarat dan rukun sempurnanya ibadah puasa tersebut. Sementara  Allah SWT yang Maha mengetahui bukan hanya sisi fiqhiyahnya, namun juga sisi nilai substansinya.

Semangat lebaran sesungguhnya semangat menyatukan kembali jiwa kita yang terpisah dari fitrahnya. Lebaran adalah sebuah tradisi sosial yang mengakar pada landasan spiritual.Dengan memenangkan “musuh” yang paling besar, yaitu diri sendiri. Pemenang merayakan kemenangan pada hari raya lebaran.

Tradisi lebaran selazimnya menjadikan diri yang merayakannya menjadi “lebar”, menjadi lapang hati, menuntaskan “misi” penyucian diri. Oleh karena itu, pasca hari raya lebaran, sebagai “pemenang” ia harus menunjukkan sikap seorang pemenang yang mulia, yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk menyempurnakan jiwanya.

Kesemuanya tercermin dalam perilaku rendah hati, tawadhu, welas asih terhadap sesama, peduli dan bijak bestari sebagai insan yang bertaqwa.

A.Ramdani AZ
Education Program Planner & Consultant for School Development
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.