Jumat, Januari 22, 2021

Lebaran Berlalu, Si Miskin tetap Pilu?

Apa, Sih, Capaian Revolusi Mental?

Banyak orang bertanya, apa sebenarnya capaian dan wujud nyata dari revolusi mental? Apa fungsinya untuk perbaikan bangsa, ketika akhir-akhir ini, kita disajikan “perang centang-perenang”...

Geliat Media Massa di Tahun Politik

Media massa merupakan salah satu saluran pembentuk masyarakat yang demokratis. Demokrasi itu sendiri dapat diwujudkan melalui media massa. Fungsi utamanya sebagai penyalur sekaligus pencari...

Feodalisme Yogyakarta Sebagai Pelindung Bangsa?

Semua orang tidak akan membantah julukan Yogyakarta sebagai kota budaya. Ibarat kata hanya sejengkal melangkah, pasti ada budaya yang berbeda. Provinsi terkecil kedua di...

Milestone Hari Santri & Peran Penting Panglima Santri

Bulan Oktober adalah bulan  santri.  Setiap  tanggal  22  Oktober, hampir  di seluruh pelosok Indonesia  Hari  Santri  Nasional  (HSN)  diperingati   dengan  meriah  dan  gegap gempita....
Zulkifli Fajri Ramadan
Editor buku, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

Kurang lebih sebulan yang lalu kita merasakan keriuhan serta kehangatan berkumpul bersama dalam satu momen hari raya. Hari raya atau lebaran selalu memunculkan dua muka kontradiktif. Selain kemeriahan menyambut hari kemenangan, harga bahan pokok melambung tinggi di antara meningkatnya kebutuhan masyarakat. Sementara, melihat sesaknya kerumunan orang berebut pembagian zakat dan uang santunan menjelang hari raya, menunjukan masih tingginya tingkat kemiskinan.

Lalu, kenapa hari raya selalu memunculkan anomali sosial seperti itu? Bukan malah menjadi ajang penyucian diri dan peningkatan kesejahteraan bangsa. Padahal jelas sekali makna hari kemenangan adalah kembali ke firah atau ke kesuciannya. Maka menjadi pertanyaan besar, apakah setelah lebaran berlalu si miskin tetap pilu?

Kepekaan Sosial
Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 3 Januari 2017 melaporkan: meski selama periode Maret 2016 hingga September 2016 persentase kemiskinan menurun, namun jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,15 juta orang, dari 10,34 juta orang pada Maret 2016 menjadi 10,49 juta orang pada September 2016.

Booth dan Me Cawley menyatakan (Dalam Moeljiarto T., 1993) di banyak negara terjadi kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dari pendapatan perkapitanya, tetapi itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat, sedangkan masyarakat miskin kurang memperoleh manfaat apa-apa, bahkan sangat dirugikan.

Kemiskinan memang menjadi isu utama yang diangkat oleh para pejuang kesejahteraan bangsa kita, mulai dari masa pergerakan nasional hingga reformasi. Pada masa awal pergerakan nasional, narasi yang diangkat oleh Multatuli (Eduard Douwes Dekker) dalam magnum opusnya Max Havelar adalah kepekaan sosial terhadap sistem tanam paksa yang diterapkan oleh imperialis Belanda terhadap kaum bumi putera di daerah Lebak, Banten.

Lebaran yang telah kita lewati mesti kita jadikan parameter kepekaan sosial. Maka menjadi heran apabila lebaran disebut sebagai hari kemenangan, sementara kemiskinan masih merajalela. Kita lihat, Nabi Muhammad Saw. rela berkontemplasi di Gua Hira demi mendapatkan solusi atas bermacam anomali sosial di sekitarnya, hingga Tuhan melalui Jibril menurunkan wahyu kepadanya. Dengan landasan wahyu dan tingginya kepekaan sosial, Nabi Muhammad melakukan perubahan besar, baik dalam bidang teologis maupun peradaban dunia.

Apatisme dan Pendidikan
Ada beberapa teori yang biasa dipergunakan untuk membedah kemiskinan, salah satunya yaitu teori marginalisasi (Soetrisno, 1993: 23-27). Dalam teori itu, kemiskinan dianggap sebagai akibat dari tabiat apatis, fatalisme, tergantung, rendah diri, pemboros dan konsumtif serta kurang berjiwa wiraswasta.

Mengenai tabiat apatis, semangat bangsa kita saat ini jauh dari semangat yang telah ditanamkan oleh para Founding Father. Lihat saja, untuk merebut kemerdekaan, seorang Soedirman rela bergerilya naik-turun lembah melawan penjajah dalam kondisi tubuh yang payah. Juga ketika melihat Soekarno muda, demi menghadapi kejumudan berpikir dan apatisme diri—di bawah asuhan “Sang Guru Bangsa,” Cokromaninoto—ia rela meluangkan banyak waktu untuk membaca dan menulis. Maka tak heran, setelah dewasa Soekarno disegani banyak golongan karena wawasannya yang mempuni, hingga pada Agustus (Ramadhan) tahun 1945 ia dengan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Soemardjan (dalam Sumodingrat 1999: 81), memaparkan berbagai macam cara pengukuran kemiskinan dengan standar yang berbeda-beda, namun tetap memperhatikan dua kategori tingkat kemiskinan, sebagi berikut:

Pertama, kemiskinan absolut adalah suatu kondisi ketika tingkat pendapatan seseorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti pangan, sandang, papan, dan pendidikan; Kedua, kemiskinan relatif adalah perhitungan kemiskinan berdasarkan proporsi distribusi pendapatan dalam suatu daerah. Kemiskinan jenis ini dikatakan relatif karena berkaitan dengan distribusi antar lapisan sosial.

Melihat faktor pertama, kita soroti masalah ketidakmampuan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang cukup. Kemiskinan yang tengah terjadi, menandakan masih lemahnya sistem pendidikan kita. Oleh sebabnya, pemerintah harus lebih memperhatikan dan memperbaiki kualitas pendidikan demi terwujudnya kesejahteraan bangsa. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat dapat mecurahkan buah pikirannya untuk kemajuan peradaban. Bukankah ayat pertama yang Tuhan perintahkan kepada Muhammad melalui Jibril adalah Iqra’? yang berarti Bacalah!

Mengenai ayat tersebut, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (2011: 454), menjelaskan bahwa kalimat pertamanya diawali dengan fi’il amr (kata kerja perintah) yaitu Iqra’. Iqra’ memiliki beragam makna antara lain: membaca, menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu.

Lebaran telah berlalu, jangan sampai kondisi nestapa si miskin bertambah berat bahkan menguat sedemikian rupa. Ketika berbicara kemiskinan, banyak kategori yang dapat disangkut pautkan dengannya. Entah itu miskin harta, miskin batin dan nurani, hingga miskin spirit untuk menggali ilmu. Pemerintah dengan kekuasaannya yang ada, mestilah ekstra menggunakan batin dan nuraninya demi menghapuskan segala bentuk kemiskinan rakyatnya. Jangan hanya mengurusi skandal pejabat yang semakin hari semakin menjijikan, walau itu secara sistematis bersangkutan dengan bermacam kemiskinan di negeri ini.

Melihat kemiskinan yang tengah terjadi, lebaran mesti menjadi titik awal seseorang memperbaiki kapasitas diri serta kepekaan sosial. Karena sesungguhnya batin patut dipertanyaakan tatkala kita bergembira menyambut hari raya, namun masih banyak tetangga yang kelaparan. Maka tak heran jika Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Seandainya kemiskinan itu berwujud seseorang manusia, maka niscaya akan kubunuh kemiskinan tersebut.”

Zulkifli Fajri Ramadan
Editor buku, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.