OUR NETWORK

Ketika Kita Latah Menyebut “Bencana” Alam

Merapi bagi warga sekitar ibarat kakek yang wajar saja bila sesekali mengidap batuk berdahak. Penyebutan “Mbah Merapi” dan bukan Gunung Merapi jelas merupakan ikhtiar merengkuh alam dan bukan menciptakan jarak yang keterlaluan.

Penyebutan “bencana” alam pada peristiwa alam: Erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir, angin puting beliung, dan lain sebagainya sudah merupakan kekeliruan dini. Sebagai awam, kita tentu bergidik ngeri membayangkan peristiwa-peristiwa alam yang demikian menimpa wilayah tinggal-geografis kita.

Tetapi nun di kaki Gunung Merapi sana, warga Desa Srunen Cangkringan Sleman yang letak geografis desanya hanya 8 km dari Gunung Merapi menyebut, peristiwa erupsi Merapi pada 2010 lalu sebagai peristiwa “batuk” biasa. Ambisi terakhir ini yang hendak diusung film Bukit Bernyawa (2011) besutan Steve Pillar Setiabudi.

Pada acara bertajuk Kinection di Jackstar Cafe and Restaurant Solo (31/3/2018) yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Fanny Chotimah selaku produser film mengaku bahwasanya film tersebut digarap secara kebetulan.

Menyitir Fanny, “Waktu itu kebetulan terjadi erupsi Merapi”. Ketika itu, sudah seminggu sejak kedatangan Steve bersama tim produksi film ke desa tempat tinggal Mbah Marijan untuk keperluan pengerjaan proyek lain. Erupsi tiba-tiba terjadi. Bukit Bernyawa dikerjakan kurang lebih satu bulan dengan proses kerja yang sangat alamiah.

Steve dan tim menurut saja pada kehendak waktu, alam, dan sikap-kegiatan para warga Desa Srunen. Termasuk turut pergi ke posko pengungsian menggunakan truk evakuasi guna menunaikan kegiatan formil-rituil “berfoto” bersama menteri yang hadir saat itu.

Selepas kunjungan menteri, para warga Desa Srunen cabut: kembali ke rumah masing-masing. Dan erupsi Merapi bagi mereka tetap bukan hal yang laik dikhawatirkan. Merapi tak pernah dipandang sebagai sumber bencana.

Pemberitaan media yang terlalu berlebihan dibanding kondisi psikis-sosial yang sesungguhnya terjadi di lereng Merapi membuat Steve akhirnya menyuguhkan film dengan persepsi warga desa yang biasa kita sebut “korban bencana alam” dalam memaknai-memahami erupsi Merapi.

Merapi bagi warga sekitar ibarat kakek yang wajar saja bila sesekali mengidap batuk berdahak. Penyebutan “Mbah Merapi” dan bukan Gunung Merapi jelas merupakan ikhtiar merengkuh alam dan bukan menciptakan jarak yang keterlaluan. Sikap ini akhirnya mengilhami pemilihan judul: Bukit Bernyawa.

Dari lerengnya, Merapi tak nampak seperti gunung, kedekatan geografis membuat ia nampak seperti bukit. Yang ternyata sama seperti manusia, ia bernapas dan memiliki nyawa yang di antaranya untuk menjaga keberimbangan diri perlu mengeluarkan dahak dengan jalan “batuk-batuk”.

Gamelan di Lereng Merapi

Film pendek bergenre dokumenter kreatif itu menampilkan penggalan-penggalan acak antara hari-hari sebelum, saat, dan sesudah erupsi Merapi terjadi. Film tak hendak mengambil pendekatan jurnalisme dengan melakukan wawancara atau pengulikan data-data penting laiknya film dokumenter yang banyak digarap para sineas Indonesia selama ini. Ia hadir sebatas gambaran keseharian warga Desa Srunen yang alami, monoton, dus demikian hidup.

Anak-anak bersepeda saling goda dengan anjing, sapi-sapi mendapat asupan rerumputan dan perawatan yang baik, dan yang paling mistis-romantis ialah kegiatan orang-orang dewasa sampai paruh baya berkumpul di satu bangunan khusus untuk memainkan gamelan tiap senja hari. Suara indah gamelan mengalun, memantul dari bukit Merapi, menciptakan ketentraman jiwa yang sungguh-sungguh. Demikian kenang Fanny.

Kendatipun akhirnya warga lereng Merapi mengungsi ke posko-posko yang telah disediakan karena kondisi Merapi yang benar-benar berbahaya waktu itu, mereka toh segera kembali ke desa masing-masing untuk membangun rumah dan memulai kembali kehidupan seperti sediakala saat kondisi Mbah Merapi dinyatakan cukup aman.

Di sana masih berserakan puing-puing rumah terdahulu, anjing dan sapi-sapi yang mati gosong, pohon-pohon gundul berbekas luka bakar, juga gamelan dan bangunannya yang rusak.

Selain diputar di Desa Srunen dan disaksikan oleh warga desa, film ini diputar di berbagai festival film baik di dalam dan luar negeri. Di antara prestasinya ialah didaulat sebagai film dokumenter pendek terbaik di Chop Shots Documentary Film Festival: festival film dokumenter tingkat Asia Tenggara yang digelar di Jakarta pada Desember 2012. Dan masuk nominasi dalam ZEBRA Poetry Film Festival di Berlin pada tahun yang sama. Dari sana, film Bukit Bernyawa berhasil mengumpulkan dana untuk membantu warga memperbaiki gamelan yang rusak.

Hari-hari senja di lereng Merapi kembali syahdu dan menenangkan sampai kemudian Fanny mendapat kabar bahwa kini warga desa tak lagi memainkan gamelan karena kesibukan kian bertambah.

Warga Desa Srunen tak lagi sepenuhnya bertani, mereka juga menjual pasir dan bebatuan bekas erupsi yang jelas lebih menguntungkan secara ekonomis. Tahun 2010, rumah yang ditinggali tim produksi film belum memiliki kotak televisi. Sekarang di rumah itu sudah ada dua buah televisi.

Rumah-rumah warga menjadi lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelum erupsi terjadi. Kehidupan ekonomi warga juga lebih terjamin. Merapi memberi kehidupan baru yang bagaimanapun tak patut terlalu disesalkan.

Betapa pun kehidupan memang terus berubah, dan harapan tim produksi film Bukit Bernyawa cukup mewakili harapan kita selaku awam. Semoga warga lereng Merapi senantiasa mendapat kebersahajaan hidup dari Mbah Merapi.

Alunan suara sinden Sruti Respati yang menjadi pengisi suara dalam Bukit Bernyawa menyihir telinga sekian penonton dari awal sampai film berakhir. Puisi Mantra Tolak Bala karya Sindhunata menjadi narasi yang memperkuat kesan magis-mistis-reflektif film.

“Bumi kulitku, langit atiku. Srengenge mripatku, lintang susuku. Gunung irungku, mbulan mbun-mbunanku. Segara pipiku, kawah puserku. Udan keringetku, endhut sesukerku. Naraka wadhukku, lawanging naraka cangkemku. Lawanging swarga kupingku. Tan pinisah jagad lan aku. Allah jumeneng ing antarane jagad lan aku. Ya Maraja Jaramaya. Ya marani nira maya. Tsah!”

Tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, dan seni-budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...
KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…