Selasa, Januari 26, 2021

Lakardowo Potret Birahi Kawasan Industri

Calon Presiden Fiktif, Sebuah Lelucon atau Keresahan

Kontestasi politik terbesar negara ini tinggal menghitung bulan. Pasangan-pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden sudah berebut suara dan dukungan masyarakat dengan mengunjungi titik-titik strategis...

HTI, Khilafah, dan Pengajaran Fikih di Sekolah

Pada saat penilaian akhir semester SMA/Madrasah Aliyah (5/12/2017), polemik dan protes muncul di beberapa daerah mengenai munculnya soal mata pelajaran fikih kelas XII yang dinilai...

Kontroversi KPK Jalan Terus

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 telah ditetapkan. DPR sebagai pihak penguji calon pimpinan lembaga antirasuah tersebut telah memberikan suaranya untuk menentukan komposisi pimpinan...

Tiga Modal Menuju Istana

Demokrasi langsung yang kekuasaan berada ditangan rakyat harus diperebutkan oleh capres dan cawapres. Perebutan ini tak bisa hanya bermodalkan asumsi semata, namun juga diikuti...
Gilang Rizki
Aktif di Pers Mahasiswa UAPM Inovasi

PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengangkutan, pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang beroperasi di desa Lakardowo, kecamatan Mojokerto. Sudah sembilan tahun perusahan ini berdiri di desa lakardowo. Selama kurun waktu tersebut pula warga lakardowo harus hidup bergumul dengan limbah B3.

Jarak pusat pengolahan yang dekat dengan pemukiman dan lahan pertanian warga membuat lahan mereka tercemar limbah B3. Hal ini ironis jika mengingat 95% kehidupan masyarakat Lakardowo adalah petani jagung, lombok (cabai), terong dan padi. “Kebun saya di dekat situ (pabrik). Ada tumbuh tapi gagal berbuah. Ada menguning seperti mengering,” ujar Rumiati, warga yang lahannya berdampingan langsung dengan perusahaan.

Pencemaran lahan sekitar perusahaan dibenarkan oleh Hasil kajian geologi dan geolistik tanah di sekitar operasi perusahaan yang menunjukkan ada kontaminasi logam berat timbal dan beberapa zat berbahaya.

Tidak hanya mencemari lahan pertanian, warga lakardowo juga takut menggunakan air sumur karena dihantui rasa was-was akan kontaminasi cemaran Limbah B3. Ketakutan mereka bukan tanpa alasan, sebab di sumur pantau PT PRIA dan sumur warga yang memiliki elevasi tanah lebih rendah terdapat sejumlah bahan pencemar melebihi baku mutu. Di antaranya total padatan terlarut (TDS), kesadahan CaCO3, bahan organik KMnO4, sulfat, mangan dan seng. Hal tersebut menyebabkan air terlihat keruh, berbau dan terasa pahit.

Dampak tercemarnya air menyebabkan penyakit dermatitis atau iritasi kulit yang diderita 432 warga desa Lakardowo. Mayoritas warga yang terdampak pencemaran air adalah anak-anak dan perempuan. Karena tidak berani lagi menggunakan air sumur mereka, kini warga harus patungan membeli air bersih dari luar daerah. Namun, tak sedikit juga yang terpaksa menggunakan air sumur untuk mandi.

Tidak hanya diam, warga Lakardowo juga beberapa kali menuntut hak-hak mereka baik melalui litigasi maupun non lotigasi. Tercatat beberapa kali mereka turun kejalan dan berorasi dan mengadu ke pemerintah kota Mojokerto hingga ke depan istana negara. Jalur hukum juga pernah mereka coba, pada November 2018 lalu mereka menggugat Bupati Mojokerto atas pemberian ijin lingkungan, namun gugatan mereka ditolak.

Ada dua poin yang menyebabkan gugatan mereka ditolak; pertama domisili penggugat yang berjarak 500 meter dari perusahaan dianggap jauh dari obyek sengketa, kedua penggugat dianggap tidak memiliki lahan yang berbatasan dengan obyek sengketa. Tentunya alasan tersebut tidak berdasar mengingat salah satu penggugat adalah Rumiati yang lahannya berbatasan langsung dengan perusahaan.

Lakardowo Korban Birahi Industri

Dihimpun dari data BPS Provinsi Jawa Timur ada total 6.672 perusahaan di jawa timur. Banyaknya jumlah industri di Jawat Timur menunjukkan arah pembangunan ekonomi di Jawa Timur yang menuju industrialisasi. Hal ini diperkuat dengan rencana peluasan wilayah industri seluas 43.000 hektar di sembilan kabupaten. Sayangnya rencana perluasan wilayah industri tersebut tidak dibarengi dengan penanggulangan ekses yang ditimbulkan seperti limbah B3.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan jokowi yang terang terangan mendukung industrialisasi. Jokowi menghimbau agar perizinan investasi harus dibuat semudah mungkin kalau perlu dengan tutup mata. Seperti yang kita ketahui investasi selama ini berorientasi pada sektor industri.

Kasus Lakardowo menjadi salah satu contoh jika rencana industrialisasi provinsi jawa timur sekedar nafsu birahi semata. Kurang ketatnya penegakan regulasi hingga tempat pengolahan limbah yang tidak mencukupi membuat ekses industri menjadi bumerang bagi masyarakat dan lingkungan.

Setelah kasus Lakardowo semakin santer terdengar di media membuat masyarakat semakin sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh limbah industri khususnya bagi masyarakat yang bersinggungan langsung. Kala masyarakat mulai protes dan kasus jadi perhatian publik wajah bopeng industri dan bisnis limbah semakin terlihat.

Banyak kasus dumping ilegal yang dilakukan oleh perusahaan transporter limbah yang terungkap; ke instalasi militer, ke lahan warga, ke galian C. Kasus kasus tersebut menandakan tata kelola kota provinsi Jawa Timur yang sangat buruk. Demi memenuhi birahi industri banyak sekali faktor yang diabaikan dan masyarakat yang dikorbankan seperti masyarakat Lakardowo.

Kini untuk memenuhi ambisi dan mengatasi permasalahan limbah industri pemerintah provinsi Jawa Timur berencana membangun pusat pengelolahan baru. Hal ini tidak akan menjadi solusi jika pembangunan masih berorientasi pada industri.

Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, dua orang ilmuwan dan pegiat isu ekologi, menguraikan bahwa langkah-langkah tersebut belum mengenai inti persoalan yang sebenarnya. Mereka memaparkan jika permasalah sebenarnya yakni sistem ekonomi yang kita anut, sistem yang meletakkan obsesi akan pertumbuhan dan akumulasi di inti semua aktivitasnya.

Meskipun banyak orang meyakini bahwa kapitalisme bisa direformasi untuk menjadi “ramah lingkungan”, bahwa kapitalisme tetap akan menawarkan jalan keluar dari krisis lingkungan. Di sinilah masalah yang sebenarnya. Dana CSR yang digelontorkan untuk industri membuat efek yang ditimbulkan semakin kabur yang nyatanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan efek yang ditimbulkan.

Telah tiba waktunya bagi semua pihak yang peduli akan nasib bumi untuk menghadapi kenyataan: hubungan mendasar antara manusia dan bumi harus diubah. Dengan kata lain: penting untuk memutus diri dari sistem yang didasari oleh motif akumulasi kapital terus-menerus (dalam wujud pertumbuhan ekonomi tanpa akhir). Pemutusan ini merupakan kondisi yang perlu bagi terciptanya peradaban ekologi baru.

Bacaan

Di Hari Air Sedunia, 60% Sumur Desa Lakardowo Diduga Tercemar Limbah B3, Mongabay.co.id

Ketika Lahan Tercemar Limbah B3, Mongabay.co.id

https://jatim.bps.go.id/statictable/2018/02/08/886/jumlah-perusahaan-dan-tenaga-kerja-menurut-kabupaten-kota-di-jawa-timur-2015.html

Magdoff, F, Jhon Bellamy. 2018. Lingkungan hidup dan kapitalisme: sebuah pengantar. Ginting, Pius Penerjemah. Yogyakarta (ID): Marjin Kiri.

Gilang Rizki
Aktif di Pers Mahasiswa UAPM Inovasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.