Rabu, Oktober 21, 2020

‘La Nyalla Effect’ Membongkar Kebekuan Politisasi SARA

WHO AM I? WHO ARE THEY?

                                           Keterangan Gambar: Karya...

Kandidat Militer dan Kultur Demokrasi

Hari-hari Pilkada langsung 2018, wacana politik hiruk pikuk mengisi relung kehidupan kita. Salah satu tak kalah menariknya, banyaknya kandidat yang berlatar TNI–Polri. Hal ini...

Mencari Stimulan Ekonomi di Beranda Negeri

Belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 Bumi Flobamora yang terkontraksi sebesar 5,62...

Pentingkah Sertifikasi Bagi Pendamping Desa?

Pemerintah menetapkan kebijakan pendampingan sebagaimana tercantum pada Pasal 2 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Tahun 2015, yang bertujuan: Meningkatkan kapasitas, efektivitas,...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Jelas. Pernyataan La Nyalla Matalitti tentang ke-Islaman Probowo, menyentak zona nyaman politisi agama yang selama ini dijadikan ‘mainan’ politik. Isu keagamaan, RAS, hoaks dan ujarana kebencian menjadi trend merebut kekuasaan dengan menyampingkan semangat ke-Indonesia-an.

La Nyalla Matalliti dengan berani mengatakan, sanksi dengan ke-Islaman Prabowo. Bahkan, mantan Ketua Umum PSSI tersebut,  berani bertaruh kalau Prabowo tidak hafal surat Al-Fatheha.  Tidak hanya itu, La Nyalla juga sanksi, kalau mantan menantu Soeharto tersebut tidak bisa sholat.

Ya, apa yang dikatakan La Nyalla Matalitti, bukan tidak berdasar. La Nyalla Matalitti tidak sekedar kenal dengan sosok Prabowo. Mantan Kader Gerindra yang memiliki peran sangat besar kepada Prabowo di Pilpres 2014 lalu. Bagi publik Jawa Timur, La Nyalla sangat berpengaruh.

Hal itu juga dia ungkapkan dalam testemoni, usai bersilaturahmi dikediaman Kiai Ma’ruf Amin Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01. Dia katakan kalau, dirinya yang menyebarkan tabloid Obor Rakyat. Yang isinya memfitnah Jokowi. Dalam Obor Rakyat, Jokowi difitnah PKI dan Non-muslim.

Pengakuan ini, langsung mendapat reaksi keras kubu Prabowo. Mereka tidak membantah soal tuduhan La Nyalla itu. Misalnya, PKS mengklarifikasi soal takaran keimanan seseorang bukan ditentukan oleh manusia.

Jurus menangkis PKS ini, seakan menelan ludah mereka sendiri. Pasalnya, selama ini publik mengetahui. Bahwa yang berseberangan dengan kelompok mereka dianggap kafir.  Meskipun itu se-kelas ulama besar.

La Nyalla Effect

Testomoni La Nyalla diharapkan mampu ber-efek besar kepada kehidupan sosial-politik menjelang Pilpres 2019. Yaitu, kesadaraan masyakat tentang upaya menghalalkan segala cara dalam merebut kekuasaan.

Setidaknya, pesan yang disampaikan La Nyalla narasi besar.  Kejahatan politik yang diproduksi secara sistematis. Materinya, pertama, labelisasi Islam – Non Islam. Karena  hanya sebagai label. Maka menerjemahkan Islam bukan pada subtansinya.  Namun simbolisasi yang bertujuan menguatkan identitas personal saja. Sehingga beragama hanya diukur dengan identitas belaka.  Seperti gaya berpakaian.

Kedua, stigma politik PKI. Ya,  framing soal kekejamaan PKI masih melekat kuat di masyarakat. Didalamnya, ada anti agama dan kekerasan, pembunuhan dan penculikan.  Cara yang paling muda adalah menempelkan label PKI, sehingga menimbulkan penolakan kepada Jokowi.

Dengan pengakuan tersebut,  menjelaskan. Selama ini teriak-teriak soal Islam, soal PKI sejatinya hanya politik. Kepentingan segelintir orang yang ingin meraih kekuasaan.  Ketidakmampuan berkompetisi yang tidak didukung rekam jejak. Menjadikan Agama,  RAS, Hoaks, kebencian sebagai cara praktis.

Dalam pengakuan Nyalla tersebut bukti nyatanya. La Nyalla pun dengan gentle mengakui kesalahaannya. Dia menyatakan telah bertobat. Apa yang dilakukan adalah sebuah kekeliruan

 

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.