Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Kutukan Wiji Thukul yang Masih Bergentayangan | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Kutukan Wiji Thukul yang Masih Bergentayangan

Dua warisan terbesar Sokrates terhadap dunia politik

Warisan pastilah berkaitan kepada sesuatu yang luhur, yang berhubungan dengan keluarga turun temurun. Ada yang mengatakan warisan itu berkaitan dengan materi, atau bahkan yang...

Kartun dan Pendidikan Anak

Di zaman era digital seperti sekarang ini, perkembangan media sudah semakin maju dan pesat. Sehingga berbagai informasi mudah didapat pada zaman ini, disebabkan oleh...

Mengapa Kita Membangunkan Kembali Singa yang Tidur?

Pembakaran bendera yang dilakukan oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di hari santri kemarin berbuntut pada kecaman keras dari pihak yang merasa disudutkan, walhasil muncul...

Jangan Menghalangi Air untuk Terus Mengalir

Tiga perempat dari Bumi adalah air, namun yang layak untuk dikonsumsi manusia kurang dari tiga persen. Populasi manusia di Bumi diperkirakan mencapai enam milyar,...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ia berteriak lantang, “Hanya satu kata: Lawan!” Teriakannya itu diikuti oleh barisan-barisan di belakangnya bahkan termasuk anak-anak yang belum lahir saat ia meneriakkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang sampai saat ini masih menjadi kutukan menakutkan. Meskipun tidak ada satupun yang tahu di mana dirinya sekarang namun kata-katanya masih terus hidup, tetap ada untuk terus melakukan perburuan dan perlawanan.

Dialah Wiji Thukul. Penyair cungkring yang matanya cacat. Ia juga dikenal cedal meskipun ke-cedal-an itu tak membuat dirinya minder untuk membacakan “puisi-puisi perlawanannya” (baca: kutukannya). Perlawanan kepada siapa dan untuk siapa? Perlawanan terhadap ketidakadilan demi lahirnya keadilan sosial.

Kata-kata dalam setiap puisi Wiji Thukul sampai detik ini masih terus bergema. Wajah dan puisinya telah menjadi simbol perlawanan. Serupa kutukan yang masih terus bergentayangan, puisi-puisinya kadang menjadi sebuah Martil dan Peluru yang siap digunakan untuk melakukan perlawanan. Bahkan rupa-rupanya gairah perlawanan Wiji mengalir di darah anak-anaknya salah satunya Fajar Merah.

Jika Wiji melakukan perlawanan dengan puisi maka anaknya memilih jalan permusikan. Lewat lagu-lagunya ia kembali membangkitkan kutukan Sang Ayah. Lihat saja salah satu lirik lagunya yang berjudul “Kebenaran Akan Terus Hidup” berikut ini:

“Suaraku tak bisa berhenti bergema/ di semesta raya suaraku membara/ walau kau terus saja coba membungkamnya/ namun suaraku takkan bisa kau redam.”

“Karena kebenaran akan terus hidup/ sekalipun kau lenyapkan/ kebenaran takkan mati/ aku akan tetap ada dan berlipat ganda/ persiapkan barisan dan siap tuk melawan/ aku akan tetap ada dan berlipat ganda/ akan terus memburumu seperti kutukan.”

Kutukan Wiji Thukul rupa-rupanya telah diprediksi sebelumnya oleh Alexsander Solshenistyn. Ia pernah berujar, “Bagi sebuah negeri, mempunyai seorang penulis besar adalah seperti mempunyai sebuah pemerintahan yang lain.”

Sebagai seorang penyair, Wiji Thukul dianggap sebagai seorang oposisi yang berbahaya. Meskipun tidak memiliki senjata, tidak memiliki pasukan militer dan tidak memiliki riwayat di dunia militer, Wiji dianggap sebagai sosok yang mampu ‘menyihir’ masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap rezim kala itu. Oleh sebab itu pula ia diburu hingga tidak diketahui batang hidungnya saat ini.

Putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani sampai pernah mengeluarkan pernyataan, “Kalau kami, selama mayat ayah tak ada, selama belum ada pernyataan ini loh yang bunuh Wiji Thukul, maka kami masih meyakini bapak masih hidup.”

Keyakinan keluarga Wiji tersebut nampaknya sudah terjawab. Meski secara fisik Wiji tak terlihat namun peninggalan-peninggalannya berupa kutukan terhadap ketidakadilan serta kediktatoran nyata-nyata masih hidup. Seperti namanya, “Thukul” yang berarti tumbuh. Kutukan Wiji bahkan terus tumbuh dan beranak-pinak.

Tentu kutukan ini akan tetap hidup selayaknya kebenaran yang akan terus hidup meski berulangkali dilenyapkan. Jika saja saat ini Wiji Thukul masih ada, ia tentu akan menjadi orang terdepan yang akan mengungkap seluruh kejahatan HAM di masa lampau. Sebuah kejahatan yang sampai detik ini masih terus disembunyikan kebenarannya itu.

Maka mari kita bacakan kutukan paling menakutkan dari seorang Wiji Thukul berikut ini:

jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat bersembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat berani mengeluh

itu artinya sudah gasat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.