Jumat, Oktober 30, 2020

Kutukan Wiji Thukul yang Masih Bergentayangan

Sekolah Unggulan dan Soal Segregasi Manusia

Tahun ajaran baru telah ada di depan mata. Tiga bulan ke depan orang tua akan banyak disibukkan dengan aktivitas menggali informasi tentang sekolah terbaik...

Corona: Fatwa dan Puasa

Setiap tahunnya, dengan gembira umat Islam menyambut hadirnya Ramadhan; bulan peleburan dosa, dan bulan yang penuh berkah. Sebab keberkahanya, tidak sedikit para ustadz yang...

Bencana Alam dan Sesat Pikir Zaman Now

‘Mata air’ dan ’air mata’,  frasa ini tersusun dari dua kata ‘mata’ dan ‘air’. Namun bila susunan kata ini di bolak-balik maknanya akan sangat...

Arab Saudi, Modernisasi dan Wacana Islam Moderat

Bagaimana pandangan anda tentang Arab Saudi? ya sebagian besar menjawab  negara dengan sistem pemerintahan monarki, menjadikan Islam sebagai ideologi  negara, masyarakat konservatif dan bersikap...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ia berteriak lantang, “Hanya satu kata: Lawan!” Teriakannya itu diikuti oleh barisan-barisan di belakangnya bahkan termasuk anak-anak yang belum lahir saat ia meneriakkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang sampai saat ini masih menjadi kutukan menakutkan. Meskipun tidak ada satupun yang tahu di mana dirinya sekarang namun kata-katanya masih terus hidup, tetap ada untuk terus melakukan perburuan dan perlawanan.

Dialah Wiji Thukul. Penyair cungkring yang matanya cacat. Ia juga dikenal cedal meskipun ke-cedal-an itu tak membuat dirinya minder untuk membacakan “puisi-puisi perlawanannya” (baca: kutukannya). Perlawanan kepada siapa dan untuk siapa? Perlawanan terhadap ketidakadilan demi lahirnya keadilan sosial.

Kata-kata dalam setiap puisi Wiji Thukul sampai detik ini masih terus bergema. Wajah dan puisinya telah menjadi simbol perlawanan. Serupa kutukan yang masih terus bergentayangan, puisi-puisinya kadang menjadi sebuah Martil dan Peluru yang siap digunakan untuk melakukan perlawanan. Bahkan rupa-rupanya gairah perlawanan Wiji mengalir di darah anak-anaknya salah satunya Fajar Merah.

Jika Wiji melakukan perlawanan dengan puisi maka anaknya memilih jalan permusikan. Lewat lagu-lagunya ia kembali membangkitkan kutukan Sang Ayah. Lihat saja salah satu lirik lagunya yang berjudul “Kebenaran Akan Terus Hidup” berikut ini:

“Suaraku tak bisa berhenti bergema/ di semesta raya suaraku membara/ walau kau terus saja coba membungkamnya/ namun suaraku takkan bisa kau redam.”

“Karena kebenaran akan terus hidup/ sekalipun kau lenyapkan/ kebenaran takkan mati/ aku akan tetap ada dan berlipat ganda/ persiapkan barisan dan siap tuk melawan/ aku akan tetap ada dan berlipat ganda/ akan terus memburumu seperti kutukan.”

Kutukan Wiji Thukul rupa-rupanya telah diprediksi sebelumnya oleh Alexsander Solshenistyn. Ia pernah berujar, “Bagi sebuah negeri, mempunyai seorang penulis besar adalah seperti mempunyai sebuah pemerintahan yang lain.”

Sebagai seorang penyair, Wiji Thukul dianggap sebagai seorang oposisi yang berbahaya. Meskipun tidak memiliki senjata, tidak memiliki pasukan militer dan tidak memiliki riwayat di dunia militer, Wiji dianggap sebagai sosok yang mampu ‘menyihir’ masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap rezim kala itu. Oleh sebab itu pula ia diburu hingga tidak diketahui batang hidungnya saat ini.

Putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani sampai pernah mengeluarkan pernyataan, “Kalau kami, selama mayat ayah tak ada, selama belum ada pernyataan ini loh yang bunuh Wiji Thukul, maka kami masih meyakini bapak masih hidup.”

Keyakinan keluarga Wiji tersebut nampaknya sudah terjawab. Meski secara fisik Wiji tak terlihat namun peninggalan-peninggalannya berupa kutukan terhadap ketidakadilan serta kediktatoran nyata-nyata masih hidup. Seperti namanya, “Thukul” yang berarti tumbuh. Kutukan Wiji bahkan terus tumbuh dan beranak-pinak.

Tentu kutukan ini akan tetap hidup selayaknya kebenaran yang akan terus hidup meski berulangkali dilenyapkan. Jika saja saat ini Wiji Thukul masih ada, ia tentu akan menjadi orang terdepan yang akan mengungkap seluruh kejahatan HAM di masa lampau. Sebuah kejahatan yang sampai detik ini masih terus disembunyikan kebenarannya itu.

Maka mari kita bacakan kutukan paling menakutkan dari seorang Wiji Thukul berikut ini:

jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat bersembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat berani mengeluh

itu artinya sudah gasat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.