Rabu, April 14, 2021

“Kumpul Kebo” Milenial Indonesia

Omnibus Law dan Kekeliruan Menafsir Investasi

Latar belakang pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mempercepat disahkanya RUU Omnibus Law tak lain karena harapan bahwa investasi kelak menjadi daya ungkit perekonomian Nasional. Sementara...

Musik di Asian Games Kurang Berdaulat

Asian Games telah mencapai purnanya pada 2 September kemarin di Gelora Bung Karno. Upacara seremoni penutupan tersebut berjalan dengan gemilang: tak kalah meriah dengan...

Pandemi Covid-19 dan Ujian Literasi

Pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease) tahun 2019 yang pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019. Kemunculan Covid-19 diduga berhubungan...

Mempertanyakan Keberadaan

http://www.chrisakins.com/wp-content/uploads/2014/12/self-reflection.jpgSebuah ungkapan kegelisahan yang terus-menerus muncul dalam sebuah pikiran yang meragukan segala sesuatu. Itulah dasar di mana Descartes mempertanyakan keadaan “Co geto Ergo Sum”...
Hendra Mas Martayana
Penulis I Ik ben Een Vrijmaan

Orang Indonesia menyebut pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah dengan istilah “kumpul kebo”. Secara sederhana, kumpul kebo adalah perilaku yang ditunjukkan oleh laki-laki dan perempuan yang memutuskan hidup bersama dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan.

Sama halnya dengan binatang (yang diidentifikasikan dengan kerbau), yang tinggal dalam satu atap tanpa ikatan resmi. Istilah yang menganalogikan perilaku hubungan manusia dengan binatang menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan penilaian miring terhadap keputusan untuk hidup bersama tanpa adanya ikatan yang sah.

Istilah kumpul kebo berasal dari masyarakat Jawa generasi tua. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya perbuatan hidup dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan (baca : samen leven), bukanlah barang baru. Di masa lalu, perilaku ini telah menjadi fenomena yang dianggap melanggar konvensi sosial masyarakat. Pelakunya dikucilkan, sedangkan perilakunya mendapat predikat negatif seanalog dengan binatang.

Dengan demikian, kumpul kebo senantiasa ditolak dan dilarang. Akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa perilaku itu tak pernah hilang dari khasanah perilaku individual di kalangan orang Jawa sendiri sehingga menghasilkan terminologi perilaku negatif yang kita kenal dengan “kumpul kebo”.

Di Indonesia, seks masih dikategorikan sebagai sesuatu yang tabu. Adanya stigma yang berlaku umum di masyarakat bahwa pasangan kumpul kebo tentu melakukan aktivitas seksual ditambah perilaku pacaran identik dengan seks membuat derajat penerimaan sosial masyarakat terhadap perilaku kumpul kebo sangat kecil.

Meski kasus hamil di luar nikah akhir-akhir ini merebak, namun tidak menunjukkan adanya kelonggaran masyarakat terhadap konvensi sosial yang membatasi hubungan seksual dalam lembaga pernikahan. Pemenuhan naluri biologis hanya dibenarkan dalam ikatan suami istri. Jika tidak, berarti salah dan haram hukumnya. Itu sebabnya masyarakat memberikan penilain yang sama atau bahkan jauh lebih buruk bagi pelaku kumpul kebo.

Pada kasus milenial di Indonesia, tontonan baik televisi maupun sosial media seperti youtube banyak memberikan pengaruh untuk membentuk cara pandang terhadap tindakan kumpul kebo. Film Holywood, Bollybood bahkan drama Asia seperti Korea, Jepang, Filipina, dan Thailand memberikan gambaran tentang bagaimana remaja-remaja di masing-masing wilayah itu dalam menjalani  kehidupan sehari-hari, termasuk dalam urusan percintaan.

Terlepas dari gambaran apakah jenis film di atas menggambarkan realita yang sesungguhnya atau dilebih-lebihkan, harus diakui bahwa remaja Indonesia mendapatkan gambaran tentang bagaimana remaja di “seberang lautan” sana menjalani pola berpacaran, termasuk keputusan hidup bersama dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan.

Keputusan hidup bersama sering kali dituding tidak menghormati lembaga perkawinan. Selama ini lembaga perkawian dianggap sakral sehingga harus diperlakukan dengan baik dan benar. Hidup bersama dianggpa sebagai sebuah sikap yang mengadopsi pola-pola perilaku yang seharusnya  dilakukan hanya jika pasangan tersebut telah menikah. Dengan demikian, fenomena hidup bersama tanpa ikatan perkawinan menunjukan adanya pergeseran pandangan tentang perkawinan di kalangan anak muda.

Berbeda dengan generasi tua yang memandangnya sebagai sebuah pergeseran ke arah negatif, generasi muda cenderung menganggap pola hidup bersama justru menunjukkan pandangan mereka tentang perkawinan sebagai sesuatu yang sakral dan serius.

Perkawinan dua orang dangan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah karena harus ada proses sebelumnya yang membuat mereka berdua bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain. Hidup bersama memungkinkan mereka mengenal pasangan lebih dalam sehingga ketika mereka menikah tidak terlalu sulit untuk melakukan adaptasi.

Ada kecenderungan bahwa keputusan hidup bersama dianggap sebagai “latihan awal” sebelum memasuki jenjang pernikahan. Bagi generasi milenial, pernikahan bukan sebatas tanda tangan di atas akte perkawinan, namun lebih dari itu adalah komitmen hidup bersama sampai akhir hayat.  Bisa jadi maraknya kasus kawin cerai menjadi pertimbangan generasi milenial untuk tidak menikah muda, mengingat bahwa perkawinan bukan sesuatu yang sepele sehingga ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Seorang kawan lama yang saya temui di warung kopi menuturkan bahwa ia justru menjadikan keputusan hidup bersama dengan pacar sebagai bagian dari “belajar menikah”. Dalam masa hidup bersama itu, Ia dan sang pacar bersepakat melakukan pembagian tugas dalam “rumah tangga” yang dibayangkan di masa depan.

Mencuci, menanak nasi, menyiram, menyetrika adalah aktivitas rumahan yang dilakukan secara bersama-sama. Menurut saya, kesadaran ini menarik karena secara tidak langsung merupakan pemikiran yang transformatif sekaligus anti tesis terhadap adat dan tradisi di masa lalu.

Belajar menikah yang dibayangkan oleh kawan saya di atas bisa jadi adalah latihan berbasis gender untuk mempersiapkan diri ketika telah berumah tangga. Artinya, tidak ada pembeda peran antara tugas laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga. Semua serba cair dan situasional serta saling mendukung satu dengan lainnya.

Pada sisi yang lain, praktik pernikahan di masa lalu nampaknya hanya memberikan pelatihan kesiapan seksual untuk memperoleh keturunan semata. Faktor–faktor lain seperti kesiapan rohani, pengaturan sumber ekonomi atau kerjasama suami-istri absen dan seolah dianggap tidak penting. Pada kesempatan yang lain, bagi generasi milenial ada kecenderungan menjadikan keputusan hidup bersama untuk menemukenali sekaligus membiasakan diri terhadap pola perilaku seksual pasangannya.

Masih menurut kawan saya, ia menuturkan bahwa kumpul kebo adalah fenomena biasa, khususnya di lakangan anak muda yang berpikiran kosmopolit, perantau yang jauh dari keluarga, entah karena dia bekerja atau masih menuntut ilmu. Baginya, secara ideal, hidup bersama akan menekan resiko terkena penyakit kelamin seperti HIV AIDS. Alasannya, aktivitas seksual dalam praktik kumpul kebo hanya dilakukan dengan pacar sendiri.

Ada hal menarik jika membicarakan aktivitas seksual pada perilaku kumpul kebo khususnya bagi perempuan. Seks adalah peristiwa terbesar dalam hidupnya karena perempuan hakikatnya makhluk pemilih, apalagi dihadapkan pada situasi untuk menentukan laki-laki mana yang harus dijadikan orang pertama untuk diajak melakukan hubungan seks. Dalam hal ini ada dua kelompok berlawanan, sebagian menganggap wajar melakukan seks pra nikah, namun sebagian lagi kekeh dengan kesucian, bahwa keperawanan itu sakral dan akan diberikan kepada suaminya kelak.

Hidup bersama sebenarnya secara seksual tidak jauh berbeda dengan pola pacaran anak zaman sekarang. Tanpa hidup bersama sekalipun telah banyak anak muda yang menerobos tabu seks. Gaya hidup ini tentu akan sangat sulit diterima oleh masyarakat dengan berbagai konsekuensi sanksi sosial yang akan diterima.

Pada sisi yang lain, masyarakat secara umum memiliki pandangan yang bertolak belakang. Masyarakat percaya bahwa perkawinan itu sesuatu yang mudah dan alamiah sehingga tidak diperlukan latihan lagi.

Hendra Mas Martayana
Penulis I Ik ben Een Vrijmaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.