Minggu, April 11, 2021

Kritik Etnisitas dalam Sebuah Film

Menggugat Sistem Pemilu Serentak

Pemilihan Umum DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan Pemilihan Presiden/Wakil Presiden (baca:pemilu) telah selesai digelar. Pemilu yang diselenggarakan secara serentak antara pemilihan...

Aktivis, Sains, dan Kemajuan Peradaban Manusia

Setiap kali para pejuang HAM dan pembela masyarakat yang tertindas melakukan aksi, ada saja orang yang nyir-nyir: “Ngapain sih berdiri-berdiri ga jelas,” “Aduh, ngapain repot-repot,” "BUBAR WOY!" Ada...

Stop Meikarta! Waspadai Korupsi Pengembang Properti Jabodetabek

Stop pembangunan proyek Meikarta! Rasanya, imbauan itu mau tidak mau harus dilaksanakan oleh pengembang properti proyek Meikarta yaitu PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU)....

Berliterasi di Bulan Ramadan

Setiap Ramadan kita akan sering mendengar lantunan ayat suci Alquran. Tadarus menjadi agenda rutin setiap habis Isya. Selain kondisi fisik, Ramadan juga perlu dihadapi...
Yunita venisa
Seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di UNTAN yang hanya menulis untuk melepaskan penat dan stress akibat hiruk pikuk duniawi.

Film Hotel Rwanda merupakan film garapan Sutradara Terry George yang dirilis pada tahun 2004. Film tersebut diangkat berdasarkan sebuah kisah nyata yaitu sebuah peristiwa mengenai kejahatan Genosida yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994.  Dalam film, diperlihatkan ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi membawa kepada perang sipil di mana suku Tutsi dibantai karena perbedaan statusnya yang lebih tinggi dari suku Hutu.

Film ini sendiri mengambil sebuah sudut pandang Paul Rusesabagina (diperankan oleh Don Cheadle)seorang manajer Hotel Mille Collines, adalah seorang Hutu namun istrinya, Tatiana (diperankan oleh Sophie Okonedo), adalah seorang Tutsi. Diceritakan, Paul berusaha untuk menyelamatkan rekan-rekan sebangsanya dari aksi pembantaian massal yang dilakukan oleh suku Hutu.

Dalam film tersebut, terjadi peristiwa genosida yang disebabkan oleh adanya ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi. Pernikahan antara Paul dan Tatiana tersebut merupakan salah satu sumber perselisihannya dengan ekstremis suku Hutu. Konflik ini pun memuncak ketika terbunuhnya  Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu oleh kaum militan yang menentangnya terjadinya penyatuan etnis tersebut. Suku Hutu pun menuduh dalang pembunuhan tersebut adalah suku Tutsi.

Dalam film tersebut juga menampilkan Georges Rutaganda, di mana ia merupakan pemasok barang langganan untuk hotel tempat Paul bekerja dan juga seorang pemimpin lokal Interhamwe, sebuah milisi anti-Tutsi yang brutal. Situasi politik pun kian memburuk, di mana orang-orang Tutsi satu persatu dibunuh secara keji.

Paul kemudian merayu pihak-pihak yang berpengaruh, menyuap mereka dengan uang, seperti yang terdapat dalam menit ke-27. Hal itu dilakukan demi keamanan keluarganya. Paul pun harus menunjukkan KTP-nya sebagai bukti bahwa ia adalah suku Hutu.

Paul juga meminta bantuan atasannya untuk menelpon pihak Perancis agar segera menyelamtkan mereka tetapi tentara Perancis datang hanya menyelamatkan turis asing saja karena menurut mereka bahwa Paul dan masyarakat Rwanda tidak sederajat dengan mereka.

Kemudian meletusnya perang saudara yang disusul ancaman dari angkatan darat Rwanda, Paul pun langsung melakukan sebuah negosiasi. Dan menjadikan hotel tempat ia bekerja sebagai tempat perlindungan bagi keluarga dan pengungsi lainnya.

Sampai pada akhirnya berkat kerja sama orang-orang di hotel yang menelpon kerabatnya maka dikirimkan bala bantuan ke sana. Namun, ternyata ada pengkhianat yang membocorkan rencana Paul dan PBB yaitu Gregoire.

Singkat cerita, dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Paul dan bantuan dari pasukan keamanan PBB yang dipimpin oleh Colonel Oliver, Paul berhasil menyelamatkan keluarganya dan masyarakat suku Tutsi dari peristiwa pembantaian Genosida di Rwanda. Setelah bertemu dengan keponakannya yang hilang, Paul dan sekeluarga mengungsi keluar dari wilayah kerusuhan di Rwanda.

Bila melihat runtutan kisah dalam film Hotel Rwanda, kemudian dikaitkan dengan perspektif etnisitas, maka menurut saya pandangan primordialisme cocok untuk digunakan dalam menganalisa film ini. Menurut Robuskha and Shepsle, primordialisme adalah loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional seperti suku bangsa, agama, ras, kederahan dan keluarga.

Menurut saya, genosida Rwanda ini karena perbedaan kekerabatan dan kepercayaan dari kedua kelompok etnis, adalah pandangan primordialis. Selain itu, menurut argumen primordialis mengungkapkan bahwa perbedaan yang tak terdamaikan karena kesenjangan budaya menyebabkan ketakutan dan konflik yang melahirkan kekerasan.

Meskipun studi sejarah yang lebih baru telah diakui bahwa genosida 1994 di Rwanda adalah hasil dari perbedaan dalam kekuasaan dan kekayaan antara Tutsi dan Hutu, primordialis menegaskan bahwa Hutu dan Tutsi dikembangkan sepenuhnya dalam budaya yang terpisah dan yang demikian pasti akan terjadinya konflik dengan satu sama lain.

Yunita venisa
Seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di UNTAN yang hanya menulis untuk melepaskan penat dan stress akibat hiruk pikuk duniawi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.