OUR NETWORK

Krisis Penalaran, Skripsi, dan Mental Kepakaraan

Mahasiswa hanya menjadi konsumen tentang produk intelektual mereka tanpa berpikir untuk membentuk mental kepakaran mereka sejak dini.

Dunia kampus adalah dunia yang sering didambakan oleh banyak pemuda setelah menamatkan jenjang pendidikan SLTA, mereka berharap diterima di universitas yang menawarkan jurusan yang mereka inginkan, bahkan banyak pula yang ingin belajar di universitas favorit karena tergiur oleh alumni yang sukses dan nama tenar kampus. Namun banyak pula yang gagal masuk ke kampus impian mereka dan sebagian dari mereka diterima di kampus pilihan kesekian dari pilihan mereka.

Jika kita bertanya pada setiap mahasiswa tentang apa motivasi mereka untuk kuliah, pasti kita akan akan menemui banyak varian jawaban mulai dari salah jurusan, ingin bekerja di perusahaan benefit sampai tradisi keluarga.

Mereka berharap dunia kampus adalah dunia yang menyenangkan dan bisa menjadi alumni yang sukses, terdidik dengan baik dan mengasah mental mereka menjadi seorang sarjana yang kompeten di bidangnya. Namun tidak jarang pula realitanya jauh dari harapan, dan bahkan kampus seakan belum bisa mengeluarkan potensi mereka secara maksimal.

Saat menjadi mahasiwa baru, para mahasiswa telah diberikan silabus atau rencana perkuliahan tentang tema apa saja yang akan dibahas. Pemilihan tema itu bukan ada begitu saja, namun melalui perhitungan dan seleksi sebelum diberikan kepada mahasiswa, dimana tema-tema tersebut saling terkait dengan tema lain.

Keteraturan ini selalu dilakukan setiap berganti semester, sehingga cara ini membentuk metode berpikir mahasiswa secara sistematis, tentunya dalam hal ini berfokus pada mahasiswa yang serius menjalani perkuliahan. Metode berpikir yang benar membantu mahasiwa untuk menalar dengan benar, sehingga pemikiran mereka tidak random ketika dihadapkan pada suatu problem di lapangan.

Metode berpikir inilah yang menjadi pembeda antara yang berpendidikan dan yang hanya berpengetahuan, namun sebagian kampus tidak terlalu memperhatikan aspek ini. Tumpulnya aspek penalaran atau metode berpikir yang seharusnya menjadi keunggulan produk institusi pendidikan malah seakan menjadi celah yang terus dibiarkan tanpa ada upaya untuk memperbaikinya.

Dosen-dosen hanya memberikan beban-beban tugas tanpa memperhatikan aspek apa yang dibutuhkan mahasiswa untuk menghadapi dunia yang terus bergerak. Di sini pentingnya pendidikan logika untuk diajarkan, guna bisa terus mencari celah dan solusi saat dihadapkan dengan masalah.

Pendidikan logika tidak mengenal perbedaan fakultas atau kampus, pendidikan logika selalu diperlukan di setiap ruang belajar dan kepala, bukan hanya milik salah satu rumpun ilmu. Memang pendidikan logika lekat dengan ilmu humaniora, namun logika juga diperlukan bagi kampus dan fakultas lain guna menjadikan para mahasiswa mampu membuat reasoning yang tepat dan menjadikan mereka pemikir kritis dan sanggup mencari solusi yang tepat. 

Selain faktor pendidikan logika, ternyata dinamika skripsi juga sering dialami mahasiswa bahkan beberapa mahasiswa tidak sampai menamatkan kuliah karena faktor skripsi dan dosen pembimbing.

Banyak mahasiswa yang hanya tinggal merampungkan skripsinya untuk lulus terhambat oleh pembimbingnya, dan mimpinya menjadi seorang sarjana tertunda, bahkan peluang mereka untuk bekerja di perusahaan benefit pun menipis.

Memang definisi bekerja diera saat ini perlu ditelah ulang, namun dalam hal ini banyak pembimbing terlalu intervensi dalam skripsi mahasiswa, entah penelitian mereka disebut telah banyak yang meneliti atau tema penelitian mereka sudah kuno.

Esensi dari pembimbing adalah membimbing mahasiswa, meluruskan dan memberi masukan pada mahasiswa yang melakukan riset, bukan menentukan populer, unik atau relevannya penelitian mahasiswa dengan keadaan sekarang.

Tujuan utama penelitian adalah kebermanfaatannya, mampukah mahasiswa berpikir kritis, mengurai permasalahan dengan argumentatif dan mampukah mahasiswa mempertanggungjawabkan gelarnya melalui riset, bukan memutuskan apakah riset itu populer atau tidak. Seringkali mahasiswa tidak bisa berbuat banyak ketika dihadapkan pada situasi seperti ini, hal ini dikarenakan para pembimbing memiliki modal kapital yang cukup untuk melakukan kekerasan simbolik terhadap mahasiswanya.

Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir, dunia kampus bukan lagi arena mencari wawasan yang ideal, tapi sebuah arena pertarungan kapital dimana pemilik kapital mempunyai kuasa untuk mengatur seseorang.

Dalam hal ini kapital bukan diartikan hanya sebagai pemilik modal, namun jika kita meminjam istilah Pierre Bourdieu, kapital mempunyai beberapa bentuk yakni kapital ekonomi (kemakmuran dan kekayaan), kapital budaya (keahlian dan kejeniusan), kapital sosial (jaringan sosial ekonomi dan strata sosial), dan kapital simbolik (prestis dan pencapaian).

Berkaca dari kasus di atas, mahasiswa tidak mempunyai kuasa atau cukup kapital untuk mempertarungkan argumen dan kehendaknya di hadapan pembimbing, karena mahasiswa telah ditaklukkan secara tidak langsung oleh pembimbing melalui kapital yang dia miliki. Sehingga mahasiswa hanya bisa menuruti pembimbing dan bahkan membiarkan pembimbing mengintervensi idenya, artinya kreativitas mahasiswa terbatasi.

Kampus tidak hanya berisi tentang arena yang dipenuhi pertarungan kapital dan berpikir kritis, namun mental kepakaran juga mulai perlu disorot. Tiap tahunnya banyak dosen yang melakukan penelitian namun hanya melibatkan rekan sejawat, dan seringkali mahasiswa hanya menjadi pendengar dari hasil penelitian tersebut.

Kurangnya melibatkan mahasiswa dalam setiap penelitian, mengakibatkan mental kepakaran mahasiswa terlambat terbentuk, sehingga mereka tidak tahu apa yang ada dalam dunia kepakaran dan bagaimana mereka mengimplementasikan ilmu yang mereka pelajari. Hasilnya, regenerasi kepakaran akan terhambat.

Memang setiap penelitian selain menghasilkan prestis juga menghasilkan nilai komoditas, artinya perputaran ekonomi juga bermain di situ. Hal inilah yang selalu dibanggakan oleh beberapa dosen sehingga modal kapital mereka selalu terawat dengan baik, bahkan terus bertambah, sedangkan mahasiswa hanya menjadi konsumen tentang produk intelektual mereka tanpa berpikir untuk membentuk mental kepakaran mereka sejak dini.

Inilah yang sering kali terjadi di dunia kampus, maka dari itu mahasiswa baiknya mencari komunitas di luar kampus yang memiliki passion sama dengan mereka, selain bakat dan kreativitas mereka tersalurkan mereka juga bisa berjejaring supaya mereka punya modal sosial guna menghadapi dunia di luar kampus. Tidak jarang pula komunitas intelektual di luar kampus yang mempunyai andil dalam pembentukan mental kepakaran seseorang karena mereka langsung dihadapkan dengan realita yang ada.

Mantan mahasiswa

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…