Jumat, Januari 22, 2021

Krisis Moralitas Sepak Bola Indonesia

Ingat, 2018 Tahun Politik Bukan ‘Jomblo’

Betul apa kata pepatah,"waktu itu bagaikan pedang", jika kita tidak bisa memanfaatkannya kita akan terbunuh oleh waktu yang setiap saat silih berganti. Maafkanlah diri...

Islam Itu Damai, Berdamailah!

Secara subtansial, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan, baik kekerasan psikologis maupun kekerasan fisik. Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, Islam, dan...

Covid-19 dan Krisis Kesadaran

Wabah virus corona atau covid-19 telah membuat kita sadar betapa pentingnya kualitas kesehatan. Pola hidup sehat adalah prioritas utama demi mengurangi potensi terserang berbagai...

Cita-Cita Menjadi Seorang Pewarta

Seniorku memiliki profesi sebagai wartawan di salah satu media massa. Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikan pekerjaannya. Rasanya aku mulai jatuh cinta pada pekerjaan...
Almer Sidqi
Wartawan

Pada Minggu (23/9), sebelum laga Persija kontra Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dimulai, satu jiwa telah melayang: Haringga Sirla suporter The Jak Mania meninggal dunia karena dikeroyok.

Tragedi nahas yang terjadi kemarin, mengingatkan saya pada serangkaian korban tewas akibat perseteruan kedua suporter fanatik ini; tercatat tujuh orang telah meninggal dunia sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Senin pagi, 24 September, saya membaca berita celaka ini, lantas menonton video pengeroyokannya yang tersebar luas di media daring. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Bagaimana mungkin seseorang dianiaya seperti binatang, tanpa ada yang membelanya Haringga tersungkur, dipukuli berbagai macam benda; dari botol, balok kayu, mangkuk, dan berbagai benda lainnya. Ratusan orang yang berada di TKP sama sekali tidak bergeming, mereka malah menyumpahi sembari menyanyikan yel-yel. Beberapa orang lainnya secara bergilir memberikan hantam.

Hal yang paling menggelitik, sekaligus bikin nyeri: ada lantunan La ila ha ilallah yang diteriaki di tengah-tengah perbuatan biadab tersebut. Bagaimana mungkin mereka menghunus nyawa seorang muslim dengan bertakbir? Ini perilaku paling kafir yang pernah saya lihat. Kekafiran yang jauh melampaui kebodohan jahiliah

Haringga bertolak ke Bandung sendirian untuk menyaksikan pertandingan Persija bertandang. Wanti-wanti pun datang agar ia tidak perlu menghadiri pertandingan celaka itu, bahkan sendirian, ia tidak menggubrisnya. Ia seperti percaya, bahwa masih ada kebaikan di tubuh sepak bola kita. Kebaikan yang hadir jika kita sendiri datang membawa perdamaian.

Kenyataannya berkata lain. Ia dikejar-kejar, dipukuli, sempat meminta pertolongan kepada tukang bakso, yang tentu tidak dapat menahan para zombie-zombie itu sendirian. Haringga ditarik, dihabisi hingga meninggal dunia.

Setiap manusia yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani, pasti meringis. Tragedi ini bukan hanya membuat saya makin pesimis dengan sepak bola negeri sendiri, namun saya juga makin pesimis dengan sikap kita sebagai bangsa. Dengan kata lain, kita hidup dalam belenggu kebodohan dan amoral.

Sudah cukupkah kebodohan ini merasuki kita? Atau kita masih memerlukan beberapa jiwa lagi untuk mencapai kata sepakat dengan kemanusiaan?

Problematika Lama

Terhitung sejak Divisi Utama Liga Indonesia bergulir (1994-1995), korban meninggal akibat pergesekan suporter mencapai 49 jiwa. Sebagian besar terjadi akibat pengeroyokan disertai serangan senjata tajam. Singkatnya, sepanjang dua puluh empat tahun liga sepakbola di Indonesia jalan merangkak dan tidak responsif; diwarnai tragedi berdarah, yang terus berepetisi dan berkesinambungan.

Wacana perdamaian sepertinya hanya sampai pada kerongkongan saja, justru suporter Indonesia semakin brutal belakangan; 38 korban meninggal dunia terjadi sepanjang tujuh tahun terakhir (2011-2018). Saya merasai, setiap nyawa yang melayang hanya disikapi sambil lalu.

Kontribusi diharapkan dari berbagai lini. Sikap patron dan pengelola klub harus semakin giat mendidik suporternya. Bagaimanapun, generasi muda selalu menjadi dominator pada sebuah klub. Tragedi-tragedi yang telah berlalu berhasil merampas hidup mereka; yang, bukan hanya menaruh sikap kecintaannya pada klub, tapi juga nyawanya.

PSSI perlu mengambil sikap yang tepat guna. Ini bukan cuma soal sepak bola dan nilai-nilai loyalitasnya sebagai suporter, ada yang lebih penting daripada itu: Kehidupan.

Almer Sidqi
Wartawan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.