OUR NETWORK

Krisis Moralitas Sepak Bola Indonesia

Ia seperti percaya, bahwa masih ada kebaikan di tubuh sepak bola kita. Kebaikan yang hadir jika kita sendiri datang membawa perdamaian.

Pada Minggu (23/9), sebelum laga Persija kontra Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dimulai, satu jiwa telah melayang: Haringga Sirla suporter The Jak Mania meninggal dunia karena dikeroyok.

Tragedi nahas yang terjadi kemarin, mengingatkan saya pada serangkaian korban tewas akibat perseteruan kedua suporter fanatik ini; tercatat tujuh orang telah meninggal dunia sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Senin pagi, 24 September, saya membaca berita celaka ini, lantas menonton video pengeroyokannya yang tersebar luas di media daring. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Bagaimana mungkin seseorang dianiaya seperti binatang, tanpa ada yang membelanya Haringga tersungkur, dipukuli berbagai macam benda; dari botol, balok kayu, mangkuk, dan berbagai benda lainnya. Ratusan orang yang berada di TKP sama sekali tidak bergeming, mereka malah menyumpahi sembari menyanyikan yel-yel. Beberapa orang lainnya secara bergilir memberikan hantam.

Hal yang paling menggelitik, sekaligus bikin nyeri: ada lantunan La ila ha ilallah yang diteriaki di tengah-tengah perbuatan biadab tersebut. Bagaimana mungkin mereka menghunus nyawa seorang muslim dengan bertakbir? Ini perilaku paling kafir yang pernah saya lihat. Kekafiran yang jauh melampaui kebodohan jahiliah

Haringga bertolak ke Bandung sendirian untuk menyaksikan pertandingan Persija bertandang. Wanti-wanti pun datang agar ia tidak perlu menghadiri pertandingan celaka itu, bahkan sendirian, ia tidak menggubrisnya. Ia seperti percaya, bahwa masih ada kebaikan di tubuh sepak bola kita. Kebaikan yang hadir jika kita sendiri datang membawa perdamaian.

Kenyataannya berkata lain. Ia dikejar-kejar, dipukuli, sempat meminta pertolongan kepada tukang bakso, yang tentu tidak dapat menahan para zombie-zombie itu sendirian. Haringga ditarik, dihabisi hingga meninggal dunia.

Setiap manusia yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani, pasti meringis. Tragedi ini bukan hanya membuat saya makin pesimis dengan sepak bola negeri sendiri, namun saya juga makin pesimis dengan sikap kita sebagai bangsa. Dengan kata lain, kita hidup dalam belenggu kebodohan dan amoral.

Sudah cukupkah kebodohan ini merasuki kita? Atau kita masih memerlukan beberapa jiwa lagi untuk mencapai kata sepakat dengan kemanusiaan?

Problematika Lama

Terhitung sejak Divisi Utama Liga Indonesia bergulir (1994-1995), korban meninggal akibat pergesekan suporter mencapai 49 jiwa. Sebagian besar terjadi akibat pengeroyokan disertai serangan senjata tajam. Singkatnya, sepanjang dua puluh empat tahun liga sepakbola di Indonesia jalan merangkak dan tidak responsif; diwarnai tragedi berdarah, yang terus berepetisi dan berkesinambungan.

Wacana perdamaian sepertinya hanya sampai pada kerongkongan saja, justru suporter Indonesia semakin brutal belakangan; 38 korban meninggal dunia terjadi sepanjang tujuh tahun terakhir (2011-2018). Saya merasai, setiap nyawa yang melayang hanya disikapi sambil lalu.

Kontribusi diharapkan dari berbagai lini. Sikap patron dan pengelola klub harus semakin giat mendidik suporternya. Bagaimanapun, generasi muda selalu menjadi dominator pada sebuah klub. Tragedi-tragedi yang telah berlalu berhasil merampas hidup mereka; yang, bukan hanya menaruh sikap kecintaannya pada klub, tapi juga nyawanya.

PSSI perlu mengambil sikap yang tepat guna. Ini bukan cuma soal sepak bola dan nilai-nilai loyalitasnya sebagai suporter, ada yang lebih penting daripada itu: Kehidupan.

Music Writer

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…