Rabu, Desember 2, 2020

Krisis Moralitas Sepak Bola Indonesia

Pesan-Pesan Politik Ahmad Syafii Maarif

Dunia politik Indonesia dalam 10 tahun terakhir dihantui oleh gelombang populisme agama dan politik identitas. Populisme agama ditandai oleh adanya gerakan Aksi Bela Islam...

Kata Siapa New Normal itu Benar-Benar New?

Apakah anda kira, New Normal ini benar-benar New? Benar-benar baru? Siapa bilang? Selama ini kita saban waktu mengalaminya, koq. hanya butuh kepekaan sedikit saja....

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Joe Biden Presiden AS, Bagaimana Nasib Timur Tengah?

Pemilu AS telah usai, Joe Biden ditetapkan sebagai pemenang pemilu dan akan ditetapkan menjadi presiden ke -46 di negara Paman Sam. Ia meraih suara...
Almer Sidqi
Wartawan

Pada Minggu (23/9), sebelum laga Persija kontra Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dimulai, satu jiwa telah melayang: Haringga Sirla suporter The Jak Mania meninggal dunia karena dikeroyok.

Tragedi nahas yang terjadi kemarin, mengingatkan saya pada serangkaian korban tewas akibat perseteruan kedua suporter fanatik ini; tercatat tujuh orang telah meninggal dunia sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Senin pagi, 24 September, saya membaca berita celaka ini, lantas menonton video pengeroyokannya yang tersebar luas di media daring. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Bagaimana mungkin seseorang dianiaya seperti binatang, tanpa ada yang membelanya Haringga tersungkur, dipukuli berbagai macam benda; dari botol, balok kayu, mangkuk, dan berbagai benda lainnya. Ratusan orang yang berada di TKP sama sekali tidak bergeming, mereka malah menyumpahi sembari menyanyikan yel-yel. Beberapa orang lainnya secara bergilir memberikan hantam.

Hal yang paling menggelitik, sekaligus bikin nyeri: ada lantunan La ila ha ilallah yang diteriaki di tengah-tengah perbuatan biadab tersebut. Bagaimana mungkin mereka menghunus nyawa seorang muslim dengan bertakbir? Ini perilaku paling kafir yang pernah saya lihat. Kekafiran yang jauh melampaui kebodohan jahiliah

Haringga bertolak ke Bandung sendirian untuk menyaksikan pertandingan Persija bertandang. Wanti-wanti pun datang agar ia tidak perlu menghadiri pertandingan celaka itu, bahkan sendirian, ia tidak menggubrisnya. Ia seperti percaya, bahwa masih ada kebaikan di tubuh sepak bola kita. Kebaikan yang hadir jika kita sendiri datang membawa perdamaian.

Kenyataannya berkata lain. Ia dikejar-kejar, dipukuli, sempat meminta pertolongan kepada tukang bakso, yang tentu tidak dapat menahan para zombie-zombie itu sendirian. Haringga ditarik, dihabisi hingga meninggal dunia.

Setiap manusia yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani, pasti meringis. Tragedi ini bukan hanya membuat saya makin pesimis dengan sepak bola negeri sendiri, namun saya juga makin pesimis dengan sikap kita sebagai bangsa. Dengan kata lain, kita hidup dalam belenggu kebodohan dan amoral.

Sudah cukupkah kebodohan ini merasuki kita? Atau kita masih memerlukan beberapa jiwa lagi untuk mencapai kata sepakat dengan kemanusiaan?

Problematika Lama

Terhitung sejak Divisi Utama Liga Indonesia bergulir (1994-1995), korban meninggal akibat pergesekan suporter mencapai 49 jiwa. Sebagian besar terjadi akibat pengeroyokan disertai serangan senjata tajam. Singkatnya, sepanjang dua puluh empat tahun liga sepakbola di Indonesia jalan merangkak dan tidak responsif; diwarnai tragedi berdarah, yang terus berepetisi dan berkesinambungan.

Wacana perdamaian sepertinya hanya sampai pada kerongkongan saja, justru suporter Indonesia semakin brutal belakangan; 38 korban meninggal dunia terjadi sepanjang tujuh tahun terakhir (2011-2018). Saya merasai, setiap nyawa yang melayang hanya disikapi sambil lalu.

Kontribusi diharapkan dari berbagai lini. Sikap patron dan pengelola klub harus semakin giat mendidik suporternya. Bagaimanapun, generasi muda selalu menjadi dominator pada sebuah klub. Tragedi-tragedi yang telah berlalu berhasil merampas hidup mereka; yang, bukan hanya menaruh sikap kecintaannya pada klub, tapi juga nyawanya.

PSSI perlu mengambil sikap yang tepat guna. Ini bukan cuma soal sepak bola dan nilai-nilai loyalitasnya sebagai suporter, ada yang lebih penting daripada itu: Kehidupan.

Almer Sidqi
Wartawan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.