OUR NETWORK

Krisis Air di Ambang Kritis

Berkaca pada Cape Town

Kota megapolitan DKI Jakarta memiliki pekerjaan rumah cukup berat dalam rangka menghadapi ancaman kekeringan di Pulau Jawa ke depan. Pasalnya, daerah dengan luas sekitar 7.659,02 kilometer persegi dan dihuni oleh penduduk sebanyak 10.374.235 jiwa masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan air yang laik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat merilis data yang menampilkan 15 kecamatan di Jakarta berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau panjang tahun ini. Nahasnya, beberapa di antara daerah tersebut, memang belum tersentuh pelayanan air bersih dari PAM Jaya, selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta yang bertugas untuk memberikan pelayanan air bersih kepada warganya.

Melansir Tribunnews.com Kasubdit Air Minum Kementerian PPN/Bappenas, Tirta Sutedjo menjelaskan akses air minum laik secara nasional masih sangat kurang. Upaya penyediaan layanan air minum laik bagi penduduk Indonesia, khususnya di Jakarta terus dilakukan meski terkendala ketersediaan air bersih.

Walaupun kelangkaan air bersih dan aman juga membuat sanitasi di lingkungan ibu kota hanya berada di level standar pelayanan minimum (SPM). Mengingat di Jakarta ketersediaan akses air minum laik 60 persen, itu pun masih di daerah pusat, sisanya yang dipinggir-pinggir belum tercukupi karena masalah saluran pipa yang terbatas.

Maka tak ayal, warga Jakarta yang bermukim di pinggiran lebih memilih mengambil air tanah sebagai sumber kebutuhan air mereka. Oleh karenanya masalah air bersih di DKI Jakarta harus segera diatasi. Jangan sampai Jakarta mengikuti jejak Ibukota Afrika Selatan, Cape Town yang mengalami krisis air parah.

Berkaca pada Cape Town

Seperti di ketahui Kota Cape Town di Afrika Selatan dengan cepat mendekati apa yang dikatakan walikotanya “Day Zero” atau Hari Nol, di mana kota metropolitan berpenduduk empat juta orang itu harus menutup keran ledeng karena kehabisan air di tengah

Bahkan Pemerintah kota Cape Town, Afrika Selatan, sudah menetapka batas konsumsi air, masing-masing warga hanya punya jatah 50 liter air dari sebelumnya 87 liter untuk seluruh kebutuhannya. Kapasitas empat bendungan yang menjadi tumpuan kebutuhan air Cape Town, sudah berada di bawah 30%.

Idiom air sebagai sumber kehidupan tampaknya tidak bisa dinafikan dalam kehidupan umat manusia. Bahkan dalam Nash Al Qur’an dituliskan bahwa dari air segala makhluk hidup dijadikan. Oleh karena itu, hemat penulis pada diri setiap individu perlu memperoleh momentum penyadaran terhadap kepedulian lingkungan agar ketersediaan air tetap dapat dinikmati anak cucu bangsa ini.

Pemahaman serta perhatian khusus yang kurang dari masyarakat global pada pentingnya keberadaan air bersih adalah salah satu alasan dibalik penumbuhan kesadaran lingkungan. Hal itu guna memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengetahui isu-isu dan informasi yang berhubungan dengan air, sehingga menginspirasi masyarakat untuk menyebarluaskannya.

Selain itu dengan melakukan aksi-aksi untuk membuat perbaikan dalam pengelolaan sumber daya air dalam kehidupan sehari-hari dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat dunia terhadap pentingnya air bagi kehidupan juga laik untuk didengungkan.

Berdasarkan pengalaman penulis sendiri yang hidup dan berkembang di salah satu sudut desa di Banyuwangi tepat di Afdeling Kalitajem Kebun Kendenglembu Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore, sejak kecil sudah memafhumi pentingnya menjaga ekosistem guna tetap bisa menikmati fungsi air utamanya air sungai.

Hal itu dikarenakan kehidupan masyarakat kami yang tidak bisa dipisahkan dengan sungai, sehingga berimplikasi pada habit yang terus dijaga dan membudaya untuk selalu aware terhadap lingkungan. Sehingga simbiosis nutualisme antara manusia dan alam tetap terjaga.

Pun begitu, segala bentuk usaha yang dilakukan oleh masyarakat tidak selamanya berjalan mulus, terkadang ada juga segelintir “oknum” yang tidak bertanggung jawab yang rela mengambil keuntungan pribadi sehingga menafikan segala bentuk kepentingan umum.

Dukungan Semua Pihak

Oleh karenanya, diperlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat agar ekosistem air ini dapat terus terjaga. Seperti salah satu langkah Pemkab Banyuwangi yang layak diapresiasi adalah Menjadikan sungai sebagai wajah kota dengan melakukan penataan lingkungan di sekitar sungai guna menjaga ketersediaan air.

Lewat program Banyuwangi Berwarna, lingkungan sungai dipulihkan dan ditata ulang, hal tersebut semakin menegaskan kepedulian Pemkab untuk memberikan penyadaran bagi masyarakat tentang pentingnya fungsi Air di Sungai. Mengingat jika melihat di banyak negara maju seperti Korea dan Prancis sungai menjadi bagian penting kota yang sangat dijaga kebersihannya dan menjadi simbol kemajuan budaya penduduknya.

Upaya yang dilakukan Pemkab tersebut memang memiliki urgensi yang cukup tinggi. Mengingat akibat yang ditimbulkan jika kebersihan air tidak dijaga sedini mungkin dengan menciptakan habit masyarakat yang sadar lingkungan. Maka saat tercemar akan menyebabkan rusaknya ekosistem dan kelestarian alam.

Bahkan terancamnya kehidupan manusia yang akan menimbulkan berbagai penyakit yang disebabkan karena air yang tidak bersih. Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat pemerintahan karena berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  polusi air merupakan penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit bagi Masyarakat.

Seperti kata Profesor Stephen Hawking yang selalu mengingatkan warga dunia jika Bumi ini sudah mendekati titik kritis. Dimana jika kesadaran masyarakat akan lingkungan tidak dibenahi dan pemanasan global tidak segera berubah.

Maka hal tersebut dapat membahayakan bumi, tidak ayal jika prediksinya tentang nasib Bumi akan seperti Venus dengan suhu dua ratus lima puluh derajat dan terjadi hujan asam sulfat disana banyak menjadi bahan renungan bersama.

Prediksi Hawking itu bukan tanpa alasan dengan penyebutan Bumi bisa menjadi Venus kedua. Mengingat berdasarkan data NASA, Venus memang memiliki kondisi yang serupa dengan Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu. Wallahu A’lam Bishawab.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Asal Bumi Blambangan Banyuwangi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…