Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

KPK Sang Vigilante Zaman Now

Jenderal Merah, Jenderal Hijau, dan Jenderal Merah Putih

LB Moerdani, Ali Moertopo dan Sudomo adalah 3 sekawan yang menjadi operator politik Soeharto yang paling ganas. Mereka sering dikelompokan dalam "jenderal-jenderal merah". Di...

Menggunting dalam Lipatan, Pupuskah Mimpi Bangsa Berdaulat?

Indonesia dalam usia yang ke-79 tahun termangu-mangu di antara himpitan negara perkasa yang mungil dan mengelilinginya. Kemerdekaan yang sejatinya merupakan mimpi bagi setiap warga...

Mengenali Motif Pelaku Mutilasi

Masih tentang kabar mutilasi. Jari tangan kita yang terkena jarum suntik saja terasa perih, bagaimana dengan korban mutilasi? Seakan enggan memikirkan rasa perihnya, namun...

Genderuwo, Perjalanan Sang Rupawan Menjadi Momok

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo menyindir lawan politiknya yang beliau tuduh sering menyebarkan perasaan takut dalam berkampanye dengan istilah “politik genderuwo”. Terlepas dari...
Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis

Ada dua ironi yang amat disayangkan judul tulisan ini. Pertama akibat budaya dominan, vigilante yang berasal dari kata bahasa inggris lebih mudah dipahami dari pada arti yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia. Kedua, ironi maknawi dari kata itu sendiri.

Konsep vigilante, main hakim sendiri, sudah sangat populer dalam dunia komik. Misalnya Batman, kehidupan batman di satu sisi sebagai vigilante dan di sisi lain, seorang yang diwariskan kekayaan yang sangat berlimpah.

Tapi amat disayangkan seorang Bruce (tokoh Film Batman) tak bisa mengubah Gotham, kota yang dihidupinya, dengan kekuatannya sebagai seorang miliuner. Artinya kejahatan di kota yang dia tinggali sudah sangat akut sampai dia sendiri harus memakai topeng dalam melakukan aksi keadilan yang dia miliki.

https://assets3.thrillist.com/v1/image/1410825/size/tmg-facebook_social.jpg

Hak angket yang dulu selalu saja dijadikan bahan nyinyiran oleh beberapa anggota DPR, sekarang mungkin menjadi ciut ketika Setya Novanto sudah menjadi tersangka. Hak angket mungkin juga sebagai bahan pertanyaan kita mengenai negara ini. KPK terbilang memiliki kekuasaan yang lebih. Itu terdapat dalam kolom sekilas KPK dalam halaman dimilikinya:

“Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen, yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan mana pun.”

Inilah yang menjadi bahan penyerangan buat yang tidak menyukai KPK. Di sisi lain, ini juga bisa diartikan sama dengan konsep vigilante. Konsep vigilante itu sendiri sudah diungkapkan dalam tulisan ini secara tersirat pada paragraf ke-2. Keadilan hanya terdapat di dalam hukum.

Artinya hukum yang berlaku menjadi standar kita dalam melihat keadilan. Namun, yang menarik adalah apakah di luar dari hukum itu sendiri adalah keadilan? Di sinilah hukum itu diuji. Jika seseorang melakukan tindak kejahatan namun tak didapati bukti bahwa dia melakukan kejahatan, maka hukum pun dapat bekerja, tapi tidak dengan keadilan.

https://conservativenewager.files.wordpress.com/2012/10/bruce-wayne.jpg

Vigilante inilah yang berjalan sendiri secara outlaw (di luar hukum) menjalani keadilan. Jadi tak salah jika seorang miliuner seperti bruce tak dapat menegakkan keadilan, sedangkan sebagai batman dia dapat menjalankan keadilan yang dia yakininya. Hal yang menarik lagi ketika batman datang menjadi seorang vigilante yang kerap kali ada di malam hari, orang-orang yang berniat jahat menjadi ciut dalam melakukan tindak kriminal.

Namun, apakah itu sama dengan apa yang terjadi dengan KPK? Tentulah tidak. Hal tersulit bagi KPK walaupun sebagaimana telah terungkap “wewenangnya bebas dari kekuasaan mana pun” tetap masih dalam tahap prosedural. Jika KPK memang sepenuhnya vigilante, dia bisa saja secara langsung menghakimi para tersangka korup itu.

Hal yang jadi permasalahannya jika memang KPK memiliki kekuasaan semena-mena adalah penilaiannya terhadap konsep keadilan. Batman seorang vigilante tentu memiliki pemikiran tersendiri tentang keadilan yang juga pada dasarnya berbeda dengan vigilante lainnya seperti Punisher, seorang eks militer yang sakit hati dengan kejadian yang tertimpa di dalam militer: korup merajalela, narkoba juga berjalan.

Batman menjalankan vigilante tetapi tidak membunuh pelaku tindak kriminal dan malah, dia memberikan pelaku tersebut kepada pihak yang berwajib. Sedangkan Punisher, terkesan akan brutalnya. Dia bahkan membunuh pelakunya.

https://pmcvariety.files.wordpress.com/2017/09/095_crime_111_unit_03137r-e1505930095217.jpg?crop=0px%2C0px%2C1000px%2C561px&resize=700%2C393

Artinya setiap seorang vigilante memiliki kesan keadilan yang subjektif. Lantas bagaimana dengan KPK, KPK dengan jelasnya memperlihatkan dalam situsnya, bagaimana prosesi keadilan yang diungkapkannya.

“Dalam pelaksanaan tugasnya, KPK berpedoman kepada lima asas, yaitu: kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada Presiden, DPR, dan BPK.”

Jika kita melihat secara berkala dalam kejadian baru-baru ini, KPK sudah melaksanakan tugasnya. Yaitu keterbukaan. Para pelaku korupsi itu sendiri bisa dikatakan bermain drama di publik, tapi artinya berbeda bagi KPK. Dia (KPK) berusaha menjalankan keterbukaan itu.

Apakah kita butuh KPK untuk keadilan?

Penulis merasa ini merupakan pertanyaan yang selalu berputar-putar ditemukan di film-film heroik. Keadilan bisa berjalan tergantung pada diri kita secara pribadi. Hukum itu sendiri bersifat tidak pribadi, lantas bagaimana keadilan itu bisa berjalan jika itu bergantung pada kita secara pribadi?

Kata “tergantung” itu merujuk kepada sesuatu kata yang dapat diungkapkan secara sederhana adalah “konsensus”, atau persetujuan. Jadi hukum itu sendiri bersifat pribadi dan juga tidak pribadi, atau lebih tepatnya, intersubjektif. Hukum yang membawa keadilan itu sangat bergantung kepada kita, apakah kita mau menerimanya atau tidak. Jika iya, maka kita harus mengambil risikonya, dan jika tidak, entah keadilan bagi kita itu seperti apa.

Dalam buku Filsafat Fragmentaris yang ditulis oleh F. Budi Hardiman mengungkapkan bagaimana seharusnya keadilan bekerja. Salah satu tokoh filsuf besar yang diungkapkan di dalam bukunya, Derrida, melihat bahwa keadilan itu sangat bergantung pada hukum. Namun, apakah di luar hukum itu bukan sebuah keadilan?

Jika selama ini kita menganut hukum rasional positivistik, apakah keadilan itu juga bersifat rasional? Sehingga yang tak rasional kita hapuskan. Jika kita mendapati sekelompok suku yang hidup di daerah yang sangat terpencil namun masih di dalam negeri kita melakukan sebuah ritual yang bisa dikatakan tidak rasional, misalnya memakan laba-laba, meminum darah hewan, apakah itu bisa dikatakan keadilan atau tidak? Dan kita mungkin melabel tindakan ritual itu.

Contohnya juga bisa didapati di rumah sakit. Sebagaimana diketahui Descartes memiliki andil dan juga dosa terbesar yaitu hukum rasional pada dunia. Rumah sakit mana pun dipastikan harus memiliki standar “masuk akal”, lantas yang tak masuk akal seperti korban santet, korban jin, dan sebagainya tak dapat dilayani di rumah sakit.

KPK di sisi lain jika kita tidak membutuhkannya, apakah kita sudah siap menjalankan keadilan sejujur-jujurnya dengan ditemani keterbukaan? Di sisi lain kita juga membutuhkan KPK, karena akan ada selalu keadilan di luar hukum yang belum terungkapkan, namun terlebih dahulu kita harus mengenalinya.

Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.