OUR NETWORK

Kota, Polusi, dan Resiko Kematian Dini

“We have got to pause and ask ourselves: How much clean air do we need?” -Lee Iacocca

Studi Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memaparkan 20 kota-kota di dunia paling berpolusi. 20 kota tersebut yaitu Buenos Aires, Sao Paulo, Rio de Jeneiro, Meksiko, Beijing, Shanghai, Kairo de Raya, Kalkuta, New Delhi, Bombay, Karaci, Tokyo, Manila, Bangkok, Seoul, Moskow, London, Los Angeles, New York dan Jakarta.

Tak disangka, tak dinyana, keduapuluh kota tersebut memiliki tingkat pencemaran udara yang memprihatinkan. Udara yang tercermar tentu menunjukkan buruknya kualitas udara yang serta-merta membahayakan kesehatan.

Bagi kota Jakarta, ternyata memiliki predikat sebagai kota paling berpolusi nomor 1 di tingkat Asia Tenggara dengan tingkat perolehan Indeks Kualitas Udara / Air Quality Index (AQImencapai angka 184. AQI merupakan indeks yang mengukur tingkat pencemaran atau kualitas udara di suatu wilayah dengan menghasilkan beberapa kategori yaitu baik (0-55), sedang (51-100), tidak sehat (101-199), sangat tidak sehat (200-299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Berkenaan dengan hal tersebut, temuan Greenpeace Indonesia menunjukkan status kualitas udara di 12 lokasi di Jakarta dan sekitarnya. Antasari, Warung Buncit, Kedoya, Cilandak, Gandul (Depok), Cikunir dan Jati Bening (Bekasi) mendapat predikat sangat tidak sehat dengan AQI rata-rata 244, sedangkan Permata Hijau, Utan Kayu, Jonggol, Kedung Halang (Bogor), dan Rasuna Said berpredikat tidak sehat dengan AQI rata-rata 190,8 (http://greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/759055/Briefing%20Paper%20-%20Kualitas%20Udara%20yang%20Buruk%20di%20Jabodetabek.pdf). Dalam artikel lain, Greenpeace Indonesia memperingatkan kita, bahwa buruknya kualitas udara Jakarta adalah sebagai ‘Pembunuh Senyap’ (silent killer) yang senantiasa mengintai.

Hal demikian berlandaskan kenyataan bahwa masyarakat Ibu Kota sudah kadung tanggung menghirup udara kotor yang mengandung zat-zat berbahaya bagi tubuh. Zat-zat sebagaimana dimaksud yang kerap-kali ditemui di antaranya adalah SO2 (berperan terhadap terjadinya hujan asam dan polusi partikel sulfat aerosol), NO dan NO2 (berperan dalam polusi partikel, deposit asam, dan prekusor  ozon yang merupakan unsur pokok kabut fotokimia), dan CO, O3, SPM serta PB yang seluruhnya terbukti merugikan kesehatan umat manusia khususnya kaum urban (http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-yusniwarti.pdf).

Bukan hal aneh zat-zat tersebut tumbuh subur di wilayah perkotaan termasuk Jakarta, mengingat menjamurnya pabrik-pabrik industri dan kendaraan bermotor. Lebih jauh, akar masalah tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi. Bagaimana tidak, terdapat 10 juta jiwa lebih penduduk Jakarta yang setiap harinya menebar zat-zat berbahaya serta berkontribusi merusak lingkungan, bukan hanya udara, melainkan juga air dan tanah.

Terkait pesatnya pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan. Sri Mulyani (Menteri Keuangan Republik Indonesia) menuturkan bahwa “Pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia termasuk tertinggi di dunia yaitu 4,1%”, lebih  tinggi dari China (3,8%) dan India (3,1%) (http://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/27/142000926/sri.mulyani.ungkap.kegilaan.urbanisasi.di.indonesia). Sementara itu, berdasarkan data BPS, tingkat urbanisasi di Indonesia mencapai 49,8% pada tahun 2010 dan diprediksi mencapai 60% pada tahun 2020. Diperkirakan, pada tahun 2040 penduduk Jakarta akan berada pada angka 11,28 juta jiwa.

Jumlah penduduk sedemikian besar dengan luas wilayah hanya sekitar 600 KM persegi, memunculkan konsekuensi berbagai persoalan di Jakarta termasuk perihal tata ruang dan lingkungan. Pesatnya pertumbuhan penduduk Jakarta, baik disebabkan oleh faktor alami (kelahiran) atau pun urbanisasi, berimplikasi pada peningkatan jumlah kendaraan bermotor baik kendaraan pribadi maupun transportasi publik.

Berdasarkan data BPS, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga akhir 2014 saja, adalah lebih dari 17 juta unit (didominasi sepeda motor sekitar 13 juta unit lebih) atau dengan kata lain, pertumbuhannya adalah 12% per tahun, berbanding terbalik dengan pertumbuhan jalan yang hanya 0,01% per tahun.

Kemacetan di Jakarta akibat pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor
https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwisx4ycofngAhXv7XMBHUUMDKIQjhx6BAgBEAM&url=http%3A%2F%2Fsinarsumsel.com%2Fnasional%2Fjakarta-diprediksi-akan-macet-total-tahun-2022%2F&psig=AOvVaw3buXmJsityM13YcjtkVkK1&ust=1552365132855593

Akibatnya, ruang kota menjadi sesak oleh hilir mudik kendaraan dengan pola yang sama setiap harinya. Kesemrawutan sebagai persoalan tata ruang tersebut melengkapi buruknya kualitas udara sebagai masalah lingkungan di Jakarta. Hal demikian berkenaan dengan emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaran bermotor seperti CO, NOx, SOx, debu, Hidrokarbon dan juga timbal.

Studi Ismiyati, Marlita dan Saidah (2014) menjelaskan bahwa emisi gas buang menjadi semakin buruk disebabkan oleh dua faktor yaitu perawatan dan standar bahan bakar yang buruk. Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa udara yang tercemar zat-zat  berbahaya itu akan menimbulkan ganguan kesehatan mulai dari iritasi mata dan kulit hingga gangguan pembuluh darah dan paru-paru sehingga menimbulkan penyakit seperti bronchitis kronis bahkan kanker paru-paru.

Buruknya kualitas udara akibat emisi gas buang berkontribusi pada peningkatan resiko kematian kematian melalui pernyakit pernapasan akut pada anak, penyakit paru kronis, penyakit jantung, dan penyakit kanker kronis (http://greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/759055/Briefing%20Paper%20-%20Kualitas%20Udara%20yang%20Buruk%20di%20Jabodetabek.pdf).

Persoalan polusi di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia merupakan tantangan serius untuk diselesaikan mengingat visi Green and Smart City yang kita perjuangkan. Belum lagi kita dihadapkan dengan agenda Sustainable Development Goals’s (SDGs) yang mengharuskan pemerintah mengimplementasikan pembangunan yang memperhatikan dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dalam SDGs, tujuan ke ke-3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan tujuan ke-11 yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, menuntut pemerintah untuk menjamin masyarakatnya hidup sehat dan panjang umur serta menyelesaikan segala permasalahan tata ruang kota akibat pesatnya arus urbanisasi dan perubahan iklim.

Namun demikian, sekiranya masyarakat juga harus bekerja sama mengubah perilakunya ke arah lebih baik. Kesadaran pentingnya udara bersih dan bahaya polusi udara harus tertanam dalam diri setiap orang. Peningkatan kesadaran tersebut harus terus diupayakan bersama-sama oleh semua pihak.

Hal yang agaknya juga tidak boleh dilupakan adalah peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kualitas udara. Perbaikan infrastruktur alat pengukur atau pemantau kualitas udara harus diimbangi dengan pengetahuan dan akses masyarakat terhadap hal tersebut.

Langkah cemerlang yang dapat dijadikan contoh salah satunya  dilakukan oleh Greenpeace Indonesia, yaitu meluncurkan aplikasi ‘Udara Kita’ (untuk mengetahui kualitas udara berdasarkan perhitungan jumlah konsentrasi PM 2.5, salah satu polutan udara yang diketahui paling berbahay (http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/Memantau-Kualitas-Udara-Melalui-Aplikasi-UdaraKita/).

Semua elemen harus sadar dan tergerak hati, pikiran dan raganya untuk mewujudkan kualitas udara yang baik. Air dan tanah sudah harus bayar, jangan sampai terjadi pada udara bersih sebaga satu-satunya commons yang gratis saat ini.

Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences (P2KK - LIPI) | Email: rusydan.fathiy@lipi.go.id / rusydanfathy@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…