OUR NETWORK

Korona dan Ikhtiar Ulama Nusantara

Ulama Nusantara pun tidak tinggal diam. Mereka ikut ambil bagian dalam ikhtiar melawan pandemi Covid-19. Tentunya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengajak masyarakat berdoa.

Hampir satu bulan terakhir ini Indonesia tengah mengalami situasi genting akibat pandemi Covid-19 atau yang juga dikenal dengan virus korona. Pemerintah pusat telah menyatakan Indonesia dalam kondisi darurat bencana non-alam.

Dampaknya telah nyata di depan mata. Perekonomian bergerak lamban. Di sektor riil, Sejumlah pusat perbelanjaan dan mal tutup. Driver ojek online mengeluhkan sepinya orderan penumpang yang disebabkan karena banyak pekerja yang bekerja dari rumah (Work from Home). Di sisi moneter, nilai tukar rupiah kini meroket, tembus di atas Rp 15.000 per satu USD. Target penerimaan pajak negara dalam APBN terancam tidak tercapai.

Data penderita bergerak dinamis karena setiap harinya selalu ada pasien yang positif terinfeksi Covid-19. Per hari ini tercatat ada lebih dari seribu orang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19, 46 orang sembuh, dan 87 orang meninggal. Jumlah pasien yang tidak terdata diperkirakan jauh lebih banyak.

Jakarta adalah wilayah dengan jumlah penderita terbanyak dengan 515 orang yang terkonfirmasi positif, kemudian disusul Provinsi Jawa Barat dengan 78 orang. Ya, karena dua provinsi ini adalah yang terpadat penduduknya dengan tingkat aktivitas ekonomi yang tinggi.

Merespon pandemi Covid-19 yang tiap harinya semakin mengganas, semua elemen bangsa sigap bergerak. Pemerintah menyusun strategi dan merumuskan sejumlah kebijakan. Dokter dan perawat di garda terdepan memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dalam perang melawan Covid-19.

Ikhtiar Ulama Nusantara

Ulama Nusantara pun tidak tinggal diam. Mereka ikut ambil bagian dalam ikhtiar melawan pandemi Covid-19. Tentunya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengajak masyarakat berdoa. Mereka mengijazahkan untuk umum doa penangkal waba wal bala (wabah dan musibah). Oleh karenanya tidak heran jika di sepanjang bulan maret ini, ada banyak lafadz doa tolak bala yang beredar di media sosial.

Ada beragam lafadz doa yang diijazahkan. Di antaranya merupakan penggalan ayat Al-quran, lafadz doa yang diriwayatkan dalam hadist, sholawat, hingga asmaul husna dan kalimah toyyibah (kalimat-kalimat kebaikan) yang disusun secara sistematis, dengan jumlah bilangan tertentu.

KH. Musthofa Bisri atau yang dikenal dengan Gus Mus, misalnya, dalam halaman facebook pribadinya telah mengijazahkan secara terbuka dan umum Hizib Awtad. Gus Mus meminta masyarakat membaca  hizib tersebut untuk benteng diri agar terhindar dari wabah Covid-19. Hizib merupakan sejumlah bacaan dzikir dan doa yang disusun untuk tujuan memohon perlindungan kepada Aloh swt dari segala keburukan. Biasanya, hizib ini adalah amalan khusus para kyai nusantara.

Mengamalkan hizib bukan perkara mudah. Hizib tidak boleh dibaca tanpa ada sanad dan ijazah. Dalam situasi normal, untuk mengamalkan hizib biasanya perlu diawali menjalankan sejumlah syarat seperti berpuasa, tidak memakan makanan bernyawa, dan syarat lainnya. Tergantung dari yang mengijazahkannya. Itulah mengapa tidak semua orang mengamalkan hizib. Tapi ijazah hizib Awtad dari Gus Mus boleh dibaca tanpa syarat khusus.

Beberapa hari sebelumnya juga sempat viral lafadz doa dalam bentuk syair yang diijazahkan oleh Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari kala masyarakat ditimpa pagebluk. Doa syair itu berbunyi “li khomsatun utfi biha, harrol wabail hatimah, almustofa wal murtadlo, wabnahuma wa Fatimah”.

Artinya: Aku mohon diselamatkan dari panas derita wabah yang membuat sengsara, melalui wasilah derajat keluhuran lima pribadi mulia yang aku punya: yaitu Nabi Muhammad saw, Sayyidina Ali al-Murtadla dan kedua putranya (Hasan dan Husain), serta Sayyidatina Fathimah.

Melalui video yang beredar, KH. Mustaqim Askan, Guru Aliyah Tebuireng – Jombang, menjelaskan cara mengamalkan doa puisi tersebut dengan membacanya sebanyak 41 kali, lalu dibaca lima kali setiap selesai sholat maghrib dan subuh.

Doa tolak bala yang bersumber dari asmaul husna juga pernah yang diijzahkan oleh KH. Nasihin dari Jawa Timur. “Ya Rohman, ya Rohim, ya Mukmin, ya Salam, ya ‘Aziz, ya ‘Alim, ya Karim, La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim”. Dibaca 7 kali setiap malam sebelum tidur.

Doa tolak bala lainnya yang sudah umum di kalangan masyarakat adalah Ratib Al-Haddad dan Ratib Al-Atthas. Beberapa ulama ada juga menjelaskan kaifiyahnya cukup dengan membaca “Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syaiun fil ardli wa la fis sama-I wa huwas sami’ul ‘alim”, sebanyak tiga kali tiap selesai sholat maghrib dan subuh.

Pengurus Besar Nahdlotul Ulama (PBNU) juga telah menghimbau kepada masyarakat untuk melaksanakan sejumlah amalan khusus untuk menangkal penyebaran Covid-19. Dalam surat resmi yang beredar, PBNU mengajak masyarakat untuk membaca doa Qunut Nazilah dan juga mendawamkan sholawat Tibbil Qulub (Obat Hati). Memohon kepada Alloh swt agar mengangkat wabah penyakit dari bumi Indonesia.

Di luar amalan doa-doa tersebut, masih ada segudang lainnya yang tidak mungkin ditulis semuanya di sini. Semuanya diijazahkan oleh para Ulama Nusantara kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk keselamatan dan keamanan Indonesia. Masyarakat bebas untuk memilih doa mana yang hendak diamalkan.

Beredarnya ijazah atau pemberian doa, hizib, maupun wirid yang diberikan secara umum kepada masyarakat untuk tolak bala ini setidaknya menyiratkan dua hal. Pertama, Ulama Nusantara sangat peduli dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini. Perang melawan Korona bukan hanya tanggungjawab pemerintah dan tenaga medis, tetapi juga Ulama Nusantara.

Kedua, Ulama Nusantara memiliki kekayaan spiritual yang sangat berlimpah. Sebuah permasalahan tidak cukup diselesaikan dengan ikhtiar dzohiriyah saja, seperti tindakan medis dan perumusan kebijakan, tetapi juga perlu ikhtiar batiniyah melalui doa. Inilah yang dipahami dalam akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Bagi kalangan santri dan masyarakat Nahdliyin, doa-doa yang bersanad memiliki dimensi spiritual yang berbeda dengan doa pada umumnya. Setidaknya karena dua sebab. Pertama, doa yang bersanad memiliki kejelasan sumber siapa saja yang mengamalkan dan untuk apa diamalkan. Mengamalkan doa bersanad secara tidak langsung ber-tabarrukan (berharap berkah) kepada orang-orang soleh yang telah mengamalkan sebelumnya.

Kedua, karena di kalangan masyarakat nahdliyin meyakini pentingnya perantaraan atau dikenal dengan tawasul sebagai bagian dari spiritualitas dalam hal permohonan kepada Alloh swt. Doa yang bersanad merupakan jalur khusus dalam berdoa. Bertawasul berarti memohon kepada Alloh swt melalui perantara orang-orang soleh yang memiliki tingkat perbuatan (amaliyah) dan keilmuan yang luhur.

Dengan segala ikhtiar lahiriyah dan batiniyah yang tengah diupayakan segenap elemen bangsa Indonesia, tentu harapan seluruh masyarakat Indonesia dan dunia adalah agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Dengan menundukan hati, mengharap ridlo dan ampunan ilahi, serta keyakinan yang tinggi, dengan izin Alloh swt, semoga segera pandemi ini pergi dari tanah air ibu pertiwi. Amin.

Wakil Sekretaris PCNU Kota Depok | Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pemuda (LDP) KNPI Jawa Barat | Pengajar di FISIP UNAS

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…