Senin, April 12, 2021

Kopi Jum'at Semangat

Trump dan Prediksi Geopolitik Timur Tengah

Seorang raja properti yang juga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump telah membuat gaduh dunia dengan pernyataannya yang kontroversial. Ia mendukung negara Israel...

Merebut (Kembali) Masjid

"Dulu ke masjid kita kehilangan sandal, sekarang kita kehilangan mimbar" KH Hasyim Muzadi Kata-kata dari Kiai Hasyim ini disampaikan oleh Profesor Azyumardi dalam pelatihan mubalig...

Pentingkah Sertifikasi Bagi Pendamping Desa?

Pemerintah menetapkan kebijakan pendampingan sebagaimana tercantum pada Pasal 2 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Tahun 2015, yang bertujuan: Meningkatkan kapasitas, efektivitas,...

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...
Widdy Apriandi
Pegiat Kopi Tanah Air Sekaligus Founder Kedai Kopi "Bandit" - Purwakarta

Kopi Jum’at Semangat

Oleh : Widdy Apriandi

(Penulis adalah Pegiat Kopi Tanah Air Sekaligus Founder Kedai Kopi “Bandit” – Purwakarta)

Eits, ngopi dulu kita! Biar ngga ngantuk dan riang gembira. Ini serius, lho. Kopi mengandung senyawa kimia bernama “kafein”. Senyawa ini berfaedah dalam meningkatkan kerja jantung. Efeknya, bukan hanya kantuk jadi hilang, tapi juga perasaan berubah senang.

Manfaat kopi yang luar biasa ini mestinya ‘ditularkan’ kemana-mana. Terserah, apakah kepada pribadi (-pribadi) atau barangkali instansi. Siapa tahu…meski terkesan ‘remeh’, kopi bisa menjadi solusi dan berdampak luas.

Ambil kata, kopi berdaya-guna meningkatkan produktifitas kerja. Tentu ini berarti besar. Tidak hanya untuk pribadi, tapi organisasi. Sebut “organisasi” itu perusahaan, maka aspek operasional bisnis akan makin top–yang berarti potensi profit tambah joss. Begitu juga dengan instansi pemerintah, tambah produktif berarti pelayanan makin mantap. Publik dijamin makin jatuh hati.

JUM’AT SEMANGAT

Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi, lagi getol memaknai hari. Belakangan, yang lagi happening adalah kemis welas asih. Berkasih-kasihan di hari kamis. Keren, sih, kalau kata saya mah. Bandingkan dengan budaya orang barat sono yang butuh seremoni setahun sekali demi mengekspresikan kasih sayang. Kasihan. Cuma sekali setahun. Lalu, bagaimana dengan lebih kurang 364 hari sisanya? Apakah berlalu tanpa sayang-sayangan?

Boleh dong kalau saya terinspirasi. Maka, yang kemudian muncul di benak saya adalah (1) hari, (2) ngopi, dan (3) narasi. Lebih konkrit, hari apa yang sedap untuk ngopi, sehingga kopi itu sendiri punya nilai lebih? “Nilai lebih” bukan semata secara ekonomis, melainkan juga filosofis.

Demi mendapatkan konsep yang lebih mantap, saya ngobrol dengan beberapa orang. Salah satunya ; Kang Purwanto yang kini diserahi amanah sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta.

Dari beliau saya mendapatkan arah untuk lanskap gagasan saya. Menurutnya, Pegawai Negeri Sipil (PNS) seringkali dipandang ‘nyinyir’. “Kami ini sering dipandang ngga produktif,” katanya ‘curhat’.

Padahal, menurutnya, ngga semua PNS bertipikal begitu. Banyak juga yang berkinerja baik dan malah berprestasi. “Tapi, publik terlanjur menggeneralisir. Akhirnya, yang berpretasi juga kena getahnya,” imbuhnya.

Namun begitu, Ia tetap menerima persepsi publik itu dengan lapang dada. Sebab, di satu sisi, hal demikian justru menguatkan motivasi dirinya untuk melakukan perbaikan, lebih khusus di instansi yang dipimpinnya.

NGOPI ADALAH SINDIRAN HALUS

Salah satu ‘trik’ yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kinerja PNS yang menurutnya tidak produktif adalah ‘sindiran’ halus. “Siapa tahu mereka kurang ngopi?!” cetusnya. Pertanyaan sekaligus pernyataan yang sukses memantik finishing ide abstrak di benak saya.

“Bisa jadi, kang. Jadi, gimana kalau kita bikin kegiatan yang fungsinya begitu? Namanya “Jum’at semangat”, kang. Konsepnya ngider keliling dinas sambil buka stand kopi,” cerocos saya panik gegara ‘tonjokan’ perspektif beliau.

Ia mengangguk. Tanda setuju.

Waktu tak terasa bergulir cepat. Keseruan kami ngobrol akhirnya dipungkas beliau dengan cerita dibalik kopi cap kupu-kupu yang sangat digemarinya. “Saya dapat kopi ini dari teman yang habis main ke daerah baduy. Kopinya enak banget. Bikin badan segar dan tambah bersemangat,” jelasnya.

Tak puas sampai di situ, Ia buru-buru menambahkan penjelasannya. “Makanya ada lagu reggae yang liriknya /kopi hitam kupu-kupu/kopi hitam semangatku,” tambahnya. Lagu itu merujuk ke kopi cap kupu-kupu yang dimaksud beliau.

Hmmm…menarik. Tapi, untungnya Kang Pur cuma melapalkan lirik. Karena kalau nyanyi bakal lumayan geli, sih. *eeh*

Widdy Apriandi
Pegiat Kopi Tanah Air Sekaligus Founder Kedai Kopi "Bandit" - Purwakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.