OUR NETWORK

Konser Simpul, Kaya Makna yang Tak Gampang Dicerna

Ide yang cemerlang dengan eksekusi yang baik ini membuat para penonton setia tidak berkurang dan tetap berebut mendapat kursi penonton

Kalau pernah mendatangi sebuah konser musik maka hal pertama yang menjadi incaran penonton kebanyakan tentulah kursi yang paling depan atau paling tidak bisa berdiri di barisan depan agar kita bisa melihat dengan jelas para musisi memainkan alat musiknya di atas panggung,syukur – syukur kalau bisa di ajak nyanyi di atas panggung sama penyanyinya.

Setiap bulan Jakarta City Philharmonic konsisten dengan terus mengadakan orkestra musik nya dan sekarang adalah pertunjukannya yang ketiga belas  pada awal bulan Juni ini,setiap pertunjukannya memilki tema–tema yang di ramu begitu serius sehingga membuat penonton berdecak kagum dan sebagian tertidur karena menikmati atau tidak paham.

Ide yang cemerlang dengan eksekusi yang baik ini membuat para penonton setia tidak berkurang dan tetap berebut mendapat kursi penonton, meskipun pada konser yang sekarang harus merogoh kocek lima puluh ribu rupiah, dibandingkan dengan konser sebelumnya yang gratis dan hanya perlu reservasi melaui email.

Berbeda dengan pertunjukan sebelumnya, pada pertunjukan kali ini Jakarta City Philharmonic mengajak para penonton yang bisa memainkan biola untuk membawa biolanya dan memainkan bersama–sama saat konser berlangsung. Ini menjadi acara konser yang atraktif  karena kita bisa mendengar suara gesekan biola di tengah – tengah penonton dan membuat suasana penonton  menjadi seperti berada di tengah – tengah para pemain musik yang berada di panggung.

Sebelum dimulai acara dibuka dengan penjelasan tentang tema simpul yang diangkat pada konser ini, Tema Simpul adalah respon kepada masyarakat yang memerlukan simpul yang lebih erat antara yang satu dengan yang lain dan simpul ini bisa menyatukan beberapa macam perbedaan dengan karya yang  meresponi kondisi sekarang ini.

Akan ada delapan karya yang akan dimainkan oleh Jakarta City Philharmonic pada konser ini, Delapan karya tersebut semuanya akan dimainkan dengan alat musik gesek yang sangat dekat dengan tema simpul tadi, karena awalnya simpul adalah lambang dari keterikatan dan dawai tanpa simpul maka tidak ada energinya sehingga agar menghasilkan energi maka dawai harus di buat simpul, maka simpul lebih penting dari dawai.

Pada bagian awal Konser ini kita disuguhkan lagu – lagu yang mendayu serta mengajak penonton untuk sedikit merenung dari setiap gesekan biola dan Cello tentang tema simpul yang di ceritakan di awal acara.Kemudian pada pertengahan acara saat karya Canon in D major dari Johann pachelbel dimainkan beberapa penonton juga berpartisipasi untuk ikut bermain biola dan ini kita bisa merasakan bagaimana keterikatan antara pemain dan penonton menjadi selaras sesuai dengan tema simpul yang dimaksudkan pada bagian acara.

Sedari dulu yang kita ketahui, musik juga dijadikan alat untuk mengkritik, memuji, berduka , menyembah dan lain sebagainya, sesuai dengan kelompok atau orang yang menggunakan musik tersebut.

Konser ini bisa menyampaikan pesan bukan dengan kalimat–kalimat puitis yang pedas di media sosial atau musik dengan penuh dengan lirik–lirik yang menyinyir satu golongan tertentu , tapi dengan instrumen–instrumen gesek yang mengajak masyarakat untuk  membuat simpul keberagaman  sesuai dengan tema yang dijelaskan tadi.

Menyampaikan pesan dengan alat musik gesek memang bukan hal yang biasa kita dengar apalagi di tengah masyarakat yang sudah terbiasa dengan pesan yang kebanyakan ditulis atau diceritakan dan jarang sekali digambarkan lewat simbol atau lambang.

Kalau pun ada simbol atau lambang, seringkali yang terjadi banyak salah menafsirkannya karena dalam urusan  tafsir menafsir kita cenderung untuk menafsir sesuai dengan apa yang menjadi kemauan kelompok kita atau kemauan kita sendiri.

Repot memang dalam urusan ini kalau tidak salah tafsir ya memang pesannya tidak pernah sampai, apalagi Sebuah pesan bisa  juga dijadikan seolah–olah ‘kultus’ saat dibuat  ada tafsiran–tafsiran di dalamnya entah orang yang menerimanya mengerti atau tidak itu bisa jadi urusan kedua.

Bukan bermaksud untuk menyinyir ya. Sama seperti angka 212 itu pun sekarang sudah di tafsir menjadi milik beberapa orang tertentu dan bukan lagi satu – satunya milik super hero Wiro sableng, ini memang tidak ada salahnya tetapi ini akibat beberapa masyarakat kita kebanyakan menafsir sendiri–sendiri. Ini bisa menjadi satu pelajaran kita supaya  mau mengerti maksud dan tujuan simbol atau lambang yang ada sehingga tidak menjadi salah kaprah .

Seandainya kita nonton konser simpul tadi dan tidak ada penjelasan di awal dan tidak ada buku panduan maka yang terjadi adalah salah tafsir tentang konser tersebut, dan sangat mubazir sekali bila konser yang memilki respon yang baik kepada masyarakat itu di salah tafsirkan karena panitia acaranya malas menjelaskan atau penonton yang malas mendengar.

Kadang meskipun sudah mendengar penjelasan dan membaca buku acara yang di bagikan tetap tidak menjadi jaminan penonton untuk paham. Apalagi kalau tidak adanya penjelasan semacam itu bisa jadi para penonton jadinya cuman menebak–nebak karya siapa saja yang dimainkan di konser tersebut dari awal sampai akhir atau berakhir dengan para penontonnya yang terbengong–bengong dari awal sampai akhir.

Karya Simpul ini menjadi alternatif  kalau pesan bisa juga disampaikan melalui instrumen musik dan tidak selalu melalui tulisan, audio atau video dan pesan tidak harus dilakukan dengan berdemo tapi dengan harmoni yang baik dan sedap di dengar kalaupun tidak mengerti itu bukan salah pesanya tapi paling tidak bisa menikmati musik nya.

Sampai jumpa dipertunjukan berikutnya…

desainer lepasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…