OUR NETWORK

Konsepsi Feminisme dalam Tayangan Hollywood

Kemunculan Captain Marvel dalam tayangan bioskop merupakan langkah besar untuk menyebarkan paham feminis.

Gerakan feminisme sedang gencar-gencarnya dicanangkan. Berawal sejak tahun 1960-an, beragam aksi telah dilakukan untuk menuntut kesetaraan gender, khususnya bagi kaum perempuan. Dukungan terhadap feminisme pun diwujudkan melalui berbagai medium, mulai dari buku, program televisi, karya seni, dan film.

Sebagai karya yang bisa menjangkau masyarakat dari segala lapisan usia, industri perfilman mulai secara besar-besaran memproduksi film bertema feminis. Belum lama ini, Marvel Studios baru saja merilis trailer film Captain Marvel lewat kanal Youtube resminya. Tidak seperti sebutan ‘captain’ atau ‘kapten’ yang selalu identik dengan pemimpin laki-laki, pemeran utama Captain Marvel justru seorang perempuan.

Penggemar serial kartun Marvel tentu tidak terkejut dengan hal ini. Sebelumnya, Marvel memang sempat mempublikasikan serial kartun tentang Captain Marvel, yaitu seorang perempuan bernama Carol Danvers yang memiliki kemampuan super dan menjadikannya seorang pahlawan. Namun, bagi sebagian penonton awam yang tidak pernah benar-benar mengikuti perkembangan serial Marvel, sosok perempuan sebagai pemeran utama dalam trailer Captain Marvel bisa saja menimbulkan keheranan.

Kemunculan Captain Marvel dalam tayangan bioskop merupakan langkah besar untuk menyebarkan paham feminis. Pasalnya, film pahlawan super selalu disukai anak-anak dan menarik minat masyarakat internasional. Hal ini terbukti dari tingginya angka penjualan yang diperoleh pada minggu pertama penayangan film pahlawan super, seperti The Dark Knight dengan Rp 14,46 triliun dan Avengers: Infinity War dengan Rp 13,5 triliun. Dengan pasar sebesar ini, bukan tidak mungkin Marvel Studios sedang mencoba untuk turut menabur benih feminisme ke masyarakat luas.

Penggambaran Paham Feminisme yang Keliru

Selain Captain Marvel, ada juga film-film feminis lainnya yang sengaja dibuat untuk menjunjung kesetaraan gender. Salah satunya adalah Ocean’s 8, sebuah spin-off dari Ocean’s Trilogy yang sempat populer pada tahun 2001 hingga 2007 lalu. Film ini dibintangi oleh delapan aktris populer, seperti Sandra Bullock dan Anne Hathaway, dan berpusat pada kisah delapan perempuan dalam usaha untuk melakukan sebuah pencurian besar.

Pemilihan karakter dan alur cerita Ocean’s 8 sangat menunjukan keinginan sutradara untuk menjadikan film ini sebagai film yang feminis. Delapan karakter perempuan dalam film ini sangat ditonjolkan, mulai dari bagaimana cara mereka berpikir hingga apa yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah. Meski begitu, tidak seluruh aspek feminis dalam film ini benar-benar menggambarkan makna kesetaraan gender.

Pada beberapa adegan, terlihat bahwa karakter perempuan dalam film melakukan tindakan yang merendahkan karakter laki-laki. Seperti di salah satu adegan ketika tokoh Daphne Kluger hendak mencuri informasi dari tokoh Claude Becker, Daphne terlebih dahulu melakukan hubungan seks dengan mengikat Claude di  atas ranjang dan memposisikan dirinya di atas Claude. Tindakan seperti ini menunjukkan dominasi perempuan dan menyiratkan kelemahan laki-laki ketika berada di bawah pengaruh perempuan.

Ada juga adegan ketika tokoh utama Debbie Ocean secara sengaja mendatangi Claude, pria tersebut tampak ketakutan dan ingin menghindari Debbie. Sosok Claude pada  saat itu digambarkan sebagai karakter pria yang takut pada Debbie yang adalah perempuan. Lagi-lagi, adegan ini menunjukkan sosok perempuan yang lebih dominan dan ditakuti oleh kaum pria.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), feminisme adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Persamaan hak yang dimaksud di sini adalah kesetaraan, yang berarti seimbang atau sejajar tingkatnya. Apa yang dikisahkan dalam Ocean’s 8 tidak sejalan dengan paham kesetaraan itu. Feminisme yang seharusnya adalah persamaan kaum perempuan dan laki-laki, bukan tingkatan perempuan yang secara sosial berada di atas laki-laki.

Film lain yang menyiratkan paham feminisme adalah Lady Bird. Secara alur dan penokohan, film ini mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan dari publik. Penggambarannya tentang karakter perempuan yang kuat dan dominan sangat menunjukkan feminisme. Hal itu pun semakin ditonjolkan dengan karakter laki-laki yang sangat kontras dalam film tersebut.

Tidak seperti Lady Bird dan Marion, ibunya, yang dominan dan lebih banyak mengambil tindakan, tokoh pria seperti Danny, Kyle, dan Larry – ayah Lady Bird – justru memiliki karakteristik lemah dan tidak berdaya. Danny diceritakan sebagai remaja pria yang gelisah karena dirinya adalah seorang gay dan Larry adalah seorang ayah yang depresi. Di antara mereka, Lady Bird dan Marion justru memiliki watak keras dan mendominasi. Penokohan seperti ini secara tidak langsung mematahkan stereotip gender tapi juga sekaligus memberi kesan feminis yang dibuat-buat.

Kesetaraan dalam film Lady Bird masih belum terlihat. Dalam lingkungan sosial Lady Bird dan Marion, keduanya jelas-jelas terlihat lebih menonjol dan melakukan segala sesuatunya sesuai apa yang mereka anggap benar. Para pria dalam film ini seolah-olah membiarkan perempuan yang memegang kendali sementara mereka diam tanpa melakukan apa-apa. Secara tidak langsung, tersirat bahwa pria yang tidak turut berperan dalam pengambilan keputusan perempuan adalah hal yang normal. Padahal, perilaku seperti itu jauh dari konsep setara.

Upaya penyebaran paham feminisme melalui film memang efektif. Namun, tayangan yang tidak memuat adegan feminis dengan benar akan menimbulkan kesalahan persepsi terhadap makna feminisme itu sendiri.

Dalam film Wonder Woman, tokoh pria Steve Trevor memiliki andil yang cukup penting. Ialah yang membantu Wonder Woman atau Diana dalam beradaptasi dan melakukan pencapaiannya. Sosoknya berperan besar dalam kelangsungan cerita namun tetap tidak mematikan citra kuat Wonder Woman. Seperti inilah seharusnya paham feminisme digambarkan, sosok pria dan wanita saling melengkapi satu sama lain.

Kembali ke Captain Marvel, film ini telah diprediksi akan menjadi salah satu film terlaris di tahun 2019 mendatang. Masyarakat dunia dari berbagai usia akan menaruh perhatian besar pada film ini. Melalui pemilihan perempuan sebagai tokoh utama, tentunya Marvel Studios menjunjung feminisme dan sedang mencoba menyebarluaskannya. Sebagai studio film ternama yang diakui publik, akan lebih baik bila feminisme dalam Captain Marvel nantinya tidak disalahartikan.

Perlawanan terhadap feminisme umumnya berasal dari kaum laki-laki yang tidak ingin dikuasai oleh perempuan. Makna yang salah ini harus diperbaiki dengan menekankan konsep setara, yaitu persamaan hak dan sejajar. Captain Marvel sebagai tontonan segala usia perlu meluruskan hal ini. Jangan sampai konsepsi yang salah tentang feminisme terus dibiarkan dan semakin memicu pertentangan.

(sumber foto : nquotient.com)

Mahasiswa S1 jurusan Jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara. Pecinta seni, sastra, film, dan isu-isu sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…