OUR NETWORK

Kongres PMKRI dan Arah Baru Gerakan

Dalam rangka inilah kongres PMKRI harus betul-betul melihat, mengkritisi dan menawarkan gagasan baru untuk memperkuat basis perhimpunan dan menjaga eksistensi sebagai organisasi pergerakan.

Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI) tahun ini melaksanakan kongres ke-XXXI dan MPA ke-XXX di Ambon. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap dua tahun sekali memberikan warna baru bagi kemajuan dan eksistensi perhimpunan.

Sebagai organisasi yang berlandaskan 3 benang merah (Fraternitas, Kristianitas dan Intelektualitas) dan 6 identitas kader (Sensus Chatolicus, Semangat man for others, Sensus Hominis, Pribadi yang menjadi teladan, Universalitas dan Magis Semper). Harus hadir ketengah masyarakat dalam rangka memperjuangkan kebebasan dan mewujudkan keadilan ditengah merebaknya masalah sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum dan ekologi.

Kongres PMKRI lebih jauh dipahami dalam rangka mempersiapkan kader dan arah baru perhimpunan. Dengan berlandaskan pada visi, terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan dan diperkuat dengan misi, berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai kekatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.

Dalam rangka inilah kongres PMKRI harus betul-betul melihat, mengkritisi dan menawarkan gagasan baru untuk memperkuat basis perhimpunan dan menjaga eksistensi sebagai organisasi pergerakan.

Tulisan ini hendak mendedahkan komitmen dan optimisme kader bagi kemajuan perhimpunan. Sebagai salah satu kader PMKRI, saya menginginkan agar kongres PMKRI tahun ini tidak sekedar serimonial tanpa menghasilkan suatu nilai tawar bagi perkembangan perhimpunan dan kualitas kader.

Kongres PMKRI harus dibaca sebagai momentum yang tepat dalam kerangka untuk melihat eksistensi perhimpunan didalam kehidupan sosial masyarakat. Pergerakan tersebut tidak hanya mendaraskan pada bentuk kegiatan formal (Mabim dan LKK) tetapi harus lebih diintensifkan pada pergerakan bagi misi kemanusiaan.

Melihat pergerakan PMKRI selama ini yang belum begitu jauh menyasar dengan utuh dan massif bagi kaum tertindas, kongres tahun ini harus mencermati langkah dan eksistensi pergerakan bagi kemanusiaan. PMKRI ditengah momentum kongres mesti menyadari eksistensi dan membentuk arah baru sebagai pijakan kuat yang dapat memaksimalkan eksistensi pergerakan.

Pergerakan tidak hanya dalam rangka regenerasi kader, melainkan harus dipahami lebih luas bahwa PMKRI hadir sebagai jembatan bagi kebebasan masyarakat tertindas. Selama ini jika kita membaca dengan teliti, sebetulnya pergerakan PMKRI masih dalam rangka memperluas basis kader.

Sementara tuntutan yang paling pokok dan mendasar bagi PMKRI ialah harus mampu menengahi setiap persoalan yang muncul didalam masyarakat. Sehingga pergerakan ini tidak dibaca dalam konteks momentum, tetapi PMKRI betul-betul hadir karena panggilan bagi misi kemanusiaan.

Saya teringat dengan satu kalimat dari Pater Beek, SJ (1917-1983) ‘menjadi kader berarti menjadi sesuatu yang lain dari yang lain; keranjingan dalam menjalankan apa yang dipikirkan dalam batas-batas yang ditentukan moral dan etika.

Dalam hal ini jika kita (kader PMKRI) menyerap dengan seksama kalimat dari Pater Beek, sebetulnya pesan yang termaktub didalamnya mengandung moral dan etika sebagai nilai mendasar dalam menjalankan aktivitas sebagai kader PMKRI.

Di sinilah menurut saya kongres di Ambon harus melahirkan warna baru yang dapat memperkokoh eksistensi PMKRI. Tidak berhenti hanya dalam ritme seperti itu, justru kongres tersebut harus bisa membaca arah baru perhimpunan bagi kemajuan.

Sinergitas Kader

Kader PMKRI harus menyadari bahwa membangun sinergi diantara kader merupakan hal pokok yang dapat memperkuat pergerakan diskala nasional, regional dan lokal. Pergerakan ini mesti dilihat dari kacamata yang lebih spesifik, yaitu bagaimana seharusnya 3 benang merah tersebut menjadi ciri khas kader dalam perhimpunan PMKRI. Kongres yang sementara dilaksanakan harus memikirkan masa depan dan arah baru PMKRI.

Saya pikir delegator dari setiap cabang yang ikPMKRut dalam kongres dan MPA PMKRI di Ambon harus punya gagasan besar dalam memajukan eksistensi PMKRI.

Landasan nilai PMKRI telah termaktub dan merupakan pijakan bagi terwujudnya pergerakan PMKRI yang betul-betul hadir dalam menjawab tantangan global. Ditengah suburnya ekonomi kapitalis dan kerusakan ekologi yang begitu massif, PMKRI dipanggil untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Disini panggilan terhadap kemanusiaan menjadi nilai penting yang melekat dan berurat-berakar dalam diri kader. Untuk itu, antara pusat dan cabang mesti membangun sinergi agar lebih memantapkan langkah PMKRI sebagai organisasi pergerakan dan memacu adrenali kader.

Ada banyak persoalan yang harus ditangani PMKRI kedepan. Menjadi kader berarti harus memiliki rasa kemanusiaan yang dibangun atas dasar persamaan nasib terhadap masyarakat tertindas. Kemanusiaan merupakan nilai penting yang terus didengungkan dari setiap kader agar kemanusiaan tersebut dapat benar-benar memberikan kebebasan seturut hak hidup bagi manusia.

Kongres dan MPA harus hadir untuk menjawab setiap persoalan bangsa dan dipanggil untuk menyelesaikannya. Gagasan yang lahir dari kegiatan tersebut menjadi penentu eksistensi dan arah baru PMKRI untuk masa mendatang. Selamat Kongres dan MPA. Pro Ecclesia Et Patria

Mahasiswa dan Kader PMKRI Cabang Malang - Komisariat Merdeka

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…