Kamis, Maret 4, 2021

Kongkow Imajiner dengan Tommy Soeharto, Dukung Jokowi atau Prabowo?

Buta Pikir ‘Made Supriatma’ Soal Katolik dan Anjing Itu

Biasanya, ketika bangun pagi, saya selalu mendahulukan membasuh muka, merapikan kamar tidur, minum air putih, dan baca koran. Sambil mencari-cari makanan ringan -kalau ada-...

Lembaga Survei Capres-Cawapres di Mata Pedagang Mie Rebus

Angka-angka elektabilitas hasil kesimpulan sementara yang dirilis sejumlah lembaga survei, seringkali dimaknai berbeda oleh elit politik pengusung capres-cawapres. Padahal, hasil survei bukanlah satu-satunya alat...

Keadilan Bagi Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur

 (Foto: KOMPAS.com/Muhamad Syahri Romdhon) Sengketa tanah adat di Tanah Air kembali menyembul ke permukaan. Kali ini, sengketa tersebut menimpa Masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Usai melakukan wawancara dengan Najwa Shihab yang ditayangkan dalam channel YouTube Najwa, putra sulung mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto atau Hutomo Mandala Putra mengundang saya untuk kongkow santai imajiner di sebuah kafe kecil, kawasan kota Tua, Jakarta Kota usai sholat Jum’at lalu. Berikut isi perbincangan singkat itu.

“Mas Tommy, diantara dua nama capres yang banyak beredar yaitu Jokowi dan Prabowo, mana yang Anda dukung?” Tanya saya langsung tanpa basa-basi.

“Sampai hari ini saya belum menentukan pilihan siapa yang akan saya dukung. Saya juga ingin mendengar aspirasi dari kader-kader partai Berkarya. Artinya keputusan politik parpol Berkarya muncul bukan hanya karena suara saya pribadi, tetapi juga suara partai,” jawabnya.

“Anda dukung mantan ipar Anda, Prabowo?” Sambung saya.

“Selama capres itu berpikir soal kepentingan rakyat dan membuat sejuk politik nasional kenapa tidak! Siapapun capresnya, entah itu orang lain ataupun mantan ipar, saya dukung kok. Ini suara pribadi lho yaaa…bukan suara partai Berkarya,” tandasnya tenang.

“Kalau Jokowi menurut Anda, gimana?”Lanjut saya.

“Hal yang sama juga ingin saya katakan, baik untuk Jokowi, Prabowo dan semua calon-calon lain yang sudah banyak beredar di publik, semua capres itu merupakan bentuk refresentasi rakyat. Suara saya bukan suara rakyat. Politik adalah aspirasi dan suara rakyat. Setiap orang punya penilaian pribadi terhadap sosok capres. Perbedaan rakyat dalam menilai sosok capres merupakan hal yang wajar dalam alam demokrasi,” ucapnya nyantai. 

“Kenapa dan apa alasannya Anda bikin parpol Berkarya?” Tanya saya.

“Khan… setiap hak politik rakyat di jamin UU, termasuk membuat parpol. Selama parpol itu visi dan misinya untuk kepentingan rakyat serta berazaskan Pancasila dan UUD 45, maka tidak ada salahnya saya bikin parpol, sama seperti yang lainnya,” sergahnya.

“Masyarakat mungkin saja mengaitkan parpol Anda dengan kebangkitan era Orde Baru di zaman Ayah Anda, menurut Anda?” Tanya saya lagi.

“Buat saya, itu juga hak rakyat untuk menilai. Rakyat boleh suka atau tidak suka. Tidak ada masalah dengan saya maupun dengan parpol Berkarya. Kepentingan saya membuat parpol ialah salah satunya sama dengan parpol-parpol lama atau parpol yang baru lainnnya yaitu untuk menampung aspirasi sosial.

“Anda berminat dan berniat jadi presiden?” Tanya saya langsung.

“Waduh…pertanyaan Anda bikin saya sesak nafas juga yaaa…(Tommy tersenyum). Saya yakin dan percaya rakyat pasti punya calon presiden terbaik untuk negeri ini. Saya akan dukung pilihan terbaik rakyat, siapapun presidennya….. asalkan dalam proses pemilihannya fair play dan sportif.  Jadi presiden atau tidak, bagi saya bukan sebuah tawaran menarik yang harus diperjuangkan secara ngotot. Buat saya, terlibat dalam dunia politik saja, saya sudah bersyukur kok. Ngak ada urusannya dengan ambisi jadi presiden lho…,”ucapnya tegas.

“Anda yakin tidak berambisi jadi presiden?” Tanya saya berusaha mengorek.

“Jadi Presiden itu bukan ambisi dan tujuan saya. Kalau ada orang-orang  menyebut saya ingin jadi presiden ya…boleh-boleh saja. Itu bukan keluar dari mulut saya. Itu khan hak mereka. Saya tidak bisa melarang publik. Itu semua berpulang kembali kepada saya pribadi karena saya memiliki tujuan ketika membuat parpol berkarya,” tegasnya.

“Jadi Anda dukung Jokowi atau Prabowo?” Saya ulang pertanyaan awal.

“Bagi saya masih terlalu instan untuk menyebut dukung-mendukung capres. Toh… pada saatnya saya dan parpol berkarya pasti akan menentukan sikap politik terhadap capres pilihan rakyat,” tutup Tommy. 

Kongkow santai imajiner saya dengan Tommy Soeharto selesai. Tommy yang akhir-akhir ini acapkali mengkritik kebijakan Presiden Jokowi, ternyata memiliki pandangan politik tersendiri dalam menilai situasi politik yang memanas menjelang pilpres 2019 mendatang. Terima kasih mas Tommy.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.