OUR NETWORK

Komunikasi Verbal dalam Penyadaran Kebersihan

Fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan.

Ikhwal manusia selalu dituntut akan kepeduliannya menjaga lingkungan itu tampaknya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan, penyadaran serta edukasi terhadap habit masyarakat yang dewasa kini seperti menafikan peran sampah dalam kerusakan lingkungan jika tidak tepat dalam penanganannya.

Hal itu dikarenakan setiap tahunnya, masing-masing kota di seluruh dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah itu akan bertambah hingga 2,2 miliar ton.

Selaras dengan fakta tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat hadir dalam acara puncak peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) dan Hari Kota Dunia di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (31/10/2019) mengingatkan potensi masalah besar apabila sampah di Indonesia jika tidak ditangangi dengan baik.

Melansir Antaranews.com, Menteri Basuki mengingatkan, pengelolaan sampah yang ramah lingkungan menjadi isu dunia. Ini ditandai dengan diangkatnya Frontier Technologies as an Innovative Tool to Transform Waste to Wealth sebagai tema Hari Habitat Dunia 2019.

HHD ditetapkan oleh PBB diperingati setiap tahun pada setiap Senin pertama bulan Oktober. Selain itu pada setiap 31 Oktober diperingati sebagai Hari Kota Dunia (HKD) dimana tahun ini mengangkat tema Changing the World: Innovations and Better Life for Future Generations.

Fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di www.sciencemag.org menyebutkan, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Sementara menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem.

Hemat penulis, permasalahan sampah di Indonesia khususnya di Malang kota dengan jutaan pendatang tidak bisa dianggap enteng. Sampah meski sudah diolah tetap bisa menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi tersebut memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi.

Memang tidak dipungkiri tidak sedikit kondisi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di Indonesia kondisinya Overload. Hal itu mengejawantahkan betapa pentingnya pengadaan lahan untuk tempat pembuangan sampah guna menampung sampah rumah tangga agar insiden serupa di Cimahi tak terulang kembali.

Tidak hanya TPSA yang perlu menjadi perhatian, fungsi  penyadaran terhadap masyarakat guna menghilangkan habit masyarakat yang masih memiliki paradigma bahwa sungai merupakan tempat sampah terpanjang juga harus dilakukan upaya edukasi.

Aspek Budaya dan Sosiologi

Pada dasarnya masalah sampah tidak hanya sekedar hanya bagaimana mengolah atau mengelola sampah saja, tetapi juga terkait dengan masalah budaya ataupun aspek sosiologi masyarakat. Masyarakat Indonesia pada umumnya khususnya di Malang tempat penulis menempuh pendidikan tidak jarang memiliki kadar kepekaan rendah terhadap permasalahan tentang sampah ini

Paradigma yang salah itu mungkin merupakan salah satu penyebab kenapa banyak program tentang sampah yang tidak berhasil. Merubah paradigma masyarakat tentang sampah menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya penanganan sampah secara terpadu.

Padahal upaya dan cara terus digiatkan oleh seluruh stakeholder di Malang dengan terstruktur, sistematis, dan masif. Sebut saja penggunaan komunikasi verbal dengan meletakan tulisan larangan membuang sampah di lokasi strategis dekat aliran sungai di Malang.

Idealnya tulisan itu dapat berimplikasi bagi masyarakat baik mereka yang melek literasi maupun yang tidak. Hal tersebut dikarenakan untuk memahami bentuk tulisan itu, tidak dibutuhkan kualitas atau kemampuan yang mencakup melek visual, artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual baik dalam bentuk adegan, video, gambar maupun teks.

Dalam benak penulis sempat timbul pertanyaan, mengapa bentuk larangan, Perda, atau segala macam himbauan seperti tidak pernah dihiraukan oleh masyarakat. Padahal hal itu merupakan ikhwal yang sangat mendasar bagi terjaganya ekosistem lingkungan di wilayah Malang.

Pada dasarnya mencari jawaban yang benar dari pertanyaan itu sama pentingnya dengan masalah sampah itu sendiri. Agar mendapat hasil yang mendalam dan komprehensif  perlu dilaksanakan sebuah survei tentang perilaku masyarakat berkaitan dengan aktivitas sampah.

Akar Masalah Sampah

Meski belum ada kebenaran tentang akar permasalahan sampah di Indonesia. Tetapi sepanjang pengalaman penulis membaca literasi tentang persampahan di dunia, salah satu penyebab adalah paradigma masyarakat yang salah tentang sampah itu sendiri.

Tidak sedikit masyarakat yang menganalogikan sampah adalah barang atupun sesuatu yang sudah tidak ada gunanya sama sekali. Sampah adalah bau. Sampah adalah sumber bersarangnya berbagai macam penyakit serta stigma-stigma negatif lainnya.

Sebenarnya Masyarakat tahu jika membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah sembarangan. Masyarakat tahu kalau membuang sampah di sungai bisa menyebabkan aliran sungai mampet dan bisa menyebabkan banjir, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah ke sungai atau saluran air lainnya.

Masyarakat juga tahu kalau sampah organik bisa diubah menjadi kompos. Namun ironisnya sebagian mereka justru engan memanfaatkannya untuk membuat kompos. Masyarakat juga tahu kalau sampah sebaiknya dipisah agar bisa menambah nilai jual, tetapi mereka justru malas memilah-milahnya sehingga langsung membuang yang mengakibatkan sampah tak memiliki nilai jual.

Pandangan penulis, dibutuhkan sinergitas antara masyarakat dan pemerintah guna melakukan pengelolaan sampah tersebut, karena meski sudah mengeluarkan banyak dana untuk berbagai macam program tentang pengelolaan sampah dari pemerintah. Tanpa ada dukungan masyarakat, maka semuanya itu tidak akan tepat sasaran.

Selain itu pemangku kebijakan juga perlu menyentuh aspek non fisik dari permasalahan sampah itu sendiri. Membangun TPSA, membuat tempat-tempat sampah, mendatangkan teknologi hi-tech dari luar, dan banyak program yang lainnya, merupakan fokus pada program fisik saja. Sisi non-fisiknya belum banyak disentuh, atau pun kalau ada hanya pelengkap saja.

Padahal masalah non-fisik itu tidak kalah penting dibandingkan dengan program-program fisik. Justru hal tersebutlah yang lebih sulit karena membutuhkan waktu lama, kontinuitas, dan dana yang tidak sedikit. Merubah sebuah kebiasaan, budaya, dan paradigma bukan masalah sederhana. Tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, namun bukan berarti tidak bisa diupayakan untuk masyarakat yang lebih baik.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Asal Bumi Blambangan Banyuwangi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…