Kamis, Desember 3, 2020

Kompetisi dan Pendidikan Kita

Melaksanakan Pilpres Melalui MPR, Yakin?

Hiruk pikuk demokrasi di Indonesia begitu meriah, dengan berbagai macam isu dan aspirasi yang disampaikan langsung oleh begitu banyak pihak, serta memiliki cara tersendiri. Beberapa...

Kembali ke Plural: Meninggalkan yang Polar

Yang paling mengerikan dari segala proses dan desas-desus pemilu yang baru berlalu adalah tajamnya polarisasi di tengah-tengah kita. Berbulan-bulan kita telah menelan delirium dari kantong-kantong...

Mengenal Sebuah Kinerja Sistem Produksi Lewat Film “War of The P

Salah satu corak yang dibahas dalam tulisan ini adalah dari film “War of the planet of apes”. Ya film tentang monyet yang dapat berbicara...

Sebuah Kritik untuk PBNU dan Keberatan Gus Mus

Nama Nahdlatul Ulama kembali menjadi pembicaraan. Pro-kontra di mana-mana seiring dipilihnya sang Rais Am. KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden oleh presiden petahana,...
Diyan Nur Rakhmah
Alumni Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Kebijakan Publik, FISIP Universitas Indonesia. Penulis. Abdi Negara

Jiang Kai dalam bukunya “The Origin and Consequences of Excess Competition in Education: A Mainland Chinese Perspective”, mengatakan bahwa pendidikan saat ini identik dengan kompetisi, karena kompetisi merupakan kunci sebuah eksistensi.

Kompetisi bersifat universal, luas dan merambah banyak bidang, termasuk di dalamnya pendidikan. Hampir pada setiap program kerja sekolah diarahkan pada iklim kompetisi dalam beragam kemasaan dan penamaan. Kompetisi menjadi semakin massif terjadi pada pendidikan di level bawah layaknya Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.

Kompetisi dinilai sebagai upaya merangsang siswa dan lingkungan pendidikan untuk menghasilkan tujuan pendidikan yang berkualitas dan berkinerja. Kompetensi dan kinerja seseorang seringkali dilihat dari pencapaian dalam bidang tertentu.

Pemenang dalam sebuah kompetensi, dapat diartikan berkualitas dan memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Padahal, Alfie Kohn dalam bukunya “No Contest : The Case Against Competition (Why We Lose in Our Race To win)” menegaskan bahwa tidak ada korelasi positif antara kemenangan seseorang dalam kompetisi dan kualitas kinerjanya.

Kompetisi sesungguhnya merupakan budaya positif yang bila diarahkan dapat melatih mental dan kepercayaan diri siswa untuk menunjukkan kemampuannya secara optimal di hadapan khalayak. Tetapi dalam perkembangannya, kompetensi bergerak ke arah ekstrim yang dalam dunia pendidikan menurut Kohn mendapat perhatian lebih dibandingkan membangun budaya koordinasi/kerjasama pada level sekolah.

Kompetisi dalam dunia pendidikan yang berkembang pesat dan tidak terkendali, berdampak buruk pada pembangunan mental dan fisik siswa karena sekadar mengarahkan siswa pada target pemenuhan skor dan peringkat semata.

Keberadaan nilai rata-rata kelas, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dan beragam skor yang menjadi indikator pemeringkatan kemampuan siswa layaknya Programme for International Student Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan sejenisnya, misalnya menunjukkan betapa digdayanya skor/nilai akhir sebagai sebuah target pencapaian keluaran sistem bernama pendidikan. Proses pendidikan dalam mencapai nilai-nilai akhir tersebut seperti luput dari perhatian.

Saya sepakat dengan Zulfikri Anas dalam bukunya, “Kurikulum untuk Kehidupan”, bahwa kompetensi dalam pendidikan, sesungguhnya menutup kesempatan siswa yang gagal mendapatkan tempat terbaik dalam proses pembelajaran  untuk memiliki hak dan peran yang sama dalam peningkatan kapasistas diri sebagai pembelajar.

Menciptakan dikotomi antara siswa unggul dan siswa dengan prestasi “apa adanya”, sesungguhnya merupakan upaya pembatasan ruang siswa untuk saling mengisi, menyempurnakan dan merfleksikan kekurangan dan kelebihan diri sebagai pembelajar. Siswa berprestasi kemudian menjadi semakin digdaya pada pencapaiannya dengan dihadiahi fasilitas serta layanan pendidikan yang baik dan berkualitas.

Sedangkan siswa yang berada pada kuadran tidak berprestasi, secara sistemik akan selalu berada di lingkungan yang sama, sekolah biasa dengan fasilitas yang (sangat) apa adanya. Laporan Analytical Capacity Development Partnership (ACDP) tahun 2015 menemukan kenyataan bahwa kriteria yang dilekatkan kepada sekolah memberikan pengaruh pada layanan dan fasilitas pendidikan yang diberikan sekolah kepada siswanya.

“Sekolah Maju” di Indonesia menawarkan kegiatan kelompok belajar sains lebih banyak dibandingkan sekolah-sekolah yang kurang beruntung. Sebanyak 75% siswa di “Sekolah Maju” diberikan kesempatan meningkatkan kemampuannya di bidang Sains, yang di sekolah kurang beruntung, kesempatan tersebut hanya diberikan kepada 29% siswanya.

Saya meyakini bahwa kolaborasi lebih dibutuhkan oleh bangsa ini. Kajian psikologi yang dilakukan Kohn menemukan bahwa anak-anak akan belajar lebih baik ketika berada dalam lingkungan yang kolaboratif dibandingkan kompetitif.

Kolaborasi mengajarkan pentingnya kehadiran orang lain, dan tidak sekadar fokus pada keunggulan yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Budaya kolaborasi penting untuk dibangun di tengah-tengan sifat arogan yang lahir dari dampak negatif sistem kompetisi yang telah terlanjur membudaya.

Pendidikan kita butuh lebih banyak kolaborator yang sanggup hidup berdampingan, menghargai kekurangan dan kelebihan orang lain, mengisi kekosongan dan ketidakseimbangan, serta bekerja bersama dalam mekanisme yang terkoordinasi. Harus diakui bahwa pendidikan kita saat ini terjebak pada dampak sistemik kompetisi, dengan  terlihat dari banyaknya kegiatan kompetisi yang menuntut anak-anak ikut mengambil peran di dalamnya.

Melalui pendidikan kolaboratif, siswa lebih banyak dirangsang untuk aktif dalam kegiatan yang menuntut kemampuan berkoordinasi, bekerja bersama-sama tanpa mendikotomikan pihak satu dan lainnya berdasarkan pada label kompetensinya. Eric Anderman dalam kajiannya tentang “Psychology of Learning” menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pendidikan.

Tulisannya menyatakan bahwa hasil pekerjaan siswa yang dilakukan secara kooperatif cenderung lebih baik dibandingkan pekerjan yang diselesaikan secara individu dalam iklim yang kompetitif. Kompetisi sesungguhnya menyimpan dampak negatif yang hampir sama, baik bagi siswa yang unggul ataupun kalah. Kompetisi memiliki kecenderungan menghilangkan motivasi intrinsik siswa.

Kompetisi akan membatasi motivasi siswa untuk berkembang lebih meningkatkan kemampuannya, karena merasa tujuan yang ingin dicapainya mudah terlaksana. Siswa akan mengandalkan penghargaan dari orang lain untuk memotivasi mereka dalam menyelesaikan tugas, daripada membangun inisiatif mandiri untuk menyelesaikan tugas guna peningkatan kompetensi dan keterampilan diri.

Kompetisi di kelas akan dapat mengalihkan perhatian siswa dari belajar karena membuat siswa menjadi lebih fokus untuk tampil lebih baik daripada teman sebaya sehingga mereka tidak tertuntut untuk belajar lebih giat dan meningkatkan kapasitas diri.

Harus diakui bahwa kadar kompetisi pada pendidikan bangsa kita sudah jauh melampui ambang batas. Kompetisi pada anak-anak layaknya mewarnai, melukis dan sejenisnya akan lebih baik jika diapresiasi dalam bentuk pemeran atau seni pertunjukan, sehingga seluruh siswa akan merasa dihargai dan diperhatikan tanpa merasa diri lebih unggul dari anak lainnya.

Layaknya orang-orang dewasa, anak-anak kita butuh memperkaya portofolio kehidupannya. Bakat dan karya yang dimiliki untuk memperkenalkan diri pada dunia dan teman-teman sebayanyanya, bahwa mereka unik dan berbeda, namun tetap dapat hidup berdampingan, bekerja bersama dan dihargai apa adanya.

Referensi: 

  1. Alfie Kohn. “No Contest : The Case Against Competition (Why We Lose in Our Race To win)”. 1986. New York : Houghton Mifflin Company.
  2. Analytical Capacity Development Partnership. “Kesempatan Mengikuti Kelompok Belajar Sains”. 2015
  3. Eric M. Anderman and Lynley H. Anderman. “Psychology of Classroom Learning: An Encyclopedia”. 2009. Detroit: Macmillan Reference USA.  Page 230-234.
  4. Jiang Kai. “ Origin and Consequences of Excess Competition in Education: A Mainland Chinese Perspective”. Chinese Education and Society, Vol. 45, No. 2, March – April, 2012. Page 8-20.
  5. Zulfikri Anas. “Kurikulum untuk Kehidupan”. 2017. Jakarta : AMP Press

Diyan Nur Rakhmah
Alumni Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Kebijakan Publik, FISIP Universitas Indonesia. Penulis. Abdi Negara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.