Selasa, Maret 2, 2021

Kolaborasi Revolusi Mental dan Revolusi Industri 4.0

Pemilu 2019: Fenomena “Strong Voters” dan Polarisasi

Sudah lebih dari dua pekan masyarakat Indonesia menyalurkan hak konstitusinya dalam pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) serentak legislatif dan pilpres 2019. KPU, BAWASLU, DKPP...

Semangat Sumpah Pemuda, Semangat Berbahasa Indonesia

Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan salah satu penyemangat para pejuang bangsa ini untuk merebut bumi pertiwi. Ikrar Sumpah Pemuda...

Surat Para Millenial untuk Pemerintah

Mengingat bahwa Indonesia telah melewati 20 tahun sejak reformasi berlangsung yang berarti bahwa kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat semakin dijunjung tinggi oleh semua pihak. Begitupula...

Amerika Serikat Mendoktrin Ideologi Colombia

Bangsa Amerika dapat dikatakan sebagai bangsa yang majemuk dan plural karena banyak terdapat bangsa-bangsa pendatang dari negara-negara Eropa serta memiliki berbagai macam aliran kepercayaan...
Kemal Hidayah
Saya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Kalimantan Timur dan membantu mempromosikan simanis dessert

Usia Indonesia pada tahun ini akan memasuki usia yang ke 74 tahun. Namun demikian, semakin banyak persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia diantaranya rendahnya daya saing bangsa, kemiskinan, kesenjangan serta berbagai persoalan lain yang tersebar diberbagai sektor.

Hal tersebut, disebabkan oleh cara memahami dan berpikir yang kurang tepat atau faktor mental yang kurang baik. Kemajuan teknologi dan modernisasi diberbagai bidang telah menggerus sebagian nilai-nilai moral peninggalan nenek moyang.

Saat ini Indonesia sudah memasuki era industri yang dikenal dengan era digitilasisasi di berbagai sektor kehidupan. Para pakar menyebut ini sebagai eranya revolusi industri 4.0. Perubahan dinamika laju pergerakan yang semula tersentralisasi bahwa manusia sebagai subyek vital dalam tumbuh dan berkembangnya denyut nadi perekonomian telah mengalami pergeseran secara perlahan tetapi nantinya bakal tergantikan oleh otomatisasi mekanis dan digitalisasi teknologi dalam menggerakan roda perekonomian.

Perkembangan cepat dari teknologi ini ditandai dengan terciptanya robotic artificial intelegency, super-computer, dan modifikasi genetik saat ini telah menciptakan suasana dunia yang sangat berbeda dari dunia sebelumnya. Konsekuensi logisnya dan harus ditanggung bersama-sama adalah perubahan dan pergeseran jenis tenaga kerja di era sekarang (zaman now) dan mendatang.

Pemandangan pergantian dan pergeseran banyaknya tenaga kerja disektor padat karya mulai digantikan oleh otomatisasi dan digitilasi mesin sudah ada disekitar kita dan masuk ke pelosok-pelosok desa dimana sebagai tempat komunal ketersediaan tenaga kerja.

Dapat dikatakan revolusi indusri ini bagaikan dua mata sisi uang. Satu sisi, mempunyai nilai yang positif untuk produktivitas hasil kerja dan efesiensi proses produksi. Sementara dilain sisi, kompetitifnya dunia kerja yang berujung banyaknya tenaga kerja yang tidak terpakai akan menjadi masalah sosial serius bagi pilar stabilitas politik atau ekonomi sebuah negara.

Menerima perubahaan sebagai keniscayaan hidup harus diikuti dengan mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut dengan cara mengembangkan diri dan meningkatan kompetensi diri melalui sinergisitas revolusi industri 4.0 dengan revolusi mental.

Pada konteks ini revolusi mental merupakan perubahan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat yang menjadi panutan berperilaku serta bagian dari perubahan kebudayaan. Oleh karena itu, perubahan mentalitas masyarakat akan sangat dibutuhkan untuk dapat menjadi bagian dari memajukan bangsa Indonesia ditengah kompetisi global yang semakin kompetitif.

Merubah pola pikir (mindset) dan mentalitas yang kuat bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Karena menyangkut persoalan kebiasaan yang telah menjelma menjadi budaya, maka perlu perubahan secara cepat dan bersifat menyeluruh dilakukannya revolusi mental. Secara subtansi paradigma revolusi mental adalah pandangan baru tentang perubahan besar dalam struktur mental manusia dalam membangun mentalitas yang baik.

Saat ini dunia sedang ramai menghadapi fenomena disrupsi, situasi dimana pergerakan dunia industri atau persaingan dalam dunia kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat dan dinamis, sampai merubah pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi yang lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya sangat luas mulai dari dunia perbankan, bisnis, transportasi, pendidikan, hingga sosial masyarakat.

Era ini akan memberikan dua pilihan berubah atau punah. Fenomena tersebut merupakan suatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri. Basis dari era ini adalah digitalisasi dengan menggunakan analisa data menyeluruh sehingga diperlukan literasi baru selain literasi lama.

Literasi lama yang kita ketahui mencakup kompetensi dengan sistem membaca, menulis dan berhitung, sementara literasi baru mencakup literasi teknologi, literasi data, dan literasi manusia. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hadil maksimal.

Sedangkan, literasi data ini terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berbasis data dan informasi (big data) yang telah diperoleh. Terakhir, literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.

Secara obyektif tidak dapat dipungkiri bahwa revolusi industri terkini menyimpan beragam keuntungan dan tantangan besar yang harus dihadapi bagi setiap entitas diri yang terlibat didalamnya. Berdasarkan informasi dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, sudah lebih 85 juta penduduk Indonesia menggunakan jaringan internet.

Disinilah Indonesia mempunyai peluang dalam e-commerce dan pengembang ekonomi digital. Pada era ini potensi Indonesia lebih besar kepada dunia. Indonesia merupakan empat negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta penduduk yang terdiri dari multikultural dan terbagi pada daerah kepulauan yang terpisah jarak, ruang dan waktu. Jumlah penduduk yang besar ini dan mayoritas penduduknya ada pada rentang usia 15-64 tahun, dimana usia tersbut disebut usia produktif.

Besarnya jumlah penduduk walau dengan struktur proporsi usia produktif juga dapat menjadi ancaman jikalau kualitas penduduknya masih relatif rendah sehingga berdampak pada pasar tenaga kerja di tengah perubahan orientasi memenangkan pasar dan sikap budaya instan.

Indonesia bisa melakukan lompatan jauh dan menjadi pemain dalam revolusi industri jika pembangunan manusia dilakukan melalui revolusi mental. Terdapat kata-kata bijak, pengalaman adalah guru terbaik. Belajar dari pengalaman negara-negara maju dengan memajukan pendidikan karakter bangsa, maka bangsa tersebut akan maju pula dalam ilmu pengetahuannya, budaya dan teknologi.

Kunci keberhasilan memasuki revolusi industri 4.0 adalah melalui revolusi mental demi perbaikan karakter bangsa. Mengutip kata-kata mutiara dari bahasa arab “man jaddah wa jaddah” barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Revolusi industri ini bukan sebuah peristiwa masa yang datang tetapi sebuah masa yang sedang berjalan.

Kemal Hidayah
Saya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Kalimantan Timur dan membantu mempromosikan simanis dessert
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.