Minggu, Desember 6, 2020

Klotekan Tradisi Ramadan yang Layak Dipertahankan

Memecah Kebisuan Korban Kekerasan Seksual

Geoffrey Parrinder, dalam bukunya Teologi Seksual (2004) mengatakan, seks dan agama merupakan dua keprihatinan fundamental manusia. Keduanya sering kali dipertentangkan sebagai yang fisikal melawan...

Jauh dari Keluarga Saat Gema Takbir, Demi Pandemi Cepat Berakhir

Tahun ini Idul Fitri berbeda, karena bersamaan dengan situasi negeri yang sedang dilanda pandemi. Idul fitri adalah suatu hal yang sangat dinantikan oleh banyak...

Minimnya Spektrum Sudut Pandang Karena Pendapat Mayoritas

Apa yang disebut mayoritas? Apakah dominansi kuantitas? Saya rasa tidak. Mayoritas kerap kali disamakan dengan superioritas suatu responden / pihak tertentu terhadap pihak minoritas...

Hari Bumi: Ironi Kenakalan Remaja dan Kejahatan Lingkungan

Dunia maya dihebohkan dengan kasus penganiayaan remaja yang bernama Audrey pada minggu lalu. Tagar #justiceforaudrey menjadi trending dunia. Bukan Indonesia saja, netizen dari luar...

Suatu malam bulan ramadan, saat terlelap dalam tidur tiba-tiba terdengar dentungan irama musik disertai dengan suara-suara manusia dengan nada yang lumayan mengasyikan. Angin malam memaksa masuk dalam tubuhku, dingin menggigil.

Diriku tetap mendengarkan suara manusia dan alunan musik tadi. Ternyata seiring berjalannya detik malam, suara tersebut terdengar detail. Yakni sebuah ajakan untuk bangun dan mengingatkan waktu untuk sahur.

Ya, memang suara alunan musik tersebut tidak hanya terdengar pada satu malam ini saja. Tapi sejak saya kecilpun memang sudah ada. Usiaku yang terus bertambah membuat saya bertanya-tanya akan kebiasaan yang sering dilakukan untuk membangunkan sahur tersebut.

Alih-alih kebiasaan tersebut layaknya sudah menjadi sebuah tradisi Ramadan. Pertanyaan pun muncul dalam benak pikiranku malam itu. Darimana asal mula tradisi itu dilakukan? Atas dasar apa tradisi tersebut bisa terus dipertahankan sampai sekarang ini?

Bermodalkan pengalaman, dan pertanyaan tersebut saya berusaha mencari jawabannya. Dengan kecanggihan teknologi yang ada saya pun berusaha memanfaatkannya. Saya cari di google dengan kata kunci “Asal mula tradisi membangunkan orang sahur dengan alat musik”

Selama kurang lebih lima menit saya berselancar di internet. Dari beberapa sumber pun saya menemukan jawabannya. Namun jawaban yang tak seirama dan tak senada pun kutemukan dari satu halaman website ke website yang lain.

Meskipun begitu saya cukup puas dan bisa menjawab pertanyaan tadi. Terkait asal mula tradisi tersebut, tidak ada yang menyebut secara spesifik asal daerah, kota,  atau negara yang dulu memulainya. Kemudian untuk pertanyaan yang alasan adanya tradisi tersebut, saya temukan jika tradisi membangunkan orang sahur sudah ada sejak pada zaman Nabi.

Pada zaman Nabi Muhammad, kala itu belum ada pengeras suara atau alat yang digunakan untuk membangunkan orang sahur.   Lantas Nabi Muhammad menunjuk Bilal bin Rabah untuk melakukan adzan. Namun adzan tersebut bukan untuk memperingati telah masuknya waktu adzan tetapi telah datang waktunya untuk sahur.

Nah dari temuan sejarah tersebut, membuat saya sedikit-sedikit bisa menerka-nerka. Sikap kreatif yang diajarkan Nabi Muhammad, mungkin di ikuti pula oleh umatnya. Sehingga munculla tradisi membangunkan orang sahur dengan berbagai macam alat musik. Soalnya ketika saya cari di internet, nama yang digunakan pun berbeda-beda meskipun substansinya sama. Yakni menggunakan alat musik sederhana, nyanyian himbauan untuk mengabarkan telah datangnya waktu sahur.

Ada yang bernama “Klotekan” “Tok tek” “Dog deran” dan lain sebagainya. Kemungkinan besar penamaan tersebut di latarbelakangi oleh sebuah suara musik tersebut dan logat (cara bicara) bahasa masing-masing daerah itu sendiri.

Alat yang sederhana

Meskipun dalam perjalanannya alat-alat musik modern terus berkembang dan semakin canggih, namun  alat yang digunakan oleh sekumpulan anak muda untuk membangunkan orang sahur, masih sangat sederhana layaknya dulu saya waktu kecil. Alat yang digunakan yakni tong-tongan biasanya saya menyebut, alat musik yang terbuat dari batang bambu, atau akar bambu diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang lumayan bagus.

Selain itu ada alat musik tambahan yang lain untuk menambah bagusnya suara. Kalau ini kumpulan dari barang-barang bekas yang sudah tak terpakai seperti panci, tabung (wadah air) dan ada yang memang sudah memakai bedug (alat musik yang terbuat dari  kayu dan kulit sapi atau hewan lain)

Dari tradisi ini kita dapat belajar, pertama upaya mempertahankan sebuah tradisi atau buadaya meskipun sudah ada alat yang lebih canggih. Kedua memunculkan sikap kreatif untuk belajar memproduksi sebuah alat ciptaan tangan sendiri. Ketiga kebersamaan sebuah solidaritas, kekompakan yang terbangun demi terciptanya suara, nada, irama yang bagus.

Sebuah tradisi unik bulan Ramadan yang sangat disayangkan jika dihilangkan.  Soalnya saat ini bangsa kita sudah dijajah dengan adanya gawai yang berdampak pada sikap apatis, pragmatis pada sesama. Sekarang orang lebih suka berduaan dengan gawai kecilnya. Serasa dunia ada dalam genggamannya. Dengan adanya tradisi ini anak muda bisa disatukan sekaligus mengembangkan kreatifitas masing-masing.

Hukum dan Tradisi yang Perlu dipertahankan

Memang terkadang ada sebuah hukum yang itu membentengi hak masing-masing individu. Namun adanya hukum juga perlu diperhatikan masyarakat. Supaya tidak gampang melaporkan sebuah kebiasaan ke dalam ranah hukum, hanya karena merasa hak pribadinya terganggu.

Misalnya adanya penetapan sebuah larangan membuat kegaduhan di malam hari yang diatur dalam Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan diancam dengan kurungan paling lama tiga hari atau denda hingga Rp225 ribu. Dalam hal ini masyarakat perlu menimbang ciri kegaduhan yang dimaksud. Jangan sampai dimaknai secara sempit, yang dikhawatirkann akan menambah sesuatu masalah baru. Misalnya kerukunan antar tetangga.

Ya,  meskipun dalam tradisi tidak semuanya sepakat. Ada masyarakat yang merasa terganggu dengan kebiasaan membangunkan dengan alat musik ini, namun tak sedikit juga mereka yang merasa terbantu untuk bangun dari tidur dan mempersiapkan hidangan untuk sahur.

Sebuah warisan budaya dari para pendahulu kita, yang patut tetap dilestarikan. Jangan sampai zaman yang modern ini menggerus budaya lama.  Lantas jika itu terjadi,  anak cucu kita mau diwarisi budaya apa? Apakah budaya gaya hidup orang-orang modern?

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.