Jumat, Februari 26, 2021

Kita dan Nasionalisme

Apakah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Merupakan Alternatif?

Saat ini hampir banyak masyarakat Indonesia yang memberikan tanggapan/opini-nya terkait permasalahan kejahatan kekerasan seksual yang marak beredar dan terjadi belakangan ini. Hal tersebut terjadi,...

Yang Tetap Menjaga Nyala

“Kasih, api cinta itu turun dari langit dalam berbagai bentuk dan rupa, namun pengaruh mereka di dunia adalah satu.” – Khalil Gibran Peradaban manusia dibangun...

Merebut Spirit Perdamaian dari Istilah Hijrah

Perkembangan dunia digital dan teknologi`bersamaan dengan tingkat kecepatan popularitas atau trending sebuah pembahasan. Topik tertentu akan dengan mudah dan cepat menjadi pokok pembicaraan warga...

Masa Depan Kota dan Teror Pseudo Demokrasi

Momentum pemilihan kepala daerah langsung tahun ini—yang konon katanya merupakan manifestasi demokarasi dari 39 kota, dan 115 kabupaten harus dipahami dan dihayati dengan segenap...
Faiz Rifqy Ak
Wartawan argumentasi.com, Jurnalis LAPMI SINERGI, Pegiat Aksara dan Seni Budaya, Kader HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta

Image: batatx.photo

Beberapa bulan terakhir ini bangsa kita banyak di landa oleh persoalan-persoalan menyangkut kemanusiaan, mulai dari kasus penyelewengan, tindak kriminal, bahkan sampai pada penistaan antar suku beragama. Kejadian-kejadian yang seperti itu sangat mempengaruhi stabilitas kenegaraan, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial budaya. Salah satu contoh, yang memang perlu kita kaji dan telaah kembali, mengingat negara kita adalah negara kesatuan, yang terdapat kemajemukan dan keberagaman suku, ras, agama dan budaya. Sehingga bukan lagi kita menyalahkan antar golongan, tetapi bagaimana kita (Indonesia) sama-sama memikirkan masa depan bangsa tercinta ini.

Dari berbagai persoalan yang sedang melanda bangsa kita, adalah beberapa hal yang perlu kita pahami, yaitu bagaimana proses ideologisasi warga negaranya. Artinya tata nilai kebangsaan yang seharusnya menjadi acuan dasar kita sebagai warga negara harus menjadi perhatian bersama. Bukan malah kita seenaknya mengambil intisari dari ideologi bangsa untuk kepentingan pribadi. Lantas bagaimanakah orang-orang disekitar kita?. Ideologi bangsa kita adalah cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, dengan semangat nasionalis serta semangat gotong-royong yang akan menghantarkan kita kepada jembatan emas kesejahteraan. Karena satu rasa dalam memperjuangkan bangsa ini tidak semudah kita membalikkan mangkok yang ada diatas meja. Para pendiri bangsa meninggalkan jejak darah hanya untuk anak dan cucu bangsa yang mampu melihat laut selatan yang terhampar dan gunung merapi yang menjulang.

Menurut Prof. Dr. H. Didik Endro Purwoleksono, S.H., M.H. “Jika kita memiliki sifat semangat nasionalis seharusnya mengutamakan dan mendahulukan seluruh hal yang bersangkutan dengan bangsa Indonesia dari pada kepentingan kelompok, golongan ataupun pribadi”. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus mampu mewujudkan generasi yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat serta mewujudkan cita-cita bangsa. Karena masa depan bangsa Indonesia berada pada pundak kaum pemuda saat ini. Sebagai pengikat dan mengeratkan kembali semangat warga negara Indonesia harus ada promotor dalam menggerakan bagaimana mencintai bangsa kita dengan semangat nasionalisme.

Selain menyampaikan bahwa semangat nasionalis itu sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, guru besar Fakultas Hukum Universitas Airlangga itu juga memperkuat pernyataannya “Disini sikap individualis harus diminimalisir jika bersangkutan dengan negara, karena sikap tersebut akan memecahkan masyarakat Indonesia”. Dari pernyataan tersebut juga perlu kita memahami yang namanya bagaimana warga negara Indonesia memiliki sifat memiliki terhadap bangsa ini. Dengan demikian, semangat yang tumbuh mampu terjaga dan di lestarikan sebagai karakter kebangsaan kita. Mengingat di abad ke-21 ini adalah dunia komunikasi sedang berkembang. Lahirnya teknologi yang semakin mempersempit orang-orang untuk melakukan komunikasi dan silaturrahmi antar umat juga terbatasi. Inilah realitas yang memang tidak dapat dihindari, akan tetapi perlu untuk kita atasi bersama-sama.

Jika di tinjau dari aspek psikologis nasionalisme dapat terbentuk karena rasa cinta seseorang terhadap negaranya. Semakin besar rasa cinta terhadap negaranya maka semakin besar pula rasa nasionalisme yang dimiliki. Akan tetapi rasa nasionalisme tidak hanya diukur dari besarnya cinta terhadap negaranya saja. Hal ini juga dapat diwujudkan menjadi bentuk lisan atau bahkan merubah cintanya menjadi sebuah karakter yang melekat pada dirinya. K.H. Moh. Zuhri Zaini mengatakan didalam tulisannya “Cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia”. Artinya bukan hanya sekedar berucap pada lisan kalau kita memang benar-benar mencintai bangsa ini, akan tetapi aktualisasi diri dan bagaimana mengejawantahkan dalam bentuk perilaku yang bermoral dan beretika. Dari situlah kita dapat memahami kondisi bangsa Indonesia yang kian hari kian memprihatinkan. Lalu siapa lagi kalau bukan kita, generasi muda penerus bangsa!. Maka cintailah bangsamu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, karena sejatinya mencinta bangsa ini merupakan ibadah yang akan dicatat sebagai amal ibadah yang baik. Waallahua’lam bissawab.

Faiz Rifqy Ak
Wartawan argumentasi.com, Jurnalis LAPMI SINERGI, Pegiat Aksara dan Seni Budaya, Kader HMI Komisariat Umar Bin Khattab UII Cabang Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.