OUR NETWORK

Kisah Chelsea “Si Penentu Juara”

Selain sebagai klub tersukses kedua di era Premier League setelah Manchester United dengan 13 gelarnya, Chelsea dikenal sebagai klub yang sering meramaikan persaingan perebutan gelar juara.

Chelsea Football Club merupakan pemenang 6 kali Liga Inggris, dengan rincian 1 kali Juara Divisi Satu Inggris pada musim 1954-1955, dan 5 kali Juara Premier League pada musim 2004-2005, 2005-2006, 2009-2010, 2014-2015, dan 2016-2017.

Selain sebagai klub tersukses kedua di era Premier League setelah Manchester United dengan 13 gelarnya, Chelsea dikenal sebagai klub yang sering meramaikan persaingan perebutan gelar juara. Sejak dibawah kepemilikan miliarder Rusia Roman Abramovich pada 2003, Chelsea mulai memperhitungkan dirinya di persaingan papan atas.

Dibalik 5 gelar Premier League, Chelsea memiliki cerita unik sendiri dalam perjalanannya di kompetisi teratas Negeri Tiga Singa tersebut. Bukan cerita mengenai kemenangan merebut gelar dengan dramatis, atau memenangkan Liga dengan performa luar biasa, tapi cerita dimana Chelsea menjadi penentu bagi klub lain yang sedang berburu gelar juara.

Kejadian itu terjadi selama 3 kali dan Chelsea seolah-olah menjadi seorang algojo bayaran yang tugasnya menyingkirkan musuh kliennya. Diawali pada musim 2013-2014, Chelsea yang sedang fokus berjuang di Semi-Final Liga Champions justru mampu menaklukan Liverpool dan membuat pesaingnya, Manchester City juara pada musim tersebut.

Pada musim 2015-2016, Chelsea menyempurnakan Cerita Dongeng Leicester City yang menjuarai Premier League dengan kompisisi pemain seadanya dimana musim sebelumnya harus kepayahan untuk dapat bertahan di Premier League usai berjuang habis-habisan menghindari zona degradasi. Lanjut pada musim ini, Liverpool yang berusaha untuk “Buka Puasa” setelah 30 tahun tidak menjuarai Liga Inggris tercapai setelah pesaing utamanya, Manchester City, takluk oleh Chelsea di Stamford Bridge.

Pada musim 2013-2014, kembalinya Jose Mourinho Chelsea mulai membentuk kerangka kekuatan baru. Pada musim itu Chelsea berhasil finis di posisi 3 klasemen akhir Premier League dan semi-finalis Liga Champions. Menjelang akhir musim, Chelsea masih memiliki asa untuk Juara meski tidak sebesar dua pesaing diatasnya Liverpool dan Manchester City. Chelsea harus membagi fokusnya pada Liga Champions menjelang akhir musim, sedangkan dua pesaingnnya fokus penuh pada pertandingan Liga.

Chelsea menghadapi Liverpool pada 27 April 2014 di Anfield Stadium, yang memiliki peluang lebih besar menjuarai gelar di musim itu. Chelsea banyak menurunkan pemain lapis kedua pada pertandingan tersebut dengan tujuan persiapan menghadapi Atletico Madrid di leg ke-2 pada 30 April 2014 di Stamford Bridge. Pada pertandingan itu, Liverpool mendominasi permainan dengan rasio penguasaan bola 73%-27%.

Petaka lahir bagi The Reds, ketika pada perpanjangan waktu babak pertama Sang Kapten Steven Gerrard terpeleset ketika sedang menguasai bola di garis pertahanan terkahir, membuat bola direbut penyerang Chelsea, Demba Ba, dan menyelesaikannya dengan mudah setelah berhadapan 1 lawan 1 dengan penjaga gawang Liverpool.

Gol bertambah pada perpanjangan waktu babak kedua, ketika Torres dan Wilian sudah berhadapan dengan penjaga gawang Liverpool, Wilian dengan mudah menyelesaikannya setelah mendapat umpan manis dari Torres. Chelsea menang 2-0, dan membuat Manchester City menjuarai Premier League setelah ditentukan di pekan ke 38.

Cerita berlanjut ketika musim 2015-2016. Pada musim itu, Chelsea terpuruk meski berstatus sebagai juara bertahan. Mengakhiri musim pada posisi 10 dengan 50 poin. Namun Chelsea turut andil dalam meramaikan persaingan perebutan gelar juara.

Ketika menghadapi Chelsea, Tottenham Hotspur membutuhkan kemenangan untuk menjaga harapan mereka dalam perburuan gelar juara musim itu, sedangkan pemimpin klasemen, Leicester City, akan memastikan gelar juara jika Spur gagal menang melawan Chelsea. Pertandingan pada 2 Mei 2016 itu berlangsung sangat sengit dan terjadi perkelahian tegang antar pemain, bahkan wasit yang memimpin pertandingan, Mark Clattenburg, harus mengeluarkan 12 kartu kuning.

Spurs sebenarnya unggul 2 gol tanpa balas di babak pertama, sayang di babak kedua, Chelsea berhasil mencetak 2 gol penyeimbang, gol terakhir datang di menit 83, Hazard melesatkan tendangan terarah ke pojok kiri gawang Lloris setelah menerima umpan dari Diego Costa. Pupuslah harapan Spurs untuk juara. Di sisi lain, menjalani musim bagaikan Cerita Dongeng, anak asuh Claudio Reneiri yang mengandalkan duo Mahrez-Vardy, Leicester City memastikan dan merayakan gelar juara setelah poinnya tidak akan terkejar oleh pesaing terdekat.

Berlanjut pada musim ini 2019-2020, Liverpool yang sempat tersakiti oleh kelakuan Chelsea pada 2014 lalu, seakan mendapat permintaan maaf dengan dibantunya mereka dalam memastikan gelar juara Liga Inggris yang mereka tunggu selama 30 tahun lamanya.

Musim sebelumnya, Liverpool gagal juara meski mendapat poin akhir tertinggi mereka selama sejarah Premier League, Manchester City-nya Guardiola berhasil keluar sebagai juara. Di musim ini, Liverpool menunjukan performa yang luar biasa hingga menentukan gelar juara pada pekan ke 31, mereka hanya kalah 1 kali bahkan mencetak rekor sebagai klub tercepat menentukan gelar juara dengan 7 laga tersisa.

Kehebatan Liverpool akan sia-sia seperti musim sebelumnya jika Chelsea Football Club tidak pernah hadir di muka bumi. Sebelum membahas usaha Chelsea menebus sakit hati The Kop pada 2014 lalu, Liverpool sempat panas-dingin, ketika mereka nyaris juara, Covid-19 muncul, seluruh aktivitas sepak bola di dunia dihentikan, bahkan ada rencana Premier League distop tanpa adanya klub yang keluar sebagai juara.

Meski perasaan tak menentu itu berakhir dengan lega ketika mereka tau setidaknya Premier League dilanjutkan. Pada pertandingan ke-31, pesaing terdekat mereka bertandang ke Stamford Bridge untuk menghadapi Chelsea. Chelsea berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1, meski pemenang sebenarnya pada pertandingan tersebut adalah Liverpool yang memastikan diri menjuarai liga.

Dari ketiga kisah tersebut, Chelsea selalu ikut serta menentukan gelar juara meski yang keluar sebagai sang juara bukan lah mereka. Seakan Déjà vu atau memang ketidaksengajaan semata. Selain kisah membantu klub lain dalam juara, di dua kisah awal, tepatnya ketika membantu Manchester City menentukan gelarnya pada 2014, musim selanjutnya Chelsea berhasil menjuarai Premier League.

Begitu pun ketika membantu Leicester pada 2016 lalu, musim selanjutnya Chelsea dibawah Antonio Conte mengakhiri musim sebagai pemuncak klasemen Premier League. Seakan Chelsea mendapat pahala atau imbalan setelah membantuk klub lain juara. Lalu ketika Chelsea membantu Liverpool pada musim ini, akankan musim depan Chelsea menyempurnakan kisah uniknya? Kita tunggu saja.

Jika dilihat dari komposisi pemain dibawah asuhan Frank Lampard, squad Chelsea cukup menjanjikan yang dimana pemain muda potensial akan ditopang oleh rekrutan anyar mereka, Ziyech dan Werner. Mari kita menunggu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.