OUR NETWORK

Kim Ji Young, Perempuan Pekerja dan dan Pahitnya Kenyataan

Film bertajuk Kim Ji Young: Born 1982

Di tengah kultur patriaki yang kuat di negeri ginseng, sebuah film dengan nuansa feminis muncul ke permukaan. Film bertajuk Kim Ji Young: Born 1982 telah malang melintang di layar lebar di Korea sejak 23 Oktober silam. Tidak lama berselang, Indonesia akhirnya kebagian untuk menyaksikan film yang diangkat dari novel karangan Jo Nam Joo ini.

Kim Ji Young: Born 1982 menceritakan kisah ibu rumah tangga bernama Kim Ji Young (Jung Yu Mi) yang harus merelakan kariernya setelah menikah dan mempunyai anak. Tidak hanya merelakan pekerjaan, Kim Ji Young dituntut untuk memenuhi ekspektasi mertua dan keluarga nya yang kental dengan kultur patriaki.

Tidak sulit menangkap maksud Sutradara Kim Do Yong untuk mengajak kita “menelan” realitas pahit menjadi seorang perempuan. Kita tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami setiap adegan dalam film ini. Sebab, film ini menyajikan realitas lebih eksplisit dan mudah dipahami penontonnya.

Secara gamblang, Kim Do Young membingkai fenomena diskriminasi yang hadir dalam setiap kehidupan perempuan di Korea- mungkin juga di Indonesia. salah satunya ialah praktik diskriminasi terhadap pekerja perempuan.

Sebelum menikah, Kim bekerja di perusahaan pemasaran dan terbilang terampil dalam urusan pekerjaan. Tidak jarang, atasannya berdecak kagum atas performanya. Kim pun yakin dapat bergabung dengan sebuah proyek besar yang akan digarap perusahaannya.

Optimisme Kim seketika sirna mana kala namanya tidak ada dalam daftar tim tersebut. Bukan, alasannya bukan karena Kim tidak cakap, namun hanya karena dirinya perempuan.

“Ini merupakan Proyek jangka panjang. seseorang yang telah menikah dan akan memiliki anak tidak akan bisa fokus pada proyek ini,” Jelas Atasan Kim.

Narasi yang ada dalam film itu tidak jauh berbeda dengan realitas di sekitar kita. Realitas bahwa perempuan bukan lah pekerja yang dapat berkontribusi maksimal pada perusahaan. Perempuan juga kerap dipandang hanya bisa bekerja maksimal hingga mereka menikah saja. Tidak jarang, saya menemukan berbagai upaya yang coba menghalangi perempuan meraih kariernya.

Saya pun melihat upaya itu di salah satu adegan film ini. Ibu dari Kim Ji Young yang dikisahkan anak sulung dan punya banyak adik laki-laki membuat sang ibu harus berkorban. Ibu Kim secara sukarela menanggalkan cita-cita nya sebagai guru karena orang tua nya yang lebih memilih menyekolahkan adiknya. Hal ini merupakan kritik pedas terhadap minimnya akses pendidikan bagi perempuan.

Satu kasus yang masih terekam di ingatan saya ialah upaya Jepang menghalang-halangi wanita untuk berkuliah di Universitas Kedokteran Tokyo pada 2018 lalu. Pihak Universitas secara sistematis mengurangi skor pendaftar wanita dengan presentase pengurangan sepuluh sampai dua puluh persen. Hal itu semata-mata dilakukan demi meredam angka mahasiswa perempuan.

Realitas ini menunjukan bahwa masyarakat masih terjebak dalam miskonsepsi gender. Meski zaman sudah modern, rupanya banyak yang masih percaya dengan pemikiran kolot bahwa perempuan hanya layak mengisi ranah domestik. sementara itu, laki-laki punya kuasa terhadap untuk mengusai karier di ranah publik.

Miskonsepsi seperti itu tidak boleh dilanggengkan begitu saja. Kim Ji Young adalah satu dari sedikit karya yang berani melakukan kritik terhadap diskriminasi pekerjaan berbasis gender ini. Perempuan tidak harus dihadapkan pada pilihan karier atau keluarga lagi. Selama mampu, tidak ada alasan untuk tidak memilih keduanya.

Meski sudah ada banyak wanita hebat yang mampu bekerja, bukan berarti masalah selesai begitu aja. Setiap harinya, pekerja perempuan berkutat dengan diskriminasi hingga berbagai bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Fenomena ini pula yang berhasil dipotret oleh film Kim Ji Young: Born 1982.

Sehari-harinya, pekerja perempuan di film ini berurusan dengan desas-desus, sindiran, dan perlakuan diskriminatif lain yang merendahkan. Tidak ada kuasa bagi perempuan untuk membela dirinya. Jika melawan, maka ia harus siap-siap dicap “kaku” hingga diasingkan. Nyatanya, hal itu juga tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini dialami perempuan.

Film ini dengan lantang menyuarakan bahwa candaan berbau seksisme bukan lah hal yang wajar. Perempuan kini harus punya otoritas untuk melindungi dirinya dari bentuk-bentuk candaan yang merendahkan martabatnya. Perempuan tidak boleh larut begitu saja dalam candaan itu.

Selain pelecehan yang diungkapkan dalam bentuk verbal mau pun non-verbal, ada juga bentuk diskriminasi yang mencekik para pekerja perempuan. Diksriminasi itu ialah Sulitnya pekerja wanita mendapatkan hak-hak kerjanya.

Sebuah adegan di mana Kim dapat memutuskan kembali bekerja membuat senyum sempat merekah di bibir saya. di adegan berikutnya, hal itu seketika hilang ketika Mertua Kim tidak mengizinkannya bekerja kembali. Alasannya klise; khawatir anaknya tidak terurus dan penghasilannya tidak besar.

Sulitnya pekerja perempuan mendapat hak gaji yang sepadan memang bukan perkara baru. Survey yang dilakukan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2017 juga menemukan bahwa di Amerika rata-rata pendapatan wanita lebih kecil dua puluh persen ketimbang pria.

Hal yang parah terjadi di Korea Selatan, wanita di negeri ginseng mendapat rata-rata pendapatan tiga puluh tujuh persen lebih kecil dibanding pria. Selisih ini mengisyarakatkan kinerja seorang pekerja perempuan belum sepenuhnya dihargai secara adil oleh perusahaan.

Film ini menampar kita semua, yang masih tidak sadar ada banyak praktik diskriminastif yang dialami perempuan. Masih banyak “Kim Ji Young” lain di luar sana yang harus kita keluarkan dari penderitaan kultur patriaki. Lebih dari itu, film ini memberi pesan agar memberi kesempatan yang sama terhadap perempuan dalam segala aspek, termasuk pekerjaan.

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…