Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kilas Sejarah Tahun Hijriyah dan Kejayaan Islam

Tidak Semua ‘Kampret’ adalah ‘Kampret’

Stabilitas sosial sering dianggap hal yang lumrah: apa yang terjadi sekarang pasti akan terjadi besok, hal yang sekarang wajar besok pun akan tetap begitu....

Darurat Perbaikan Layanan Publik di Desa

Seorang Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi, tiba-tiba merasa heran, bagaimana mungkin warganya yang notabene mampu secara ekonomi, ternyata masih ada yang...

Fatwa MUI Kota Bandung dan Warga Tamansari

MUI Kota Bandung mengeluarkan fatwa bahwa pengungsi penggusuran sewenang-wenang Tamansari dilarang untuk menempati masjid. Fatwa itu dikeluarkan sejalan dengan dimanfaatkannya masjid oleh pengungsi yang...

“Kapitalisasi” Pendidikan Tinggi UU Cipta Kerja

Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja semakin banyak dibicarakan belakangan ini baik dari sisi akademis maupun praktik hukum karena pemerintah menggunakannya sebagai konsep aturan perundang-undangan...
Did Sibghotullah
Fresh Graduate FH Universitas Islam Indonesia

Tenggelamnya matahari pada kamis kemarin (20/09/2017) merupakan momen spesial bagi umat Islam, karena bertepatan dengan 1 Muharram sekaligus pergantian tahun baru 1439 Hijriyah. Berbeda dengan perayaan tahun baru masehi yang menggunakan sistem penanggalan syamsiyah atau penanggalan matahari, sehingga orang pada umumnya menunggu sampai tengah malam tepat pada pukul 24.00 untuk merayakan pergantian tahun baru. Pergantian tahun baru hijriyah terjadi pada waktu maghrib, karena menggunakan sistem penanggalan qomariyah atau penanggalan bulan. Itulah sebabnya mengapa ru’yah untuk menetukan awal bulan puasa (tanggal 1 ramadhan) dan hari raya idul fitri (tanggal 1 syawal) selalu dilakukan pada waktu maghrib. 

Kalender islam dikenal dengan kalender hijriyah karena memang penghitungan tahunnya dimulai dari peristiwa hijrah, yaitu peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dengan para sahabatnya dari Mekkah menuju kota Yatsrib, yang kemudian hari dirubah menjadi kota Madinah. Peristiwa hijrah ini pula yang kemudian menjadi suatu titik tolak perubahan nasib umat islam yang dulunya terintimidasi dan terasing dalam kehidupan sosial kaum Quraish di Mekkah menjadi suatu umat yang nantinya membawa perubahan besar dan dahsyat dalam sejarah kehidupan manusia. 

Sebagaimana kekaguman L. Stoddard dalam The Rising Tide of Colours (Bangkitnya Bangsa-Bangsa Berwarna). L. Stoddard dengan takjub mengatakan bahwa Nabi Muhammad seolah-olah telah mengubah padang pasir timur tengah menjadi mesiu yang ia sulut dari Madinah dan meledakkan seluruh timur tengah. Sebab tidak lama setelah nabi hijrah ke Madinah, dalam tempo 10 tahun sebelum beliau wafat, beliau telah berhasil membangun sendi-sendi bagi peradaban kehidupan manusia. 

Penetapan Hijrah Sebagai Penanggalan Islam 

Penetapan hijriah sebagai permulaan kalender islam merupakan suatu kebijakan yang diambil oleh Umar Bin Khattab, sahabat nabi sekaligus khalifah kedua, yang terkenal mempunyai banyak reputasi dan banyak mempelopori terobosan-terobosan baru dalam islam. Pada awal mulanya, dalam musyawarah penetapan permulaan kalender islam, muncul berbagai pendapat dan perdebatan. Salah satunya ialah usulan untuk menjadikan hari kelahiran nabi sebagai permulaan kalender Islam. Sebagaimana lazimnya tradisi umat manusia yang berkembang pada waktu itu, menjadikan kelahiran seseorang sebagai permulaan penghitungan tahun baru merupakan suatu penghormatan terhadap orang yang sangat berpengaruh. Hal ini pun terjadi dalam penghitungan tahun masehi, yang dihitung sejak kelahiran Nabi Isa Al-Masih. 

Namun demikian, Umar menolak usulan menjadikan kelahiran nabi sebagai awal penanggalan karena identik dengan suatu pemujaan yang terlalu berlebihan. Kalaupun tidak, toh nabi pada awal kelahirannya tidak langsung menyandang status sebagaai nabi, melainkan orang biasa pada umumnya. Oleh karena itu, Umar kemudian lebih memilih hijrah sebagai awal penanggalan kalender Islam sebagaimana kita kenal sekarang. Tindakan umar ini juga sekaligus membongkar kebiasaan jahiliyah yang lazimnya meletakkan penghargaan berdasarkan keturunan menjadi penghargaan berdasarkan prestasi kerja. Dan peristiwa hijrah merupakan mementum didapatkannya prestasi sekaligus sebagai momentum bangkitnya umat Islam sebagai umat yang rahmatan lil ‘alamien. 

Selain itu dengan ditetapkannya hijrah sebagai awal penanggalan kalender Islam, setidaknya telah memberikan suatu momentum berharga bagi umat Islam untuk bermuhasabah dan mengambil ibrah (pelajaran) dari peristiwa masa lalu akan perjuangan-perjuangan nabi yang tak kenal putus asa dalam mensyiarkan Islam. 

Hijrah Sebagai Embrio Kejayaan Islam 

Michael Hart, penulis buku “100 Tokoh Paling Berengaruh Di Dalam Sejarah Umat Manusia”, yang secara jujur menempatkan Nabi Muhammad di nomor urut pertama tokoh paling berpengaruh di dunia. Alasan dan penilaian itu didasarkan pada pengaruh luar biasa kehadiran Nabi Muhammad dan ajaran Islam dalam mengubah suatu bangsa yang tadinya bodoh, tak dikenal, dan tidak dianggap oleh bangsa-bangsa sekelilingnya, yaitu suatu bangsa di Jazirah Arab, menjadi suatu bangsa yang penuh dengan kebudayaan tinggi dan menerangi sejarah peradaban manusia sampai sekarang ini. 

Kejayaan yang diraih umat Islam tentu tidak lepas dari peristiwa hijrah yang dilakukan nabi dan para sahabatnya ke Kota Madinah. Di kota Madinah pula, nabi dengan para sahabatnya membangun strategi untuk memulai langkah besar dalam mengembangkan dan menetapkan Islam sebagai suatu tatanan dan tuntunan guna membentuk kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, kemanusiaan, persaudaraan, toleransi dan kedamaian bagi seluruh semesta alam. 

Dari Madinah pula, nabi mulai melakukan ekspansi ke beberapa wilayah di jazirah Arab untuk menyebarkan syiar Islam. kemudian dilanjutkan pula pada masa Khulafaur Rasyidin, khususnya Abu Bakar dan Umar Bin Khattab. Pada masa Abu Bakar, perluasan penaklukan Islam sampai ke Irak, Persia, dan sebagian wilayah Syam. Kemudian diperluas lagi pada masa Umar Bin Khattab sampai ke Suriah, Palestina, Persia, dan Mesir. 

Ekspansi perluasan kekuasaan Islam sempat terhenti pada masa Ustman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib, karena mengalami goncangan dari internal Islam sendiri. Hingga kemudian dilanjutkan kembali pada masa Bani Umayyah yang terkenal dengan era agresif, dimana perhatian bertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan. Hanya dalam jangka 90 tahun Dinasti Umayyah dapat memperluas kekuasaan Islam meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazurah Arabia, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Tukmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah. 

Pada dinasti-dinasti selanjutnya ekspansi juga terus dilakukan hingga kemudian kekuasaan Islam terbentang luas menghiasi hampir seperempat belahan dunia. Sampai akhirnya, kejayaan Islam itu runtuh sedikit demi sedikit seiring terkikisnya nilai-nilai keislaman yang pernah nabi tanamkan setelah hijrah ke kota Madinah.

Did Sibghotullah
Fresh Graduate FH Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.