Sabtu, Oktober 31, 2020

Kiai dan Muslim Jawa

Pandemi, Ramalan Engels, dan Evolusi Kapitalisme

Extreme problems require extreme measures. Dikarenakan belum ditemukannya obat untuk menghentikan penetrasi Pandemi Covid-19 hingga tulisan ini dibuat (23 April 2020), masyarakat dan pemerintah...

Capres Nomor Urut 10, Golput?

Hanya ada dua pilihan untuk memilih capres, jika tidak 01 maka 02. Itu yang disuguhkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia. Lantas bagaimana dengan...

Memupuk Peradaban Milenial

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bermedia sosial sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, bahkan kebiasaan yang tak bisa dilepaskan. Pasalnya, media sosial memang...

Dramaturgi Putra Mahkota Banten

Pentas yang paling sering kita saksikan pada setiap harinya merupakan pentas yang berada di dunia politik, kita tidak perlu membayar untuk menonton pentas tersebut,...
labiq
Ketua II Bidang Eksternal PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang

Mayoritas masyarakat Jawa adalah penganut agama Islam, yakni sekitar 95%. Muslim di tanah Jawa sendiri juga memiliki dua kategori, yakni Kaum Santri dan Abangan. Bagi kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam hukumnya Fardhu Ain, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam, namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat.

Meskipun begitu, keduanya memiliki suatu figur yang sama dan bagi mereka sendiri dijadikan landasan yang kuat bagi tuntunan hidup sehari hari, dihormati dan dipuja-puja setelah wafatnya Nabi.

Figur yang dimaksud adalah kiai, memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menggerakkan kehidupan beragama dan kerukunan umat beragama. Sebutan kiai dalam suatu komunitas mengacu pada konsep masyarakat bedasarkan kriteria yang masing-masing daerah berbeda.

Istilah kiai hanya ada dalam budaya Jawa, bagi Muslim Jawa kiai adalah apa atau siapa saja yang mereka puja dan mereka hormati serta mereka jadikan landasan yang kuat bagi kehidupan beragama sehari hari.

Kiai bukan hanya seorang tokoh namun juga benda-benda yang dihormati dikarenakan diyakini memiliki suatu ilmu dan memiliki alasan tertentu yang lainnya juga disebut kiai. Kiai Sabuk Inten, Kiai Nagasasra, Kiai Plered, misalnya, sebutan untuk senjata; Kiai Slamet sebutan untuk kerbau di Keraton Surakarta.

Bagi Muslim Jawa, orang yang disebut kiai semula adalah mereka yang dipuja dan dihormati masyarakat karena ilmunya, serta memiliki jasa dan  rasa kasih sayang mereka terhadap masyarakat.

Dulu, kiai yang umumnya tinggal di desa benar-benar menjadi kawan dan juga tumpuan bagi masyarakat termasuk tempat bertanya dan meminta pertolongan.

Sebaliknya, kiai yang dipuja dan dihormati masyarakat itu memang mencintai masyarakat dan seperti mewakafkan dirinya untuk mereka. Kiai yang termasuk golongan mereka yang “yanzhuruuna ilal ummah bi’ainir rahmah”, melihat umat dengan mata kasih sayang, memberikan pelajaran kepada yang bodoh, membantu yang lemah, menghibur yang menderita dan seterusnya.

Komplek pesantren yang umumnya 100 persen dibangun kiai adalah bukti perjuangan dan pengabdian kiai kepada masyarakat.

Kiai dalam kalangan muslim jawa, baik dari kaum santri maupun abangan dianggap memiliki kelebihan khusus, terutama dalam bidang ilmu kanuragan atau kesaktian, ilmu ini hanya sedikit dipercaya di kalangan muslim, bahkan selain muslim jawa ilmu kanuragan bisa saja dianggap kesyirikan.

Ilmu agama dan ilmu kanuragan atau kesaktian ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak bisa dipisahkan. Sebab, seorang kiai harus dibekali kemampuan lebih untuk menjaga diri ketika berdakwah. Maka wajar kemudian kisah-kisah kiai di kalangan muslim jawa selalu lekat dengan ilmu kanuragan. Banyak kiai di Jawa yang selain dikenal memiliki ilmu agama mumpuni.

Kanuragan dan kesaktian para kiai juga dibutuhkan semasa pergerakan kemerdekaan RI untuk melawan penjajah. Kisah kesaktian kiai dan santri pada masa perang kemerdekaan di Surabaya adalah contohnya. Resolusi jihad NU menjadi pemicu meletusnya perang 10 November di Surabaya. Para pejuang kemerdekaan yang di dalamnya ada barisan pasukan Hizbullah, barisan para santri pondok pesantren yang dilatih perang untuk melawan penjajahan, menjadi kisah epik bagi para kaum santri.

Melihat dari peran kiai terhadap banyak aspek bagi kehidupan orang nusantara dan muslim jawa khususnya, maka sosok figur kiai menjadi tidak mungkin bisa tergantikan oleh sebuah teknologi, sebut saja mbah google.

Muslim jawa dan kiai adalah satu kesatuan, kiai adalah tumpuan bagi muslim jawa, dan masyarakat bagaikan tempat mengabdi para kiai, banyak kiai kontemporer yang ngendika “wong jowo ora iso urip tanpo kiai”. Dua hal yang sosok kiai tidak dapat tergantikan oleh sebuah teknologi adalah karena kiai memiliki rasa dan kasih sayang terhadap sesama muslim jawa.

labiq
Ketua II Bidang Eksternal PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.