OUR NETWORK

Keunikan Pentas Seni Teater Pandora

Pementasan Teater Pandora yang dilaksanakan pada tanggal 11-13 September 2017 kemarin, sedikit terlihat unik. Panggung besar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) disulap dengan sedemikian rupa saat pementasan berlangsung. Sorotan lighting yang dipantulkan menjadikan kesan panggung lebih hidup dan terlihat romantis; rentetan kursi terisi penuh bahkan dapat dikatakan cukup membludak karena banyaknya penonton yang tidak mendapatkan tempat duduk senyaman mungkin.

Ada hal yang perlu digaris bawahi, latar belakang pementasan ini disebabkan untuk memenuhi satu mata kuliah yang diajarkan di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setiap mahasiswa semester 5 akan diwajibkan untuk melakukan satu pementasan guna dijadikan syarat kelulusan mata kuliah ini.

Tepat ditanggal 13 September 2017, kelompok teater Pandora mementaskan pementasan yang berjudul Black Cat. Dimana kelompok itu mengisahkan seekor kucing hitam yang dapat membawa malapetaka bagi pemiliknya. Namun sayangnya, saat pementasan itu tidak secara gamblang diceritakan bagaimana kronologis konkrit kejadian sehingga dapat memasuki tingkatan klimaks permasalahan. Kesannya, pementasan ini lebih terlihat sebagai drama musikal dengan berbagai ragam nada yang terlontar secara bersamaan. Pementasan ini berlangsung selama satu jam setengah dengan keunikan-keunikan yang ditawarkan. Ada Lily dan Lala dengan kostum seperti malaikat pencabut nyawa, Laras menari dengan tubuh yang cukup lentur. Dan tidak dapat ditinggalkan si pelakon Black Cat yang mengeong layaknya kucing sungguhan.

Proses pementasan ini sebagai pengingat bahwa siapapun makhluk di dunia ini memiliki haknya masing-masing, sekalipun itu hewan patutlah manusia sebagai makhluk yang dianggap paling sempurna dapat menjaganya. Ini dibuktikan dengan adanya pelafalan ayat suci Al-Qur’an ditengah-tengah pementasan teater Pandora yang berjudul Black Cat. Acap kali jika kita kaitkan dengan situasi saat ini, banyak  diantara manusia yang memang sering berlaku kejam pada binatang terkhusus untuk kalangan hewan mamalia seperti kucing ini. Secara tak sadar maupun dilakukan dengan sadar itu sudah menjadi hal lumrah yang kapan saja bisa dilakukan. Untuk itu, sesaknya hak-hak hewani ini perlu diusung lebih intens melalui penjagaan yang memang seharusnya ada pada nurani  manusia.

Pementasan ini, tentunya dipersiapkan dengan begitu matang walaupun kita semua  ketahui; pelakon di dalamnya bukanlah orang-orang yang sedari awal bergelut di dunia teater. Namun, patut diacungi jempol; berkat kerja keras dan kerja sama yang luar biasa seluruh mahasiswa semester 5 Sastra Inggris ini  mampu mementaskan hal yang penuh dengan keunikan walau masih ada yang harus dikoreksi dari beberapa bagian.

Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…