in

Ketika Tsamara Menertawai Hary Tanoe Mencapreskan Jokowi

Dunia politik itu, meminjam judul lagu Iwan Fals, asyik nggak asyik. Kabar mengejutkan datang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengindikasikan dukungan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dalam Pemilu 2019. Ternyata Iwan benar, dunia politik itu memang asyik nggak asyik.

Asyiknya, berita ini mengundang tafsir politik yang beragam. Ada yang menilai dukungan yang dilakukan HT ini terkait dengan kasus sedang menjerat HT. Diketahui, HT menjadi tersangka atas kasus dugaan ancaman melalui pesan elektronik yang dilaporkan oleh Kepala Subdirektorat Penyidik di Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.

Tak ada angin, hujan, dan badai di Jakarta, tiba-tiba HT membuat pernyataan bakal mencapreskan Jokowi pada Pemilu 2019. Berharap Jokowi sebagai presiden melakukan intervensi hukum terhadap kasusnya. Mungkinkah? Silakan tanya sama Andre Stinky Taulani karena itu judul lagu mereka.

Nah, ada pula yang menafasirkan pernyataan itu muncul dari HT gara-gara adanya pertemuan antara Prabowo dan SBY. Aliansi Dua Jenderal, Prabowo dengan SBY bikin HT resah gundah-gulana, jenderal manakah lagi yang akan menjadi “pelindung politik” HT selain jenderal yang berada sekitar Jokowi. Akhirnya HT kembali dalam pangkuan Mister Whisky —julukan Jenderal Wiranto. Betul apa tidak silakan tanya sama Itje Trisnawati karena itu juga judul lagunya.

Tafsir lain, ada juga yan mengatakan hal itu terkait bisnis HT yang sedang mengalami krisis. Untuk meningkatkan harga saham perusahaannya, tak ada petir dan tak ada gempa, HT bikin pernyataan bakal mendukung Jokowi dalam pemilihan presiden 2019. Ya atau tidak asumsi ini mari tanya Iwan Fals, sebab Ya atau Tidak adalah judul lagunya Iwan.

Sudahlah, kita simpan saja semua asumsi dan tafsir politik itu. Sepertinya semua itu betul. Tapi apa hubungan semuanya ini dengan Tsamara Amany? Karena oh karena, Tsamara lewat akunnya @TsamaraDKI menertawai judul berita Kongres Partai Perindo akan Usulkan Jokowi sebagai Capres 2019.

Baca Juga :   Awkarin dan ‘Penyakit’ Media Sosial

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Maaf, ini lucu” gelak Tsamara.

Lalu Tsamara berkomentar dan bertanya kepada pengikut dan teman-temannya di jagat twitter.

“Seorang Hary Tanoe yang selama ini punya sikap bersebrangan dengan Presiden Jokowi, bisa tiba-tiba ingin mencapreskan itu kenapa bro & sis?” tanya Tsamara.

Tsamara, maaf, dunia politik itu memang lucu. Asyik nggak asyik, dunia politik yang kini sedang dijalankan Tsamara, politisi Partai Solidaritas Indonesia. Dalam perjalanannya, setelah menjadi politisi, berharap kelak Tsamara menjadi negarawan melampaui HT, Prabowo, dan SBY. Apa pula  itu negarawan?

Cendekiawan bangsa Sir Azyumardi Azra (2017) mengutip J Rufus Fears, guru besar sejarah, memaparkan, untuk jadi negarawan, pemimpin perlu memiliki dan menampilkan empat kualitas penting. Pertama, prinsip yang teguh dan tak berubah pada kebenaran. Seorang gagal menjadi negarawan jika dia tak memiliki prinsip yang bertitik tolak dari kebenaran karena kepentingan politik sesaat. Kedua. panduan moral dan etis yang kuat. Seorang gagal jadi negarawan jika dia adalah relativis yang mudah mengubah kebenaran moral dan etis.

Ketiga, visi yang jelas tentang ke arah mana negara-bangsa mau dibawa. Negarawan visioner tahu hal yang harus dia lakukan untuk membawa negara dan rakyatnya ke kemajuan. Keempat, kemampuan membangun konsensus untuk mewujudkan visi kemajuan. Seorang pemimpin gagal menjadi negarawan jika dia justru menimbulkan perpecahan dan konflik internal bangsa sehingga menciptakan keadaan tidak kondusif bagi kemajuan negara dan rakyatnya.

Selamat berjuang menjadi negarawan, duhai Tsamara.

 

Written by Wahyu Aji

Wahyu Aji

Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Aji Samaran adalah "Nama Pena" Kontak: kuprivata@gmail.com

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR