Kamis, Oktober 29, 2020

Ketika Tsamara Menertawai Hary Tanoe Mencapreskan Jokowi

Kecamuk di Ghouta Timur: Antara Humanisme dan Strategi Perang

Situasi memanas di Afrin, Suriah Utara, belum usai. Kini, Ghouta Timur kembali menjadi arena pertarungan kubu pemerintah dan oposisi. Jika sebelumnya, kontestasi di Afrin...

Eksil, Eks Tapol dan Usaha Merawat Kewarasan

Surat dari Praha yang menceritakan tentang eksil dengan segala cinta serta tetap Indonesia walaupun terbuang dari negerinya. Dalam film yang diproduseri oleh Glenn Fredly,...

Merindukan Keterlibatan Sosial

Kita masih mengingat aksi-aksi voluntarisme selama Pemilu Presiden 2014 yang mengesankan. Selain menunjukkan bekerjanya keterlibatan sosial, hal serupa juga menandakan bahwa kita memiliki modal...

Bambu Runcing atau Nalar Runcing?

Pahlawan kita telah berjuang mati-matian di medan tempur untuk merebut kemerdekaan dari penjajah atau para pahlawan telah mengorbankan nyawa mereka di medan perang untuk memerdekakan...
Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com

Dunia politik itu, meminjam judul lagu Iwan Fals, asyik nggak asyik. Kabar mengejutkan datang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengindikasikan dukungan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dalam Pemilu 2019. Ternyata Iwan benar, dunia politik itu memang asyik nggak asyik.

Asyiknya, berita ini mengundang tafsir politik yang beragam. Ada yang menilai dukungan yang dilakukan HT ini terkait dengan kasus sedang menjerat HT. Diketahui, HT menjadi tersangka atas kasus dugaan ancaman melalui pesan elektronik yang dilaporkan oleh Kepala Subdirektorat Penyidik di Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.

Tak ada angin, hujan, dan badai di Jakarta, tiba-tiba HT membuat pernyataan bakal mencapreskan Jokowi pada Pemilu 2019. Berharap Jokowi sebagai presiden melakukan intervensi hukum terhadap kasusnya. Mungkinkah? Silakan tanya sama Andre Stinky Taulani karena itu judul lagu mereka.

Nah, ada pula yang menafasirkan pernyataan itu muncul dari HT gara-gara adanya pertemuan antara Prabowo dan SBY. Aliansi Dua Jenderal, Prabowo dengan SBY bikin HT resah gundah-gulana, jenderal manakah lagi yang akan menjadi “pelindung politik” HT selain jenderal yang berada sekitar Jokowi. Akhirnya HT kembali dalam pangkuan Mister Whisky —julukan Jenderal Wiranto. Betul apa tidak silakan tanya sama Itje Trisnawati karena itu juga judul lagunya.

Tafsir lain, ada juga yan mengatakan hal itu terkait bisnis HT yang sedang mengalami krisis. Untuk meningkatkan harga saham perusahaannya, tak ada petir dan tak ada gempa, HT bikin pernyataan bakal mendukung Jokowi dalam pemilihan presiden 2019. Ya atau tidak asumsi ini mari tanya Iwan Fals, sebab Ya atau Tidak adalah judul lagunya Iwan.

Sudahlah, kita simpan saja semua asumsi dan tafsir politik itu. Sepertinya semua itu betul. Tapi apa hubungan semuanya ini dengan Tsamara Amany? Karena oh karena, Tsamara lewat akunnya @TsamaraDKI menertawai judul berita Kongres Partai Perindo akan Usulkan Jokowi sebagai Capres 2019.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Maaf, ini lucu” gelak Tsamara.

Lalu Tsamara berkomentar dan bertanya kepada pengikut dan teman-temannya di jagat twitter.

“Seorang Hary Tanoe yang selama ini punya sikap bersebrangan dengan Presiden Jokowi, bisa tiba-tiba ingin mencapreskan itu kenapa bro & sis?” tanya Tsamara.

Tsamara, maaf, dunia politik itu memang lucu. Asyik nggak asyik, dunia politik yang kini sedang dijalankan Tsamara, politisi Partai Solidaritas Indonesia. Dalam perjalanannya, setelah menjadi politisi, berharap kelak Tsamara menjadi negarawan melampaui HT, Prabowo, dan SBY. Apa pula  itu negarawan?

Cendekiawan bangsa Sir Azyumardi Azra (2017) mengutip J Rufus Fears, guru besar sejarah, memaparkan, untuk jadi negarawan, pemimpin perlu memiliki dan menampilkan empat kualitas penting. Pertama, prinsip yang teguh dan tak berubah pada kebenaran. Seorang gagal menjadi negarawan jika dia tak memiliki prinsip yang bertitik tolak dari kebenaran karena kepentingan politik sesaat. Kedua. panduan moral dan etis yang kuat. Seorang gagal jadi negarawan jika dia adalah relativis yang mudah mengubah kebenaran moral dan etis.

Ketiga, visi yang jelas tentang ke arah mana negara-bangsa mau dibawa. Negarawan visioner tahu hal yang harus dia lakukan untuk membawa negara dan rakyatnya ke kemajuan. Keempat, kemampuan membangun konsensus untuk mewujudkan visi kemajuan. Seorang pemimpin gagal menjadi negarawan jika dia justru menimbulkan perpecahan dan konflik internal bangsa sehingga menciptakan keadaan tidak kondusif bagi kemajuan negara dan rakyatnya.

Selamat berjuang menjadi negarawan, duhai Tsamara.

 

Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.