Jumat, Desember 4, 2020

Ketika Selera Tidak Sesuai Salary

Menyoal Kegundahan Harga Tiket Pesawat

Pemerintah secara tiba-tiba kembali mengumumkan akan menurunkan tarif tiket pesawat pada (20/06) melalui rapat yang dipimpin oleh Menko Perekonomian. Hal ini dilakukan menyusul banyaknya...

Jangan Menghakimi ? Bolehkah Orang Kristen Melakukannya ? (1)

Jangan Menghakimi! Jurus Andalan Orang Kristen“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan...

Ole, Belajarlah dari Sir Alex Ferguson!

Musim yang berat tengah dijalani oleh Manchester United. “bulan madu” bersama Ole Gunnar Solksjaer, pemain Setan Merah yang menjadi pahlawan saat klub ini meraih...

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*) Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh...
Adinda Paramitha
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Derasnya arus globalisasi membuka celah terhadap digitalisasi. Fenomena ‘serba digital’ diyakini telah melahirkan generasi gadget, sebutan bagi generasi millennials. Generasi milenial atau generasi Y merupakan kelompok anak muda yang lahir pada awal tahun 1980-an hingga awal 2000-an (Kominfo.go.id, 2016)

Sebagai generasi gadget, kehidupan sehari-hari mereka selalu tidak jauh-jauh dari yang namanya internet. Kecanggihan teknologi ini seolah-olah telah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang tidak dapat dipisahkan.

Kepraktisan yang ditawarkan oleh internet membuat milenial mudah mendapatkan informasi, membagikan informasi, bahkan mudah melakukan interaksi. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, bahwa dari 171,17 juta pengguna internet di Indonesia, tingkat penetrasi tertinggi didominasi oleh generasi milenial.

Kebiasaan generasi milenial dalam menggunakan internet, selain memberi dampak positif, namun juga dapat menimbulkan dampak negatif. Kebanyakan dari mereka menggunakan internet untuk melakukan transaksi, dalam bentuk apapun. Alhasil terciptalah gaya hidup baru yang dianut oleh generasi milenial, yakni gaya konsumtif.

Fakta ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Lembaga riset Snapcart tahun 2018 bahwa generasi milenial menjadi konsumen belanja online terbanyak, yakni sebanyak 80 persen. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan e-commerce untuk melakukan promosi lewat internet.

Semakin banyak pembelian yang dilakukan oleh generasi milenial, menandakan semakin dekatnya mereka dengan ciri perilaku konsumtif. Bahayanya lagi, perilaku konsumtif tidak hanya dilakukan oleh mereka yang “berduit”, namun juga mereka yang pas-pasan. Dengan dalih ‘agar keren’, mereka seolah memaksakan diri membeli sesuatu untuk sekadar mengikuti trends. Akibatnya, munculah masalah baru seperti pemborosan yang disebabkan manajemen keuangan yang buruk.

Generasi milenial yang mempunyai gaya hidup konsumtif biasanya dicirikan seperti membeli produk hanya karena kemasannya menarik; membeli produk untuk menjaga gengsi; membeli produk untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain; membeli produk yang mahal untuk meningkatkan percaya diri; membeli produk dengan iming-iming hadiah; serta banyak lagi ciri perilaku konsumtif yang dilakukan oleh mereka.

Penghargaan atau Pemborosan

Pro dan kontra mewarnai tanggapan banyak orang bahwa generasi milenial adalah generasi ‘sok kaya’ yang membeli ini-itu tanpa melihat situasi dan kondisi. Sebagian orang percaya bahwa membeli sesuatu yang diinginkan adalah bentuk dari menghargai diri sendiri, ketika sisanya menolak dan menyatakan bahwa itu adalah tindakan pemborosan.

Penghargaan pada diri sendiri atau akrab disebut self reward adalah bentuk mengapresiasi diri terhadap segala jerih payah yang telah dilalui. Dalam konteks ini, apresiasi yang banyak dilakukan generasi milenial adalah dengan membeli produk yang disukai, dengan harga yang mahal sekalipun. Mereka meyakini bahwa membeli barang mahal itu bukanlah sebuah keharusan, melainkan sebuah keperluan. Dengan membelinya, ada kepuasan tersendiri yang dialami oleh mereka.

Terlepas dari segi penghargaan atau kepuasan diri, pembelian barang mahal yang belum pasti kegunaannya adalah suatu bentuk pemborosan. Padahal, semua barang sejatinya memiliki kegunaan yang sama. Membeli baju dengan harga 300 ribu akan sama berartinya dengan baju seharga 30 ribu. Yang membedakannya adalah pada merek atau brand yang menjual baju tersebut. Ini juga tergantung pada perspektif setiap orang.

Mereka menganggap semakin mahal brand yang menjual sebuah produk, maka semakin besar tingkat percaya diri seseorang. Masalahnya adalah, apakah semua orang perlu membeli barang mahal hanya untuk mengikuti trends? Lain arti jika pembelian tersebut sesuai dengan jumlah pemasukan dana yang dimiliki.

Ironinya, generasi milenial sering mengorbankan dana yang dimiliki untuk membeli barang branded yang sangat “wow” harganya. Mereka bangga dipuji banyak orang, tanpa sadar bahwa keuangan mereka sebetulnya berada di ujung tanduk.

Tak hanya itu, perilaku konsumtif kebanyakan dialami oleh generasi muda berusia 20-an yang baru bekerja. Biasanya gaji mereka digunakan untuk sekadar bermain, nongkrong, hingga berbelanja online.

Buktinya, saya pernah mendapati teman saya yang berkuliah sambil bekerja, belum lama bekerja dia sudah bisa membeli sepatu, smartphone dan juga laptop baru dengan brand ternama yang terkenal mahal. Artinya, generasi milenial bisa melalukan transaksi dalam jumlah yang besar, di mana membuktikan bahwa tingkat konsumtif pada generasi ini sangat lah tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Pengukuran Diri

Memang, setiap orang memiliki hak untuk membeli apapun yang disukai. Tetapi alangkah lebih baiknya jika kita melakukan manajemen keuangan dan pengukuran diri. Dengan kata lain kita harus melakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum membeli sebuah produk apapun.

Misalnya, apakah produk itu penting untuk saya, apakah jika saya membeli produk tersebut saya masih bisa makan (misalnya), apakah produk tersebut akan saya gunakan dalam jangka panjang, dan masih banyak lagi pertimbangan yang harus dilakukan.

Bukan masalah pelit terhadap diri sendiri. Penghargaan atau self reward memang perlu sesekali dilakukan. Ya, sesekali saja dan bukan setiap waktu. Cara menghargai diri sendiri pun tidak melulu tentang kemewahan. Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menambah rasa sayang dan semangat terhadap diri sendiri.

Cara yang pertama, mulai dari memuji diri sendiri setiap pagi atau setiap melakukan rutinitas. Dengan pujian yang kita lontarkan artinya kita sudah menghargai diri sendiri. Kelebihan lainnya dari memuji diri sendiri adalah kita lebih berpikiran positif tentang segala sesuatu. Misalnya dengan kalimat, “Aku pasti bisa melakukan hal ini”. Dengan kalimat sederhana, kita pasti menjadi lebih tenang dan senang.

Kedua, jangan terlalu memaksakan diri. Setiap pekerjaan yang kita lakukan tentu bisa membuat kita stress. Sesekali memanjakan diri itu perlu. Maksudnya, bukan dengan tidak melakukan pekerjaan itu, ya. Memanjakan diri di sini misalnya kamu bisa beristirahat sejenak, menonton film yang kamu sukai, atau dengan membeli makan dan minum yang bisa membuat kamu lebih rileks. Dengan demikian, kita tidak akan merasa lelah dan terpaksa dalam bekerja.

Ketiga, mulai lah menyisihkan sebagian uang yang telah kita dapatkan. Pisahkan antara keperluan rutin dengan keperluan mendadak. Dengan manajemen keuangan yang baik, suatu saat kita pasti bisa membeli barang yang kita sukai tanpa memikirkan hal yang lain.

Memang tidak mudah melakukan hal-hal tersebut. Tapi setidaknya dapat lebih baik daripada tidak sama sekali. Sebagai generasi milenial, hendaklah kita lebih cermat dalam mengelola keuangan. Bersyukurlah setiap saat. Akan selalu ada yang lebih keren atau lebih kaya. Jangan selalu melihat ke atas karena tidak akan ada habisnya. Mulailah mengukur dirimu dengan baik, untuk menjadi generasi yang lebih cerdik.

Adinda Paramitha
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.