Minggu, Januari 17, 2021

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Peran TNI dalam Prakondisi New Normal

Kalau kita melihat penanganan Covid-19 di berbagai media sangat mudah kita menangkap kehadiran TNI di sana. Apalagi bila mereka mengenakan pakaian loreng yang khas....

Demokrasi Islam Khaled Abou El Fadl

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, demokrasi baik dalam wacana intelektual atau sebagai praksis politik dianggap sebagai sistem politik yang paling representatif, tak terkecuali di...

OSS Saja Tidak Cukup

Di banyak kesempatan Presiden Jokowi telah menegaskan bahwa ia menghendaki adanya perbaikan iklim usaha di Indonesia. Tujuannya jelas, yaitu peningkatan investasi yang diharapkan menggerakkan...

Kartu Merah untuk Rasisme SARA

Kasus rasisme banyak terjadi di dunia sepakbola. Padahal Induk federasi Sepakbola dunia (FIFA) sudah melakukan upaya preventif dan represif untuk menanggulangi wabah rasisme di...
Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tindakan yang dihiasi dengan kebaikan dan kemuliaan, menjunjung tinggi norma-norma yang ada di masyarakat, serta bertanggung jawab secara penuh atas semua tindakan yang telah dibuatnya.

Pelajaran untuk menanamkan sifat budi luhur sangat mudah kita peroleh dari berbagai referensi yang tersedia. Sebagai bangsa dengan kekayaan nilai seni dan budaya ketimuran yang kental, tentu tidak sulit untuk menemukan dan menyemai pelajaran berbudi luhur untuk diterapkan pada kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Berbicara mengenai seni dan kebudayaan, wayang beserta tokoh yang ada didalamnya merupakan salah satu bentuk seni dan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa kita, dimana didalamnya kaya akan nilai-nilai kehidupan yang relevan diterapkan oleh manusia lintas zaman.

Tidak terkecuali nilai-nilai budi luhur yang bisa diambil dari para tokoh wayang. Petruk salah satunya, sebagai salah satu tokoh dalam pewayangan yang juga merupakan anak dari Semar dan bagian dari Punakawan ternyata memiliki sifat-sifat budi luhur yang mampu dijadikan contoh dan relevan diterapkan oleh masyarakat modern.

Terinspirasi dari buku “Petruk Dadi Ratu” bab ke-8 karangan Suwardi Endraswara (2014), tokoh Petruk digambarkan sebagai seorang pelayan yang memiliki pemikiran visioner. Petruk dianggap mewakili golongan muda yang memiliki visi membangun yang brilian.

Disamping itu, Petruk juga memiliki sikap pasrah dan sumarah yang diyakini sebagai cikal bakal tumbuhnya sifat budi luhur. Petruk seringkali digambarkan sebagai tokoh pewayangan yang tidak tampan secara fisik. Namun dibalik itu bentuk tubuh Petruk yang unik tersebut dianggap memiliki makna filosofis budi luhur yang sangat mendalam.

Sebagai contoh, hidung panjangnya digambarkan bahwa manusia harus senantiasa meniti jalan yang lurus sebagai bekal bagi keselamatan dunia maupun akhirat. Tubuh Petruk yang cenderung membungkuk diartikan sebagai pengingat bahwa manusia harus senantiasa ingat asal usulnya dan jangan pernah lupa diri ketika diberikan nikmat oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, Petruk juga memiliki kelebihan sifat yang mulia seperti gemar membantu sesama dan sering dikatakan “mengkurep tangane dibanding mlumah” (gemar bekerja dan memberi namun jarang meminta). Masih sangat terinspirasi dari buku “Petruk Dadi Ratu” dalam setiap cerita wayang yang dipentaskan oleh Dalang, cukup sering terlintas pesan-pesan kebaikan yang mampu ditangkap dan diteladani oleh manusia zaman sekarang, diantaranya Petruk mencontohkan kepada kita untuk hidup dalam ketenangan dan jangan mencari musuh. Petruk menasehati manusia untuk menahan lawwamah (jiwa yang masih cacat cela), amarah, dan sufiyah.

Setelah mampu menahan dan menghindari nafsu tersebut, maka harus mampu untuk mempraktekkan nafsu mutmainah dan selalu memunculkan jiwa yang terang, tujuannya agar manusia bisa selamat dunia dan akhirat.

Selanjutnya, Petruk selalu mengajarkan kepada manusia agar tidak membenci ketetapan yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Petruk mengajarkan agar manusia selalu mengutamakan sifat dan sikap bersyukur atas pemberian nikmat-Nya baik secara hati, lisan, maupun sikap perilaku.

Sebuah konsep yang sederhana namun membutuhkan niat dan keikhlasan yang luar biasa ketika harus menerapkannya. Apalagi jika dikaitkan dengan zaman saat ini, dimana kehidupan terasa begitu berat dan sarat akan konflik, maka diperlukan iman dan keikhlasan yang sangat kuat untuk selalu bersyukur dalam menerima ketetapan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Petruk juga sering berkata bahwa Tuhan pasti memberikan kebahagiaan bagi ummatnya meskipun seringkali bersifat sementara. Petruk juga sering mengingatkan bahwa kebahagiaan yang kita peroleh merupakan kebahagiaan dunia yang bersifat fana dan harus selalu diimbangi dengan ibadah agar nantinya kebahagiaan itu berlanjut hingga akhirat kelak.

Secara umum Petruk berpesan bahwa manusia harus selalu berusaha  dan bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan dunia serta terus mengutamakan ibadah sebagai tabungan kebahagiaan akhirat. Ketika manusia sudah mampu mencapai kebahagiaan dunia, Petruk juga berpesan untuk tidak menjadi manusia yang serakah. Sejatinya memang ketidakpuasan dan keinginan untuk mendapatkan hal lebih menjadi sifat alami manusia, namun bukan berarti manusia harus bersikap serakah untuk mencapai tuuan kebahagiaannya.

Sifat serakah justru akan membuat tatanan kehidupan menjadi kacau dan tidak seimbang. Manusia serakah akan menindas manusia lain, manusia serakah juga akan merusak alam guna mencapai tujuan kebahagiaannya. Salah satu pengingat bagi manusia agar tidak hidup serakah adalah kematian.

Kematian merupakan konsep dan konsekuensi yang sudah pasti. Setiap yang hidup pasti akan mati, tidak peduli tua, muda, sehat, sakit, jika sudah saatnya Tuhan memanggil, maka manusia harus siap menghadap.

Konsep ini yang seharusnya bisa menjadi alarm bagi manusia bahwa ketika hidup di dunia harus mampu memberikan manfaat bagi sesama dan beribadah untuk Tuhannya. Petuah-petuah Petruk yang sering tersampaikan melalui pertunjukan kesenian wayang sejatinya masih sangat relevan dengan kehidupan manusia saat ini.

Zaman yang semakin modern dan rentan akan kepentingan masing-masing golongan cenderung merenggangkan ikatan sosial manusia serta menjadikan manusia sebagai robot-robot baru yang tidak memiliki rasa kepedulian terhadap apapun, juga menghilangkan sifat alamiah manusia sebagai makhluk yang berbudi luhur.

Khusus di Indonesia, di mana kehidupan berbangsa dan bernegara kita seringkali ternodai oleh sikap-sikap diskriminatif, konflik horizontal, dan saling curiga antar golongan masyarakat. Maka filosofi dan nasehat-nasehat Petruk patut menjadi bahan renungkan dalam upaya menanamkan sifat berbudi luhur sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat yang lurus sesuai tuntunan kepercayaan masing-masing.

Menyikapi perbedaan dengan rasa syukur, saling menghargai sesama manusia, hidup rukun berdampingan tanpa membedakan kelompok dan golongan, serta menjunjung tinggi keadilan bagi sesama masyarakat Indonesia.

Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.