Selasa, Maret 2, 2021

Ketika Persma Tak Lagi Diminati

Mahfud MD, Sosok yang Konsisten Melawan Korupsi

Jakob Sumardjo pernah menulis di kompas (9/5/2014): “korupsi adalah penggerogotan material negara, sama berbahayanya dengan penggerogotan ideologi negara …Kaum koruptor benar-benar tidak memiliki rasa...

Bu Tejo Pahlawan Pemersatu Masyarakat Kita

Film pendek Tilik yang tayang di Youtube baru-baru ini, mampu menyedot perhatian khalayak, terutama netizen yang haus akan hiburan yang menyegarkan. Film yang berdurasi...

Lenyapnya Perkenalan Nyata di Zaman Medsos

Situs atau aplikasi perjodohan/perkencanan semakin hari semakin banyak jumlahnya. Selain Tinder, ada beberapa situs sejenis yang tengah populer dan dianggap valid saat ini, antara...

Apakah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Merupakan Alternatif?

Saat ini hampir banyak masyarakat Indonesia yang memberikan tanggapan/opini-nya terkait permasalahan kejahatan kekerasan seksual yang marak beredar dan terjadi belakangan ini. Hal tersebut terjadi,...
Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang

Bagi mahasiswa baru, Pers Mahasiswa atau biasa disebut dengan persma, nampaknya masih menjadi sesuatu yang tabu di telinga. Padahal, persma sendiri berperan sebagai roda penggerak dan menjadi ‘anjing penjaga’ bagi birokrasi kampus maupun negara.

Sejarah persma mungkin telah lenyap di kalangan mahasiswa baru.  Mereka lupa bahwa, persma mempunyai sejarah panjang dalam melawan cengkeraman kolonialisme bangsa Indonesia kala itu.

Bila ditelisik lebih dalam mengenai sejarahnya, persma sudah lahir puluhan tahun sebelum universitas-universitas formal di Indonesia berdiri. Hal ini dikarenakan hingga tahun 1920-an, belum ada perguruan tinggi yang didirikan oleh rezim kolonialisme Hindia Belanda.

Akibat dari politik etis yang melanda Indonesia kala itu maka, sebagian kalangan pribumi yang bergelimang harta kemudian mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Negeri Belanda.

Melihat bangsanya menderita, sekelompok pemuda tadi berusaha melawan dengan membentuk  organisasi bernama Indische Vereniging yang, kemudian bertransformasi menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI).

Nahas, kekuatan organisasi Perhimponean Indonesia itu perlahan melemah. Perlawanan menggunakan kekuatan jurnalistik harus berakhir di tangan Belanda. Namun, sisa-sisa darah pejuang itu masih terus mengalir.

Mereka yang tersisa, terus bergerilya menyebarkan selebaran gelap untuk mempertahankan kemerdekaan. Melalui kerja jurnalistik, mereka melakukan propaganda kepada masyarakat untuk melawan penindasan dan penjajahan. Hingga akhirnya, persma kembali tumbuh dan berkembang pasca kemerdekaan.

Akan tetapi, kondisi persma hari ini sedang sakit. Gairah persma yang sempat dieluh-eluhkan mulai meredup. Hingga akhirnya, banyak aktivis persma yang berbagi keluh kesah soal rendahnya minat mahasiswa terhadap persma.

Di UIN Walisongo Semarang sendiri, minat mahasiswa baru terhadap persma mulai menurun. Persma masih kalah saing dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lain. Hal ini terjadi karena mahasiswa sekarang lebih memilih sesuatu yang praktis daripada harus berbelit-belit.

Padahal, mahasiswa dikenal sebagai makhluk yang kritis dan idealis oleh masyarakat. Dengan entitas spirit yang mengedepankan intelektualitas dan dialektika, mahasiswa diharapkan mampu menjadi sosok yang berperan penting dalam percaturan sejarah sebuah bangsa.

Namun, jika persma tidak lagi diminati mahasiswa, bagaimana nasibnya di tahun mendatang?

Perlu inovasi

Saat ini, persma sedang bertarung dengan dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan zaman. Di era kemajuan teknologi, persma harus mulai berbenah jika tidak ingin kehilangan peminat. Mereka harus berani meninggalkan cara-cara kolonial demi menarik perhatian milenial. Tentu, dengan tidak menghilangkan identitas dari jurnalisme itu sendiri.

Jurnalisme persma pun harus berani mencoba dan keluar dari zona nyaman mereka. Selain itu, persma juga perlu mengantisipasi perkembangan media yang begitu cepat. Adanya kemajuan teknologi, bisa menjadi peluang sekaligus bumerang bagi persma sendiri. Jika persma tidak siap, bisa jadi ia akan mati di era revolusi industri hari ini.

Dengan begitu, persma akan mampu menjadi pelayan bagi mahasiswa dalam menyalurkan aspirasinya. Secara tidak langsung pun, persma tidak lagi dipandang sebagai macan ompong yang hanya bisa mengaum di dalam kandang.

Kesadaran menulis

Bisa dibilang, kesadaran mahasiswa dalam bidang penulisan cukup rendah termasuk anggota persma sendiri. Mereka masih menganggap dogma jurnalistik sebagai sesuatu yang menyeramkan. Yang terjadi selanjutnya, kegiatan tulis-menulis, perlahan namun pasti, dihindari.

Kesadaran sebagai persma yang notabene menjadi bagian daripada jurnalisme, umumnya belum sepenuhnya disadari. Mereka lupa bahwa, kesadaran menulis tidak bisa tumbuh begitu saja. Menulis bukan sekedar untuk mengisi rubrikasi yang masih kosong, namun juga diniatkan untuk melawan kedunguan dan kedangkalan berpikir. Menulis juga tidak perlu muluk-muluk untuk mendapat riuhan tepuk tangan dan imbalan.

Permasalahan itu pun semakin rumit manakala, kesadaran menulis dipahami hanya sebagai penggugur kewajiban semata. Tanpa sadar bahwa dirinya sedang berproses untuk menjadi seorang penulis. Sebaliknya, kesadaran menulis juga harus diolah sejak dini untuk mengasah sensivitas indrawi.

sumber foto: angkringanwarta.blogspot.com

Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.