Senin, April 12, 2021

Ketika Perempuan Mengumandangkan Azan

Si Patai, Robin Hood dari Ranah Minang

Jika di Inggris mengenal sosok Robin Hood sebagai seorang penjahat berhati mulia, Betawi mengangkat sosok Si Pitung dengan dalih yang sama, Kota Padang juga...

Responsifitas Islam di Indonesia Terhadap Radikalisme

Situasi mutakhir kehidupan sosial, politik dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur tengah saat ini mencerminkan telah banyaknya krisis sosial, konflik, pergolakan dan perang yang mengikis psikis...

Masa Depan Buruh di Indonesia

Kebebasan berkespresi setiap warga negara dalam menyampaikan aspirasi diberi ruang seluas-luasnya di era demokrasi saat ini. Banyak cara dilakukan oleh warga negara agar aspirasinya...

Readhaton; Ikhtiar Membangkitkan Motivasi Membaca

Semenjak launchingnya Program Purwakarta Membaca Setiap Hari (PURBASARI), oleh Dinas Pendidikan yang di gagas langsung Kang Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) bila kita kutip dari...
Nasrullah Ainul Yaqin Mustari
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategik.

Jumhur Ulama sepakat bahwa suara perempuan bukan aurat, karena para sahabat perempuan dahulu sering kali mendengarkan suara istri-istri Nabi saw. ketika belajar hukum-hukum agama (Islam). Namun demikian, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhû (1985, I: 595), perempuan haram memperdengarkan suaranya dengan didendangkan atau dilagukan karena takut akan timbul fitnah. Tentu pendapat ini lahir dari situasi dan kondisi masyarakat tertentu. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia, di mana mereka sekarang sudah terbiasa dengan lantunan suara-suara perempuan yang sangat indah menawan, baik ketika membaca salawat, kasidah, mau pun membaca lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. Selain itu, tidak sedikit perempuan yang memberikan suaranya secara langsung kepada khalayak ramai untuk mensosialisasikan ajaran agama, seperti para ustazah yang berdakwah. Bahkan beberapa bulan yang lalu terlaksana Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), di mana hal ini semakin menegaskan eksistensi dan keterlibatan perempuan dalam masalah sosial keagamaan. Sehingga seindah, semerdu, dan semenawan apa pun suara yang dilantunkan oleh perempuan ketika melantunkan salawat atau kasidah, seperti Mayada, Sulis, dan Wafiq, masyarakat menikmatinya sebagai sebuah keindahan, bukan sebagai suara perangsang yang mengundang birahi.

Dengan demikian, lalu apa masalahnya kalau perempuan mengumandangkan azan bagi khlayak ramai, sebagaimana biasa dilakukan oleh laki-laki? Barangkali akan muncul pernyataan, masalahnya karena perempuan dilarang mengumandangkan azan dalam ajaran Islam. Kalau begitu, pertanyaannya adalah, ajaran Islam yang dipahami oleh siapa dan kalangan mana dulu yang melarang perempuan mengumandangkan azan. Syi’ah-kah? Sunni-kah? Ahmadiyah-kah? Wahabi-kah? Kalau oleh kalangan Sunni, Ḥanafiyah-kah? Mâlikiyah-kah? Syâfi’iyah-kah? Ḥanabilah-kah? Sarekat Islam-kah? Muhammadiyah-kah? NU-kah? Persis-kah? MUI-kah? Al-Irsyad-kah? Nahdlatul Wathan-kah? LDII-kah? MTA-kah? JIL-kah? FPI-kah?

Begini, meski pun Wahbah az-Zuḥailî mengatakan bahwa perempuan tidak disyariatkan untuk mengumandangkan azan dan suaranya dapat menimbulkan fitnah—sehingga haram (tidak boleh) mengumandangkan azan (1985, I: 541), namun menurut Sayyid Sâbiq dalam Fiqh as-Sunnah (I: 84), dahulu siti ‘Âisyah  ra. pernah mengumandangkan azan untuk kalangan perempuan, ikamah, dan kemudian mengimami salat. Dari kedua keterangan ini dapat dipahami bahwa praktik (pensyariatan) perempuan mengumandangkan azan untuk umum (laki-laki dan perempuan) belum pernah dilakukan pada zaman Nabi saw. Akan tetapi praktik (pensyariatan) perempuan mengumandangkan azan untuk kalangan perempuan sendiri sudah pernah dilakukan oleh siti ‘Âisyah  ra. Berdasarkan hadis siti ‘Âisyah ra. ini, maka Imam asy-Syâfi’î dan Imam Isḥâq membolehkan perempuan mengumandangkan azan dan ikamah bagi kalangan (perempuan) sendiri. Begitu pula dengan Imam Ahmad yang menyatakan kebolehan perempuan mengerjakan hal itu (mengumandangkan azan bagi kalangan perempuan sendiri) dan juga boleh apabila ingin meninggalkan(tidak mengerjakan)nya. Sementara Imam Anas, Imam Ḥasan, Imam Ibn Sirrîn, Imam an-Nakh’î, Imam aś-Śaurî, Imam Mâlik, Imam Abû Śaur, dan kalangan ahl ar-ra’y seperti Imam Abû Ḥanîfah memberikan pendapat yang sama bahwa perempuan tidak usah mengumandangkan azan bagi kalangan perempuan sendiri (I: 83-84).

Selain itu, Imam Al-Jazîrî menjelaskan dalam Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah (2011, I: 271), secara jelas tentang status hukum perempuan mengumandangkan azan bagi khalayak ramai (umum) dalam perspektif empat mazhab. Mazhab Mâlikî, Syâfi’î, dan Ḥanbalî sepakat bahwa perempuan tidak boleh (haram) mengumandangkan azan. Dalam hal ini mengumandangkan azan untuk kepentingan umum (laki-laki dan perempuan), sebagaimana biasa dilakukan oleh muazin laki-laki di masjid atau pun di langgar-langgar. Tidak lain dan tidak bukan karena salah satu syarat muazin adalah laki-laki, bukan perempuan. Sementara mazhab Ḥanafî (Ḥanafiyyah) menyatakan bahwa syarat laki-laki dalam mengumandangkan azan yang diberikan oleh jumhur tersebut bukan syarat sahnya azan. Oleh karena itu, azan yang dikumandangkan oleh perempuan, orang banci, orang kafir, orang gila, dan orang mabuk tetap sah. Dan ketika salah satu dari mereka mengumandangkan azan, maka gugurlah kewajiban orang-orang lain untuk mengumandangkan azan. Sehingga mereka tidak berdosa meski pun tidak ikut mengumandangkan azan. Namun demikian, tidak sah apabila bersandar kepada kabar atau berita yang diberikan oleh orang kafir, orang fasik, dan orang gila dalam menentukan waktu salat. Hal ini karena syarat utama yang diberikan untuk menentukan waktu salat adalah muazin Islam dan adil—walau pun dia seorang perempuan, serta juga harus berakal, tamyiz, dan tau (mengerti) terhadap jadwal waktu-waktu salat. Perempuan dilarang mengumandangkan azan apabila terdapat hal-hal yang dapat mengundang syahwat bagi orang-orang yang mendengarnya, di mana alasan ini bagi penulis sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang mengingat sudah begitu banyak perempuan-perempuan yang melantunkan salawat dan kasidah-kasidah begitu merdunya yang tersebar di khalayak ramai.

Dalam hal ini, penulis sendiri lebih setuju dengan pendapat kalangan Ḥanafiyyah yang menyatakan bahwa syarat muazin adalah muslim yang adil, baik laki-laki mau pun perempuan. Karena apabila melihat ketentuan teks hadis yang biasa dijadikan pijakan dalam menetapkan disyariatkannya azan dalam Islam (1985, I: 533-534), maka ia berlaku secara umum, yaitu bagi laki-laki dan perempuan, sebagaimana hadis “iżâ ḥaḍarat aṣ-Ṣalâh, fa al-yuażżin lakum aḥadukum, wa al-yaummakum akbarukum” (ketika waktu salat telah tiba, maka hendaklah azan salah satu dari kalian untuk kalian semua dan hendaklah yang menjadi imam adalah orang yang “tertua” di antara kalian), di mana kalimat aḥadukum (salah satu dari kalian) secara jelas menggunakan redaksi jamak, sehingga ia tidak hanya terbatas kepada laki-laki saja, namun juga berlaku kepada perempuan. Meski pun praktiknya dahulu ketika masa Nabi saw. banyak dilaksanakan oleh laki-laki, maka hal ini karena alasan situasi dan kondisi yang masih menghendaki demikian. Oleh karena itu, seiring dengan bergulirnya waktu dan perubahan situasi dan kondisi masyarakat yang semakin “melek” pengetahuan, di mana antara laki-laki dan perempuan sama-sama diberikan peluang dalam ranah publik, maka sudah bukan hal yang tabu lagi—apalagi merupakan sebuah keburukan yang harus dilarang—apabila azan juga dikumandangkan oleh merdunya suara perempuan.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perempuan sejatinya memiliki hak untuk mengumandangkan azan. Apalagi dalam konteks Indonesia, suara perempuan sudah tidak menjadi masalah lagi dan keempat mazhab fikih (Ḥanafî, Mâlikî, asy-Syâfi’î, dan Ḥanbalî) sama-sama diakui oleh Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi terbesar di Indonesia, di mana ke empat mazhab itu menurut Imam asy-Sya’râni dalam al-Mizân al-Kubrâ, sama-sama bertemu pada titik (kebenaran) yang satu, yaitu syariat Islam yang bersumber dari Allah. Sehingga siapa pun yang mengikuti salah satu di antara mereka akan sampai jua kepada surga. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

Nasrullah Ainul Yaqin Mustari
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.